Lebih Dekat, Lebih Untung

Otomatis fluktuasi harga barang memengaruhi harga jual dan beli sebuah barang, dan akhirnya berpengaruh pada keuntungan perusahaan dan nilai tambah yang disediakan kepada konsumen.

RICKY VIRONA MARTONO
Odoo image and text block



Oleh: Ricky Virona Martono – Trainer, Executive Development Services - PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di Majalah Pajak Volume LVII |Tahun 2018, p. 39

Konsep Manajemen menyatakan bahwa semakin dekat dengan konsumen berarti semakin mampu memahami kebutuhan konsumen. Ini sejalan dengan sudut pandang sebuah rantai pasok di mana semakin dekat dengan konsumen berarti semakin tinggi keuntungan yang diperoleh karena nilai tambah yang disediakan kepada konsumen akhir (berupa barang jadi, pada posisi hilir) lebih tinggi daripada nilai pada proses-proses sebelumnya.

Mari kita lihat ilustrasi sebuah rumah makan cepat saji. Menyajikan kentang goreng dimulai dari proses penanaman kentang, dilanjutkan dengan panen, kemudian menjual kentang ke pasar tradisional atau ke perusahaan rumah makan cepat saji. Harga jual kentang oleh petani dikurangi dengan biaya penanaman dan risiko gagal panen. Sehingga, keuntungan yang diperoleh oleh petani tidak terlalu besar.

Pedagang kentang memperoleh pendapatan dari penjualan kentang dan mengeluarkan biaya untuk tempat berjualan. Pedagang kentang hanya membeli kentang yang bagus dari petani, sehingga tidak menanggung risiko adanya kentang yang rusak.

Nilai tambah yang diberikan petani dan pedagang masih kecil, yaitu menyediakan kentang, tapi kentang masih harus diolah konsumen, misalnya, dikupas dan dimasak. Masih ada kegiatan yang harus dilakukan konsumen sebelum kentang dapat dikonsumsi.

Sementara itu, rumah makan cepat saji membeli kentang dari petani, memasak kentang, dan menjualnya kepada konsumen. Kentang goreng langsung dapat dikonsumsi. Kentang goreng disajikan oleh pelayan yang profesional, lingkungan rumah makan yang bersih dan nyaman, dan kemasan kentang goreng yang menarik.

 

Ada banyak nilai tambah yang diberikan rumah makan dibanding petani dan pedagang. Selain layanan yang baik, juga kentang yang langsung bisa dikonsumsi.

Di era perdagangan bebas, di mana barang, uang, dan informasi dapat bergerak menembus batas negara dalam hitungan detik, maka satu langkah di depan rumah makan cepat saji (penyedia jasa) adalah perdagangan (mata) uang, valuta asing (valas), dan saham, di mana barang (dan bagian dari perusahaan) dapat diperdagangkan tanpa kehadiran barang itu sendiri.

Sebuah barang dapat dihargai lebih tinggi atau lebih rendah dari nilai seharusnya karena pengaruh faktor eksternal, misalnya kepastian pengiriman, gangguan pengiriman karena bencana alam atau perompak. Otomatis fluktuasi harga barang memengaruhi harga jual dan beli sebuah barang, dan akhirnya berpengaruh pada keuntungan perusahaan dan nilai tambah yang disediakan kepada konsumen.

Prinsip mendekatkan diri dengan konsumen sebenarnya sudah dilaksanakan pada era kolonisasi, ketika Inggris menguasai titik yang lebih dekat dengan konsumen perdagangan rempah-rempah dan berperan dalam perdagangan valas.

Pada 31 Juli 1667, Inggris dan Belanda menandatangai Perjanjian Breda (Treaty of Breda) di kota Breda, Belanda terkenal dengan akademi militernya. Dua poin terpenting perjanjian tersebut adalah:

·  Inggris mendapat klaim atas koloni Belanda di Amerika Utara yang bernama New Amsterdam, yang kemudian diganti namanya menjadi New York;

·   Sebagai gantinya, Belanda mendapat kuasa penuh atas Pulau Run di Maluku yang kaya-raya dengan tanaman pala.

Tujuan Belanda saat itu adalah menguasai seluruh daerah Indonesia sebagai penghasil rempah-rempah, sehingga Belanda dapat menguasai semua sumber rempah-rempah. Pada prosesnya, rempah-rempah ini akan diolah lagi menjadi barang jadi kemudian diperdagangkan ke seluruh dunia, sehingga posisi Belanda adalah sebagai penguasa sumber bahan mentah.

New Amsterdam berfungsi sebagai lokasi perdagangan hasil alam kepada masyarakat di benua Amerika Utara, sehingga posisi Inggris lebih dekat dengan konsumen akhir yang berarti Inggris mampu memberikan nilai tambah lebih besar. Akibatnya, Inggris meraih keuntungan yang lebih besar pula. Hal ini dapat menjadi alasan mengapa New Amsterdam-sekarang New York-berkembang menjadi kota perdagangan termaju di dunia.

Namun, tulisan ini tidak untuk membedakan tingkat kepentingan antara posisi hulu maupun hilir dalam sebuah rantai pasok. Tanpa ada dukungan pada posisi hulu (misalnya: ketersediaan bahan mentah pada jumlah dan waktu diperlukannya), maka posisi hilir perdagangan tidak dapat berperan dengan baik. Bagaimana pun, dibutuhkan kolaborasi yang saling menguntungkan antara keduanya, bukan mengambil untung oleh salah satu pemain dalam rantai pasok dengan mengalihkan kerugian kepada pemain lain.