Mendampingi Optimisme Masyarakat

Kebijakan pemerintah harus disertai dengan kemampuan untuk mendampingi masyarakat dalam membangun optimisme.

ARIES HERU PRASETYO
Odoo image and text block



Oleh: Aries Heru Prasetyo - Vice Dean for Research and Innovation PPM School of Management PPM School of Management  

 

*Tulisan ini dimuat di Majalah Pajak Volume LXXVI

Sebagai seorang ilmuwan dan analis pasar, baru kali ini penulis melihat rontoknya bursa efek global dalam waktu yang sangat singkat. Saat pandemi ini tiba di Amerika Serikat tempo lalu, hanya dalam hitungan hari, indeks Nikkei turun sekitar 16 persen. Demikian pula beberapa indeks seperti Dow Jones yang turun hingga 20 persen. Indeks bursa dalam negeri juga sempat bertengger di posisi 4.000-an setelah di awal Januari dibuka di level 6.000-an. Aksi global pelemahan indeks bursa ini mencerminkan aksi jual yang masif dilakukan investor, dalam jumlah yang sangat besar. Apakah kepercayaan investor sudah hilang? Atau itu hanya sekadar kepanikan sesaat?

Kita berharap ini hanyalah kepanikan sesaat. Namun jika ditelusuri lebih lanjut ternyata kepanikan itu cukup beralasan. Harus diakui bahwa daya penyebaran virus Covid-19 sangat cepat. Ketika penanganannya kurang tepat maka mutasi virus dari satu orang ke orang lain terjadi begitu cepat. Alhasil aktivitas bisnis dan ekonomi terpaksa dihentikan hingga pandemi berakhir. Namun patut disayangkan bahwa tanda-tanda berakhirnya pandemi ini belum juga terlihat. Inilah yang memicu ketidakpastian ekonomi. Para penyandang dana alias investor panik karena kondisi tersebut berpotensi menurunkan nilai investasi yang dimiliki. Alhasil atas rasionalitas tersebut maka perlahan namun pasti mereka mengambil keputusan untuk keluar sejenak dari pasar.

Faktor kepanikan massal juga dialami oleh masyarakat khususnya terkait pemenuhan kebutuhan dasar hidup, dalam hal ini pangan. Setelah sempat ‘berebut’ masker dan hand sanitizer, beberapa produk bahan pokok seperti gula sempat langka di pasaran. Aksi kepanikan berlanjut, kali ini terjadi pada sisi stabilitas ekonomi keluarga. Di satu sisi, pengeluaran di masa pandemi secara otomatis membengkak. Rumah tangga mulai mengalokasikan dana lebih untuk menjaga kesehatan maupun untuk membiayai perawatan akibat terpapar virus. Padahal di sisi lain pemasukan banyak yang berkurang.

Bila dicermati pada tataran makro, rumusannya sangat sederhana. Ekonomi akan berangsur pulih saat pandemi Covid-19 tuntas. Dengan kata lain untuk hitungan beberapa bulan ke depan, pekerjaan rumah terbesar adalah menekan angka penyebaran virus. Oleh karenanya kita sangat berharap pada efektivitas kebijakan pemerintah melalui Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Ketegasan pemerintah dalam menjalankan kebijakan ini otomatis akan mampu menekan kepanikan yang terjadi di masyarakat. Selanjutnya, kebijakan ini harus disertai dengan kemampuan untuk mendampingi masyarakat dalam membangun optimisme bahwa pandemi ini akan berakhir.

Sejak satu bulan terakhir kita telah diajarkan untuk belajar, bekerja, dan beribadah dari rumah. Satu pesan yang terlewatkan adalah bagaimana masyarakat secara konsisten wajib membangun dan meningkatkan produktivitasnya walau semua aktivitas dilakukan di rumah.

Sejenak kita pasti menemui kesulitan dalam melakukannya. Namun sejumlah kalangan menanggapinya dengan sangat positif. Ada begitu banyak seminar atau pelatihan online yang bahkan dilakukan secara gratis. Topik yang dibahas terkait bagaimana upaya untuk terlepas dari cengkeraman Covid-19. Inilah angin segar yang perlu bersama-sama dihembuskan oleh segenap anak Bangsa. Sudah saatnya kita bangkit, melakukan apa yang kita bisa demi terus terciptanya suasana kondusif menuju Indonesia kuat. Sebab melalui optimisme ini, setiap pihak akan lebih mawas diri sehingga besar kemungkinan pandemi dapat segera berakhir. Saat waktu itu tiba kita akan lebih siap melakukan percepatan pemulihan ekonomi.

Mari kita sama-sama ambil bagian agar gaung optimisme ini semakin luas terdengar. Sebab bagaimanapun, hati yang gembira adalah obat yang mujarab.

Sebagai seorang ilmuwan dan analis pasar, baru kali ini penulis melihat rontoknya bursa efek global dalam waktu yang sangat singkat. Saat pandemi ini tiba di Amerika Serikat tempo lalu, hanya dalam hitungan hari, indeks Nikkei turun sekitar 16 persen. Demikian pula beberapa indeks seperti Dow Jones yang turun hingga 20 persen. Indeks bursa dalam negeri juga sempat bertengger di posisi 4.000-an setelah di awal Januari dibuka di level 6.000-an. Aksi global pelemahan indeks bursa ini mencerminkan aksi jual yang masif dilakukan investor, dalam jumlah yang sangat besar. Apakah kepercayaan investor sudah hilang? Atau itu hanya sekadar kepanikan sesaat?

Kita berharap ini hanyalah kepanikan sesaat. Namun jika ditelusuri lebih lanjut ternyata kepanikan itu cukup beralasan. Harus diakui bahwa daya penyebaran virus Covid-19 sangat cepat. Ketika penanganannya kurang tepat maka mutasi virus dari satu orang ke orang lain terjadi begitu cepat. Alhasil aktivitas bisnis dan ekonomi terpaksa dihentikan hingga pandemi berakhir. Namun patut disayangkan bahwa tanda-tanda berakhirnya pandemi ini belum juga terlihat. Inilah yang memicu ketidakpastian ekonomi. Para penyandang dana alias investor panik karena kondisi tersebut berpotensi menurunkan nilai investasi yang dimiliki. Alhasil atas rasionalitas tersebut maka perlahan namun pasti mereka mengambil keputusan untuk keluar sejenak dari pasar.

Faktor kepanikan massal juga dialami oleh masyarakat khususnya terkait pemenuhan kebutuhan dasar hidup, dalam hal ini pangan. Setelah sempat ‘berebut’ masker dan hand sanitizer, beberapa produk bahan pokok seperti gula sempat langka di pasaran. Aksi kepanikan berlanjut, kali ini terjadi pada sisi stabilitas ekonomi keluarga. Di satu sisi, pengeluaran di masa pandemi secara otomatis membengkak. Rumah tangga mulai mengalokasikan dana lebih untuk menjaga kesehatan maupun untuk membiayai perawatan akibat terpapar virus. Padahal di sisi lain pemasukan banyak yang berkurang.

Bila dicermati pada tataran makro, rumusannya sangat sederhana. Ekonomi akan berangsur pulih saat pandemi Covid-19 tuntas. Dengan kata lain untuk hitungan beberapa bulan ke depan, pekerjaan rumah terbesar adalah menekan angka penyebaran virus. Oleh karenanya kita sangat berharap pada efektivitas kebijakan pemerintah melalui Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Ketegasan pemerintah dalam menjalankan kebijakan ini otomatis akan mampu menekan kepanikan yang terjadi di masyarakat. Selanjutnya, kebijakan ini harus disertai dengan kemampuan untuk mendampingi masyarakat dalam membangun optimisme bahwa pandemi ini akan berakhir.

Sejak satu bulan terakhir kita telah diajarkan untuk belajar, bekerja, dan beribadah dari rumah. Satu pesan yang terlewatkan adalah bagaimana masyarakat secara konsisten wajib membangun dan meningkatkan produktivitasnya walau semua aktivitas dilakukan di rumah.

Sejenak kita pasti menemui kesulitan dalam melakukannya. Namun sejumlah kalangan menanggapinya dengan sangat positif. Ada begitu banyak seminar atau pelatihan online yang bahkan dilakukan secara gratis. Topik yang dibahas terkait bagaimana upaya untuk terlepas dari cengkeraman Covid-19. Inilah angin segar yang perlu bersama-sama dihembuskan oleh segenap anak Bangsa. Sudah saatnya kita bangkit, melakukan apa yang kita bisa demi terus terciptanya suasana kondusif menuju Indonesia kuat. Sebab melalui optimisme ini, setiap pihak akan lebih mawas diri sehingga besar kemungkinan pandemi dapat segera berakhir. Saat waktu itu tiba kita akan lebih siap melakukan percepatan pemulihan ekonomi.

Mari kita sama-sama ambil bagian agar gaung optimisme ini semakin luas terdengar. Sebab bagaimanapun, hati yang gembira adalah obat yang mujarab.


Artikel Manajemen terkait: 

Aried Heru Prasetyo - Memaknai Produktivitas dengan Cara Baru

Aries Heru Prasetyo - Covid-19 Turut Ciptakan Krisis Ekonomi

Aries Heru Prasetyo - Berefleksi pada Virus Korona