preloader
Blockchain (Bagian 2): Supply Chain Collaboration Berbasis Platform

Blockchain (Bagian 2): Supply Chain Collaboration Berbasis Platform

Ada berbagai macam bentuk /jenis kolaborasi dalam Supply Chain, mulai dari prinsip arm-length, strategic sourcing, Just-In-Time, VMI. Strategi yang lebih efisien, yang lebih terintegrasi dibanding bentuk kolaborasi konvensional adalah kolaborasi berbasis platform. Lebih tepatnya adalah blockhain-based platform di mana semua pihak di dalam Supply Chain saling terhubung. Tentunya kondisi ideal ini selalu diimpikan sejak puluhan tahun lalu, di mana dampak positifnya adalah mengurangi bullwhip effect.

Maersk, sebagai perusahaan shipping terbesar di dunia, bekerja sama dengan IBM dalam mengembangkan ekosistem bisnis supply chain memanfaatkan platform, namanya TradeLens. Maersk tidak sendirian, bersama dengn CMA CGM, Cosco, Evergreen Marine, OOCL, Yang Ming, beserta operator terminal DP World, Hutchison, PSA International, dan Shanghai International Port, membentuk kerjasama yang disebut dengan Global Shipping Business Network (GSBN). Contoh pesaing dari kolaborasi ini adalah Accenture dengan American President Lines (APL), Kuehne + Nagel, dan AB InBev.

Bentuk kolaborasi antar perusahaan shipping sendiri sebenarnya sudah dimulai sejak lama. Salah satu tujuannya adalah mencapai economy of scale dalam pengiriman kontainer.

Dengan kerjasama ini, semua pihak (perusahaan dan konsumen) dapat berinteraksi lebih efisien, mengefisienkan proses administrasi, memonitor data pengiriman secara real time, memudahkan proses audit, karena semua data sudah tersedia tanpa ada manipulasi.

Berbagai jenis barang yang dikirim antar negara dan antar benua sudah teridentifikasi siapa pembuatnya, apakah proses produksinya sesuai standar, apakah sudah ada perijinan terkait dangerous goods, ataupun hazardous material, status pembayaran biaya transportasi, pajak, dan lain sebagainya.

Selain itu, secara real time pula setiap perusahaan di dalam konsorsium GSBN dapat memantau tingkat utilitas kapal dan kontainer. Tentunya data ini dapat diolah untuk memperkirakan (forecast) kebutuhan kapasitas kapal, menghitung biaya yang ditanggung setiap perusahaan, sampai mendeteksi potensi perdagangan di setiap negara atau kawasan tertentu, misalnya kawasan Asia Tenggara.

Tentunya kolaborasi seperti ini butuh kepercayaan antar perusahaan dan kesepakatan, terutama ketika perusahaan-perusahaan yang bersaing dituntut untuk bekerjasama dalam proses bisnisnya. Bisa saja masing-masing perusahaan memiliki strategi pemasaran berbeda dalam merangkul konsumen dan menjual produknya, namun dalam proses bisnis supply chain, mereka bekerjasama.

Terlebih ketika di dalam kolaborasi ini ada satu atau dua perusahaan dengan market share terbesar, tentunya harus dicegah munculnya kondisi di mana perusahaan pesaing “berdiri” di atas perusahaan yang lebih kecil. Sama seperti kolaborasi konvensional di mana setiap perusahaan saling bekerja sama pada beberapa bagian dari proses bisnis mereka, bahkan saling membantu, misalnya dalam melakukan improvement.

Perlu diingat bahwa salah satu karakter blockchain adalah no single ownership dari transaksi, sehingga setiap pihak memiliki “suara” yang setara. Dengan kata lain, adanya demokratisasi dalam bertransaksi. Kesetaraan ini yang perlu diperluas kepada setiap pihak yang terlibat, agar tidak muncul perusahaan besar yang “mengatur” perusahaan kecil di dalam kolaborasi.

Dengan kolaborasi ini, tantangan berikutnya adalah competitive advantage apa yang terbentuk dari kolaborasi baru dibandingkan dengan value di mana setiap perusahaan berjuang masing-masing. Terlebih ketika dihadapkan pada isu Hak Cipta atau Intellectual Property (IP).

Jika inisiator kolaborasi memegang penuh IP, bagaimana peran dari perusahaan-perusahaan lain yang ikut serta? Tidak heran, dengan hadirnya isu IP ini, memang sulit di masa awal untuk membentuk kolaborasi berbasis platform, namun menyediakan banyak keuntungan di masa depan.

TradeLens sendiri menganjurkan bahwa platform yang ada bukan sebatas digunakan oleh Maersk saja, namun diharapkan dapat menjadi acuan bagi berbagai industri di supply chain agar mengadopsi kolaborasi berbasi platform. Bukan saja bagi industri kapal ataupun logistik, tapi juga industri ritel, konsumsi, pariwisata, dan lainnya.

Jika selama ini kita berpikir bahwa persaingan adalah antar supply chain, bukan tidak mungkin di masa mendatang adalah persaingan antar kolaborasi supply chain berbasis data.

*Tulisan ini dimuat di SWA Online

Ricky Virona Martono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *