Plus-Minus Pembelajaran Daring

Setidaknya ada tiga hal yang diperlukan untuk memastikan bahwa materi e-learning yang akan dipelajari tidak membosankan, namun menyenangkan, melibatkan pembelajar untuk melakukan sesuatu yang spesifik dan dapat membantu pekerjaan mereka. Dikenal dengan Ketiga hal etrsebut dikenal AFT Model, yaitu action, feedback dan trigger.

RAHADI CATUR YUWONO
Odoo image and text block




Oleh: Rahadi Catur Yuwono M.M. Marketing Manager Online Learning PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di Majalah Sindoweekly No. 48 Tahun VII, 28 Januari-3 Februari 2019, hlm. 82

E-LEARNING punya manfaat yang cukup besar. Mulai dari fleksibilitas waktu dan tempat, efisiensi biaya transportasi dan akomodasi, serta peningkatan retensi pengetahuan karena sifatnya yang bisa dipelajari berulang-ulang dan lain sebagainya. Namun, hal tersebuta tak lantas menjadikan metode pembelajaran dalam jaringan ini tidak mempunyai cela.

Setidaknya, ada dua tantangan dalam proses belajar dengan metode ini, yaitu experiential learning dan engagement. Dua aspek ini menjadi sangat krusial dalam proses pembelajaran, khususnya untuk pembelajar dewasa (adut learner).  

Disisi lain, e-learning mempunyai tantangan dalam mencapai hal-hal tersebut. Sebagai contoh, tidak sedikit para pembelajar merasa terisolasi lantaran tidak adanya interaksi dengan sesama pembelajar bahkan dengan instruktur. Ditambah lagi proses pembelajaran e-learning sering sekali tidak memberikan ruang bagi pembelajar untuk menerapkan apa yang sudah dipelajarinya.

Kebanyakan modul-modul daring hanya bersifat satu arah. Para pembelajar hanya diminta untuk menonton dan membaca materi yang diberikan sehingga para pembelajar merasa bosan dan berakibat pada tingkat kelulusan dari metode pembelajaran dalam jaringan ini rendah. Suatu riset pada metode massive open online courses (MOOCs) menunjukkan bahwa 85-96% pembelajar tidak menyelesaikan kursus dalam jaringan tersebut.

Nah, ketika seorang pembelajar diberikan kesempatan untuk menerapkan sesuatu yang berkaitan dengan apa yang mereka pelajari sehingga mereka mempunyai pengalaman terhadap apa yang mereka lakukan, hal tersebut diyakini dapat berpengaruh terhadap kinerja dan produktivitas mereka di tempat pekerjaannya.

Lalu, ketika seorang pembelajar diberikan kesempatan untuk terlibat langsung dalam proses pembelajaran, seperti adanya umpan balik dari fasilitator, ataupun dukungan berupa reminder dari admin, hal ini juga diyakini dapat berpengaruh terhadap bagaimana mereka bisa memelihara dan menjaga pengetahuan yang sudah didapat, keinginan untuk menyelesaikan seluruh materi dan mencari kesempatan untuk mengikuti program pembelajaran selanjutnya. Oleh karena itu, dua hal inilah yang perlu dijawab oleh pembelajaran dengan metode dalam jaringan.

Setidaknya ada tiga hal yang diperlukan untuk memastikan bahwa materi e-learning yang akan dipelajari tidak membosankan,  namun menyenangkan, melibatkan pembelajar untuk melakukan sesuatu yang spesifik dan dapat membantu pekerjaan mereka.

Dikenal dengan Ketiga hal etrsebut dikenal AFT Model, yaitu action, feedback dan trigger. Yang pertama adalah action. Experiential e-learning mempunyai peran dan fungsi bagaimana materi yang diberikan tidak hanya sekedar melihat atau menyimak materi yang dipelajari, namun meneruskannya ke suatu perintah khusus. Para pembelajar diminta untuk melakukan kegiatan atau pekerjaan. Dalam hal ini materi e-learning didesain dengan mengembangkan suatu action, atau tindakan berdasarkan materi pembelajaran yang telah mereka terima. Sebagai contoh, katakanlah Anda sedang mengikuti pelatihan berbasis daring dengan topik business presentation skilss. Setelah Anda mempelajari materi-materi pada program tersebut, Anda diminta untuk mengunggah video saat melakukan presentasi kepada audiens dengan menerapkan langkah-langkah teknik presentasi yang sudah dipelajari pada materi tersebut.

Kedua, feedback. Feedback atau umpan balik merupakan langkah awal dalam hal engagement atau keterlibatan dalam proses pembelajaran. Pada tahap action sebelumnya, para pembelajar diminta untuk melakukan sesuatu, setelah hal tersebut dilakukan, giliran feedback menjadi sangat penting terhadap kesuksesan pembelajaran selanjutnya. Umpan balik baiknya dilakukan oleh pihak yang memang ahli di bidangnya. Bisa dari atasan, rekan kerja ataupun dari pihak luar, misalkan trainer dari penyedia jasa e-learning. Namun, tidak semua penyedia jasa e-learning memberikan pelayanan ini. Tidak jarang mereka hanya memberikan materi e-learning saja tanpa difasilitasi dan dibimbing oleh tenaga pengajar atau trainer.

Ketiga, trigger. Dalam metode pembelajaran dalam jaringan, trigger biasanya berupa pesan notifikasi yang diberikan otomatis oleh suatu aplikasi ataupun staf admin (learning support) atau bahkan tenaga pengajar atau atasan langsung dengan tujuan memberikan informasi mengenai apa saja yang telah mereka pelajari dan mengingatkan batas waktu pengumpulan tugas serta ujian.