Afrika, Kawasan Industri Masa Depan

Jika jalur Selat Malaka terlalu penuh dan tidak menarik karena biaya tinggi, bukan tidak mungkin pengiriman barang dari Afrika ke Cina akan melalui jalur darat.

RICKY VIRONA MARTONO
Odoo image and text block





Oleh: Ricky Virona Martono – Core Faculty  PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di Majalah PAJAK Volume LXVIII | 2019, hlm. 45

Afrika benua yang kaya sumber daya alam, memiliki 30 persen dari total cadangan mineral dunia seperti kobalt, uranimun, permata, emas, minyak, dan gas. Jumlah penduduknya mencapai 1,2 miliar orang dengan penghasilan rata-rata sekitar 1,25 dollar AS per hari.

Benua yang dibayangkan banyak orang penuh dengan perang saudara, iklim gurun yang berat, dan berbagai penyakit ini mulai bangkit perlahan menjadi kawasan yang lebih ramah terhadap pendatang.

Hal menarik lainnya, pertumbuhan ekonomi Afrika merupakan kedua tertinggi di dunia setelah Asia, dengan 62 persen dari jumlah penduduknya yang berusia kurang dari 25 tahun, menandakan potensi tenaga kerja produktif dalam beberapa tahun ke depan.

24 negara di Afrika, 330 juta penduduknya ada di kelas menengah.  Total penduduknya 700 juta merupakan English-speaking country dan 21 negara Afrika dengan total penduduk 290 juta penduduknya sebagai France-speaking country.

Menurut McKinsey, terdapat sekitar 400 perusahaan di Afrika dengan revenue lebih dari 1 Miliar USD dan 700 perusahaan dengan revenue lebih dari 500 Juta USD. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat di masa depan.

Berbagai lembaga keuangan dunia mulai menatap investasi yang lebih massif di Afrika, seperti World Bank dan Asian Development Bank yang dimotori Cina. Prioritas pembangunan adalah infrastruktur seperti bendungan, jalan, rel kereta api, pembangkit listrik, kawasan industri, lapangan terbang, pelabuhan laut, dan sarana telekomunikasi.

Afrika memulai inisiasi untuk meningkatkan kerjasama melalui kesepakatan African Continent Free Trade Agreement pada Maret 2018, yang sampai dengan September 2019 sudah ditandatangani oleh 44 negara Afrika. Turunnya tarif perdagangan antar negara Afrika dan rendahnya biaya tenaga kerja tentu sangat menarik bagi investor.

Indonesia sendiri sudah lama melakukan kerja sama ekonomi dengan negara-negara Afrika. Pada 2017 nilai perdagangan Indonesia-Afrika 8,84 miliar USD, meningkat 15,25 persen dari tahun sebelumnya. Saat ini terdapat sekitar 30 perusahaan Indonesia menanamkan investasinya di Afrika, di antaranya 16 di Nigeria dan 5 di Ethiopia. Beberapa BUMN dan perusahaan swasta bidang infrastruktur sudah menyepakati kontrak kerjasama proyek infrastruktur di Afrika senilai Rp11,67 Triliun, yang merupakan hasil dari acara Indonesia-Africa Infrastructure Dialogue, IAID di Nusa Dua, Bali, Agustus 2019.

Keuntungan lain bagi Indonesia adalah, lokasi sebagai sebagai hub Afrika-Asia Timur-Australia, di mana perdagangan jalur laut berbiaya murah akan lebih banyak melewati Selat Malaka sebagai selat tersibuk di dunia yang pada tahun 2017 dilintasi 83.740 kapal. Bayangkan jika volume perdagangan Asia-Afrika meningkat, maka jalur ini akan lebih sibuk, dan jika Indonesia mampu memungut biaya (atau pajak) artinya keuntungan melimpah buat Indonesia.

Namun ini menjadi tantangan karena Cina sendiri membangun program infrastruktur OBOR (One Belt One Road) melalui jalur darat. Jika jalur Selat Malaka terlalu penuh dan tidak menarik karena biaya tinggi, bukan tidak mungkin pengiriman barang dari Afrika ke Cina akan melalui jalur darat.

Dengan potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,7 persen di tahun 2018 (lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,7 persen pada tahun 2018). Bahkan, PwC memperkirakan Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi global nomor empat dunia pada tahun 2050.

Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi tinggi, Indonesia perlu mendiversifikasi lokasi produksi dan tujuan ekspor. Sehingga risiko produksi dan ekspor di satu negara/kawasan bisa dimitigasi ke negara/kawasan lain. Dan jawabannya adalah: Afrika.

Bagaimanapun, investasi di Afrika bukanlah hal mudah karena berbagai tantangan. Pertama, perusahaan asing harus mampu beradaptasi dengan budaya hidup dan kerja di Afrika. Jumlah tenaga kerja yang besar pun menjadi tantangan untuk mendidik mereka dalam jangka panjang.

Kedua, tingkat urbanisasi dan korupsi yang tinggi di beberapa negara Afrika menjadi ancaman tersendiri bagi investor. Unuk ini perlu dilakukan analisis risiko terkait penyebaran industri.

Ketiga, investasi di Afrika perlu didasari oleh keuntungan mutualisme dalam jangka panjang. Indonesia perlu menunjukkan kesanggupan kerjasama, bukan sekedar investasi “gali sumber daya alamnya, lalu kabur” yang dampaknya adalah keuntungan jangka pendek dan hilangnya kepercayaan.