Penerapan “Creative Matrix” pada Duitin

Sampah menjadi masalah yang tak henti-hentinya menimpa beberapa negara termasuk di Indonesia.Bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya kesejahteraan ternyata juga tidak menyelesaikan masalah sampah.

ANNISA KUSUMAWATI
Odoo image and text block





Oleh: Annisa Kusumawati – Consultant & Trainer PPM Manajemen


*Tulisan ini dimuat di Majalah Pajak Vol LXXXIII | 2021

 

Tahun 2020 dilaporkan terdapat 678 juta ton sampah di Indonesia. Padahal, KLHK menargetkan sampah harus berkurang 30 persen padatahun 2025 (www.menlhk.go.id).

Pemerintah RI melalui kebijakan dan beberapa program pengelolaan sampah belum berhasil menyelesaikan perkara sampah secara efektif. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah menetapkan tanggal 21 Februari sebagai Hari Sampah Nasional. Tujuannya, untuk menimbulkan kesadaran masyarakat terhadap penting pengelolaan sampah.

Beberapa organisasi profit dan nonprofit membantu program pemerintah mereduksi sampah. Unilever, misalnya, mempunyai unit khusus seperti Environment and Sustainability yang membuat program-program pengelolaan sampah, mulai dari pemberian edukasi kepada masyarakat, sampai daur ulang kemasan bekas pakai produk-produk Unilever. Unilever juga dibantu oleh organisasi-organisasi nonprofit seperti Waste4Change dalam melakukan beberapa program kerja mereka terkait pengelolaan sampah.

Untuk bisa mencapai target tahun 2025, diperlukan upaya bersama dari masyarakat, pemerintah, organisasi, untuk bergerak dan sinergi mengelola sampah. Di atas sekilas dipaparkan beberapa program pemerintah dan organisasi masih terus berjalan. Lalu, kiranya apa yang bisa dilakukan masyarakat “biasa” untuk berjalan bersama mengurangi sampah?

Mari kita ambil contoh dari penerapan konsep creative matrix untuk “menyelesaikan masalah sampah di Indonesia’.

Apa itu creative matrix? Creative Matrix adalah bagian dari konsep design thinking di mana kita mencoba berempati mengenai dampak sampah apabila terus menerus dibiarkan. Itu bisa berupa pencemaran lingkungan, masalah kesehatan, pencemaran tanah, dan masih banyak lainnya.

Lalu bagaimana kita memulai munculkan solusi permasalahan sampah dengan menggunakan konsep ini? Hal pertama yang dilakukan adalah menentukan topik permasalahan yang akan dicarikan solusinya. Tujuannya adalah kita ingin mengeksplorasi sebanyak mungkin ide dan solusi.

Langkah kedua adalah menentukan enablers, yaitu kategori atau poin-poin yang akan memungkinkan diangkatnya permasalahan. Langkah terakhir adalah menentukan solusi apa pun terkait dengan topik permasalahan dan enablers yang sudah ditentukan.

Aplikasi Duitin adalah contoh nyata dari penerapan konsep creative matrix ini. Duitin adalah ajakan untuk memilah (mengelompokkan) dan mengumpulkan sampah rumah tangga, mulai dari sampah plastik, sampah kaca, dan sampah kertas. Masyarakat diajarkan untuk memilah sampah berdasarkan jenisnya untuk diberikan kepada picker (pemungut) Duitin. Picker Duitin kemudian membantu distribusi sampah yang sudah terpilah kepada para pabrik pencacah. Saat ini jasa aplikasi Duitin tersedia di beberapa kota secara gratis.



Creative matrix bisa dikombinasikan dengan beberapa konsepteknik berpikir kreatif untuk memuncul ide, salah satunya adalah brainstorming. Adapun enablers yang tertera di atas tidaklah baku, bisa disesuaikan dengan topik permasalahan yang ingindicarikan solusinya.

Sudah saatnya kita berkontribusi nyata bagi bumi.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.