
7 Pelajaran Kepemimpinan yang Bisa Dipelajari Pria dari Wanita
Meskipun sebagian besar posisi puncak dalam perusahaan/organisasi masih didominasi oleh pria, penelitian menunjukkan bahwa justru wanita yang memiliki keterampilan yang diperlukan untuk memimpin dengan efektif. Wah! Koq bisa?!
Hal tersebut lantas menimbulkan pertanyaan, apakah kita (baik pria maupun wanita) seharusnya meminta wanita untuk bersikap lebih seperti pria dalam mencapai kesuksesan, atau justru pria yang perlu mencontoh gaya kepemimpinan wanita? Jawabannya jelas, bahwa ada banyak pelajaran berharga yang bisa dipelajari pria dari wanita dalam hal kepemimpinan.
Berikut adalah tujuh pelajaran besar yang dapat dipetik pria dari para pemimpin wanita.
1. Jangan Sekadar “Lean In” Tanpa Memiliki Bakat yang Mendukung
Frasa “lean in” sering kali digunakan untuk mendorong wanita agar lebih agresif dan percaya diri dalam karir mereka. Namun, berani mengambil tempat tanpa memiliki bakat dan kompetensi yang memadai bisa berakibat buruk, tidak peduli siapa yang melakukannya (pria atau wanita). Adapun memang wanita cenderung lebih berhati-hati dalam menilai keterampilan diri sendiri dan memastikan bahwa mereka benar-benar siap sebelum melangkah ke posisi kepemimpinan.
Pelajaran penting di sini adalah, siapkan diri sebaik mungkin sebelum mengambil peluang besar. Alih-alih fokus pada bagaimana menonjolkan diri, penting bagi pria (atau wanita) untuk mengasah keterampilan yang dibutuhkan dalam mendukung posisi mereka.
2. Kenali Batasan Diri
Salah satu kualitas kepemimpinan yang sering ditonjolkan wanita adalah kesadaran terhadap batasan diri. Pemimpin wanita cenderung lebih terbuka untuk mengakui bahwa mereka tidak tahu segalanya, lalu lebih terbuka untuk belajar. Mereka cenderung tidak menganggap mengakui kelemahan sebagai tanda kelemahan tapi sebagai peluang untuk bertumbuh dan berkembang.
Di sisi lain, pria seringkali terjebak dalam keyakinan bahwa sebagai pemimpin, mereka harus mengetahui segalanya. Namun demikian, mengetahui batasan diri adalah kekuatan, bukan kelemahan. Dengan memahami dan menerima keterbatasan, para pemimpin bisa lebih terbuka untuk belajar dari orang lain, menerima saran, dan bekerja secara kolaboratif untuk mencapai hasil terbaik.
3. Motivasi Melalui Transformasi, Bukan Hanya Target
Kepemimpinan transformasional yang sering diidentifikasi sebagai kekuatan wanita berfokus pada menginspirasi dan memotivasi tim untuk berkembang, belajar, dan menjadi lebih baik. Wanita sering kali lebih terampil dalam membangun hubungan yang mendalam dengan tim mereka, memahami apa yang memotivasi setiap individu, dan menciptakan visi bersama yang mendorong semua orang menuju tujuan bersama.
Sebaliknya, banyak pemimpin pria cenderung lebih fokus pada hasil akhir dan target yang perlu dicapai. Pelajaran yang bisa diambil dari wanita di sini adalah bahwa motivasi tidak selalu datang dari target yang jelas, namun juga dari transformasi yang dirasakan oleh anggota tim dalam perjalanan mereka. Pemimpin yang baik harus mampu menginspirasi tim untuk tumbuh bersama, bukan hanya mengejar angka semata.
4. Pikirkan Orang Lain Sebelum Diri Sendiri
Satu hal yang sering menjadi ciri khas kepemimpinan wanita adalah kemampuan mereka untuk menempatkan kesejahteraan tim di atas kepentingan pribadi. Wanita cenderung lebih memperhatikan kebutuhan anggota tim, memastikan mereka memiliki dukungan yang diperlukan untuk sukses, baik dari segi emosional maupun profesional. Mereka memahami bahwa keberhasilan tim berbanding lurus dengan keberhasilan mereka sebagai pemimpin.
Di sisi lain, beberapa pria dalam posisi kepemimpinan mungkin lebih fokus pada tujuan pribadi atau ingin menunjukkan superioritas mereka. Pemimpin yang hebat harus mengutamakan tim mereka terlebih dahulu, memastikan bahwa setiap anggota merasa didengar, dihargai, dan didukung.
5. Jangan Memerintah, Berempatilah
Wanita dikenal memiliki kemampuan yang lebih baik dalam berempati dan memahami sudut pandang orang lain. Empati adalah alat kepemimpinan yang sangat kuat karena memungkinkan pemimpin untuk memahami kebutuhan dan perasaan orang lain, yang pada akhirnya membantu dalam pengambilan keputusan yang lebih baik dan menciptakan hubungan yang lebih kuat dalam tim.
Pria seringkali terjebak dalam gaya kepemimpinan yang bersifat memerintah atau otoriter, di mana mereka merasa perlu menunjukkan otoritas mereka dengan cara yang keras. Namun, kepemimpinan yang berbasis empati lebih efektif dalam jangka panjang. Dengan berempati, pemimpin dapat memahami tantangan yang dihadapi tim mereka, dan ini dapat memfasilitasi solusi yang lebih efektif dan produktif.
6. Fokus Pada Meninggikan Orang Lain
Salah satu kunci keberhasilan wanita dalam kepemimpinan adalah kemampuan mereka untuk fokus pada meninggikan orang lain. Mereka cenderung tidak berusaha menjadi pusat perhatian, melainkan memberikan panggung kepada orang-orang di sekitar mereka untuk bersinar. Ini adalah bentuk kepemimpinan yang sangat kuat, karena ketika seorang pemimpin membantu orang lain mencapai potensi penuh mereka, tim secara keseluruhan menjadi lebih kuat.
Pria sering kali merasa perlu membuktikan keunggulan mereka sebagai pemimpin. Namun, pelajaran dari wanita di sini adalah bahwa kepemimpinan yang hebat tidak selalu tentang memimpin dari depan, namun juga tentang mendukung tim dari belakang dan memastikan mereka mendapatkan kesempatan untuk bersinar.
7. Jadilah Rendah Hati
Kerendahan hati adalah kualitas lain yang sering terlihat pada pemimpin wanita. Mereka lebih terbuka untuk mengakui kesalahan, belajar dari orang lain, dan mendengarkan ide-ide yang berbeda. Kerendahan hati tidak hanya membantu menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif namun juga menunjukkan kepada tim bahwa pemimpin mereka adalah manusia yang bisa belajar dan tumbuh bersama mereka.
Banyak pemimpin pria mungkin merasa bahwa mengakui kesalahan atau bersikap rendah hati adalah tanda kelemahan. Namun, kerendahan hati adalah tanda kekuatan, karena itu menunjukkan keberanian untuk belajar dan berkembang. Seorang pemimpin yang rendah hati menciptakan budaya di mana belajar dari kegagalan menjadi bagian dari proses menuju kesuksesan.
Jadi, meskipun jumlah pria di posisi kepemimpinan masih mendominasi, ada banyak pelajaran berharga yang dapat diambil dari wanita dalam hal kepemimpinan. Wanita cenderung lebih empatik, fokus pada orang lain, dan memiliki pendekatan yang lebih kolaboratif dalam memimpin tim. Mereka juga cenderung lebih rendah hati dan lebih memahami pentingnya membangun hubungan yang kuat dengan tim.
Sebagai pemimpin, penting bagi pria untuk mulai mengadopsi beberapa pelajaran ini, karena kepemimpinan bukanlah soal gender tapi soal efektivitas dan hasil yang dicapai. Dengan mempelajari cara wanita memimpin, pria dapat memperluas pendekatan mereka, menjadi lebih inklusif, dan menciptakan tim yang lebih dinamis serta sukses.
Pada akhirnya, kepemimpinan yang efektif adalah tentang menciptakan lingkungan di mana setiap orang dapat berkembang —dan itu adalah sesuatu yang bisa dipelajari dari siapa saja, terlepas dari gender mereka.
Baca Juga
- Keuntungan Berinvestasi ORI, Mengapa Anda Harus Mempertimbangkannya?
- Belajar dari Blunder Abidzar, Bagaimana Komunikasi Publik Memengaruhi Branding Film Business Proposal
- Elemen-Elemen Kampanye Cause Marketing yang Efektif di Media Sosial
- 10 Taktik Meluncurkan Produk Menggunakan Media Sosial
- Cara Sederhana untuk Memodernisasi Rantai Pasokan
- PPM School of Management