Classroom in a Pocket

Sebuah survei yang menyatakan bahwa 70% pembelajar dalam jaringan (online) merasa lebih efektif dan termotivasi ketika menggunakan perangkat mobile dibandingkan laptop atau komputer personal.

RAHADI CATUR YUWONO
Odoo image and text block




Oleh: Rahadi Catur Yuwono M.M. Marketing Manager Online Learning PPM Manajemen


*Tulisan ini dimuat di Majalah Sindoweekly No. 04 Tahun VIII, 25-31 Maret 2019, hlm. 82

Perkembangan teknologi terus bergulir. Semua tidak terlepas dari perkembangan aplikasi yang disematkan di ponsel pintar atau smartphone itu sendiri. Riset menunjukkan bahwa 80% populasi dunia adalah pengguna ponsel. Merujuk tren tersebut, sangat menarik jika kita perhatikan bagaimana pemanfaatan aplikasi pada ponsel pintar ini juga dapat dimanfaatkan dan dioptimalkan bagi para praktisi human resources department, khususnya bagian learning & development pada masa mendatang.

Hal yang menarik juga terlihat dari sebuah survei yang menyatakan bahwa 70% pembelajar dalam jaringan (online) merasa lebih efektif dan termotivasi ketika menggunakan perangkat mobile dibandingkan laptop atau komputer personal. Salah satu manfaat yang paling signifikan adalah fleksibilitas akses terhadap materi yang memberikan kenyamanan bagi pembelajar untuk dapat mengunduh materi-materi yang diinginkan, lalu mempelajarinya kapanpun dan di manapun sekalipun tanpa jaringan atau yang lebih dikenal dengan istilah saved to offline. Ditambah lagi, sistem notifikasi yang mampu memberikan informasi yang spesifik dan penting kepada pembelajar terkait proses dari pembelajaran itu sendiri.


Menembus Segala Keterbatasan

Khusus untuk manfaat ini, penulis juga mempunyai pengalaman menarik ketika mempunyai kesempatan untuk bekerjasama mengadakan pelatihan berbasis daring dengan salah satu perusahaan distributor alat berat terbesar dan terkemuka di Indonesia. Para peserta didiknya adalah para kepala unit bisnis di berbagai wilayah pelosok di Indonesia. Sebut saja seperti di Kecamatan Malinau Utara, Kalimantan Utara yang daerahnya hanya bisa diakses internet di kantor perwakilan, sedangkan hampir seluruh aktivitas para peserta didik menghabiskan waktu di lokasi penambangan batu bara yang bisa dikatakan tidak memiliki jaringan internet.

Menariknya, hal ini tidak membuat mereka merasa frustasi, tetapi malah melecut semangat mereka agar terus belajar. Sebab, ini merupakan kesempatan yang langka bagi mereka, yaitu mendapatkan pelatihan di pelosok Indonesia. Dengan tersedianya aplikasi mobile e-learning, para peserta didik berusaha untuk mengunduh semua materi ketika mereka berada di kecamatan yang memiliki jaringan internet. Alhasil, ketika kembali ke lokasi penambangan batu bara yang tidak memiliki jaringan internet, para peserta didik tetap dapat mengakses semua materi karena materi telah diunduh dan tersimpan pada aplikasi ponsel pintar mereka.Hal ini menjadi bukti nyata bahwa pemanfaatan teknologi berbasis aplikasi menjadi sangat penting untuk dijadikan salah satu program kerja strategi pembelajaran digital bagi perusahaan di era ini.

Manfaat kedua adalah aplikasi di perangkat pintar itu dekat dengan kaum milenial. Kaum para pekerja yang tumbuh dan berkembang dengan lingkungan canggihnya teknologi. Mereka pun menggunakan kecanggihan teknologi tersebut dalam kehidupan sehari-hari guna memenuhi berbagai kebutuhannya.

Dengan ponsel pintar, mereka akan selalu terhubung dengan orang lain dan dunia digital melalui internet. Saat ini, ponsel pintar memegang peranan penting sebagai gawai yang paling praktis yang bisa dimanfaatkan oleh generasi milenial sehingga program pembelajaran dan pengembangan organisasi melalui perangkat ponsel pintar diyakini mampu memudahkan para kaum milenial untuk dapat meningkatkan kompetensi mereka di dunia kerja.

Manfaat ketiga adalah dengan penerapan mobile learning di suatu perusahaan dapat meningkatkan terjaganya pengetahuan dan keterampilan dalam waktu yang lebih lama. Sebab, salah satu ciri e-learning adalah konten yang bisa dipelajari berulang-ulang. Alhasil, ketika para pembelajar lupa dengan apa yang telah mereka pelajari, dengan sedikit merogoh ponsel pintar di saku (classroom in a pocket), saat itu pula mereka dapat mengakses kembali materi yang ingin mereka pelajari dan membantu menyelesaikan pekerjaan mereka. Hasil riset juga menunjukkan bahwa tingkat knowledge retention (penyimpanan pengetahuan) melalui metode e-learning ini dapat terjaga oleh pembelajar sebesar 50-90% karena sifatnya yang mudah diakses dan dapat digunakan berkali-kali.