Manusia Dalam Transformasi Digital Korporasi

NIZZA KURNIASARI

Membangun Pola Pikir Digital

Narasumber: Maharsi Anindyajati  |  Center for Human Capital Development (CHCD)

Apa itu transformasi digital? Transformasi yang terjadi pada organisasi yang terkait dengan transformasi digital sebenarnya mengacu pada aktivitas organisasi, pada proses, kompetensi dan model yang memungkinkan organisasi untuk memanfaatkan dan mengoptimalkan teknologi digital untuk meningkatkan bisnisnya.

Biasanya orang hanya terpaku pada transformasi digitalnya, sehingga lebih banyak berinvestasi hanya pada teknologinya, peralatannya, perangkat lunaknya, dan sebagai-nya. Banyak organisasi lupa bahwa proses transformasi digital itu juga harus meng-arah pada orangnya. Misalnya bagaimana kita mengubah orang itu, mengubah pendekatan-nya, dan mengubah cara berpikir dalam menemukan solusi masalah.

Terdapat lima pilar untuk keberhasilan transformasi digital.

1.  Digital mindset

2.  Menentukan tujuan digital

3.  Melakukan investasi kapabilitas teknologi digital

4.  Menyesuaikan keterampilan dan manajemen talent

5.  Mengembangkan organisasi

Bagaimana keterampilan orang-orang menggunakan teknologi? Setiap kali terjadi perubahan selalu terjadi resistensi. Mampukah organisasi mempersiapkan orang-orang untuk beradaptasi dengan teknologi, mampukah orang-orang meningkatkan kemampuannya yang tadinya terbiasa melakukan segala sesu-atu secara manual kemudian menggunakan aplikasi yang perlu membutuhkan pembela-jaran dan penyesuaian, dan yang penting kemudian organisasi terus berevolusi. Transformasi digital tidak hanya berhenti sampai disini melainkan hingga ke akhir nanti.

 

Digital mindset

Transformasi digital organisasi akan sulit dilakukan jika pola pikir para karyawan belum pola pikir digital. Apa yang disebut dengan pola pikir digital? Pola pikir digital tidak sama dengan orang menggunakan apli-kasi. Digital mindset, atau pola pikir digital, beda dengan digital literacy, atau kecakapan digital. Pola pikir digital, adalah kesadaran se-seorang akan ada-nya manfaat menggunakan peralatan digital, bukan sekedar kemampuan untuk menggunakan teknologi.

Digital mindset matrix terbagi ke dalam empat kuadran, yaitu Digital Mindset, Digital Knowledge Oriented Mindset, Digital Usage Oriented Mindset, dan Non-Digital Mindset.

1.  Digital Mindset. Jika seseorang tahu, atau punya pengetahuan terkini tentang digital. Selain itu ia juga pengguna perang-kat digital ini.

2.  Digital Knowledge Oriented Mindset: Tahu adanya peralatan digital, tapi bukan pemakai.

3.  Digital Usage Oriented Mindset: Bisa memakai tetapi kurang paham apa manfaatnya, atau sekadar memakai tetapi hanya ikut-ikutan tanpa mengetahui lebih jauh manfaat penggunaannya.

4.  Non-Digital Mindset: Tidak tahu manfaat alat digital dan tidak pernah memakainya.

Pengetahuan tentang digital matrix mindset ini bisa diterapkan ke organisasi kita masing-masing. Ada di manakah posisi para karyawan organisasi kita dalam hal digital, di kuadran 1, 2, 3, atau 4, sehingga kita bisa menentukan bagaimana melakukan transformasi digital di dalam organisasi.

Sebenarnya umur tidak menentukan dimana seseorang posisinya. Tidak selalu kar-yawan milenial berada di posisi digital mindset, bisa jadi orang yang lebih tua umurnya lebih banyak mengetahui tentang digital dibanding karyawan muda.


Karakteristik digital mindset

1. Curiosity: orang-orang yang selalu ingin tahu mengetahui tentang teknologi digital.

2. Up-to-date: Rasa ingin tahu seseorang terhadap teknologi digital membuatnya selalu ingin informasi terkini.

3. The use of digital technology: menggunakan teknologi digital untuk kepen-tingan profesional, belajar, atau senang-senang, dan sebagainya.

4. Challenges presented by digital technology: melihat perkembangan teknologi itu sebagai sesuatu yang harus ia taklukkan. Melihat aplikasi apapun yang terbaru dirinya merasa tertantang untuk bisa menggunakannya.

 

Seseorang yang memiliki keempat karakteristik ini mencerminkan dirinya memiliki pola pikir digital (digital mindset).

Apa kuncinya agar punya pola pikir digital?

Pola pikir digital bukan sesuatu yang sifatnya given, melainkan bisa dilatih dan dibentuk. Ada tujuh kriteria yang mendorong seseorang agar memiliki pola pikir digital:

1.  Abundance mindset: pola pikir yang menganggap bahwa sesuatu itu tidak tak terbatas, melainkan banyak, dan tidak sulit untuk dicari. Memang persaingannya ketat, tetapi banyak sumber daya yang bisa kita dapatkan. Pola pikir yang harus dibangun adalah bahwa ini bukan se-bagai kelangkaan, melainkan sesuatu yang bisa menjadi peluang.

2.  Growth mindset: pola pikir yang beranggapan bahwa segala sesuatu itu bisa ditingkatkan. Keinginan untuk selalu meningkatkan pengetahuan dan kete-rampilannya.

3.  Collaborative approach: Biasanya mereka akan mencari peluang berkola-borasi dengan pihak lain. Ada keterkaitan dengan abundance mindset.

4.  Agile approach: Agile sering diartikan dengan kemampuan beradaptasi. Hanya bedanya adaptasi terkesan lebih pasif, sementara agile aktif. Adaptasi dilakukan jika terjadi perubahan. Sedangkan agile berupaya mencari perubahan apa yang bisa dilakukan tanpa harus menunggu adanya perubahan. Orang yang punya sifat agile akan cenderung lebih memiliki pola pikir digital, karena dia akan selalu mencari cara yang memudahkan. 

5.  Comfort with ambiguity: Merasa nyaman dengan ketidakpastian. Era digital adalah era ketidakpastian, yaitu era adanya perubahan yang sangat cepat sehingga orang-orang yang senang dengan perubahan akan lebih mudah membentuk pola pikir digital. Sebaliknya orang-orang yang tidak nyaman dengan perubahan akan sulit untuk membentuk pola pikir digital.

6.  Explore’s mind: orang yang senang mencari mengeksplorasi peluang. Masalahnya apa, dan solusinya bagaimana.

7.  Embracing diversity: Perbedaan bukanlah sesuatu yang menghambat, termasuk perbedaan berpikir harus diakomodir untuk melihat sudut pandang lain, agar kita bisa melihat sesuatu yang baru.

Odoo CMS - a big picture