Trik Mempertajam Arah Bisnis ala TP Rachmat dan Martiono Hadianto

FLORA FEBRIANINDYA
Odoo image and text block

 

 


Pengalaman adalah guru terbaik. Demikian pula dengan pengalaman jatuh bangun para pemimpin perusahaan di Indonesia.

Telah melewati berbagai kisah pahit manis dalam berbisnis, TP Rachmat (pimpinan Triputra Group) dan Martiono Hadianto (Ketua Umum Pengurus Yayasan PPM Manajemen) membagi ilmunya dalam membangun arah bisnis yang visioner.

Alasan, dan juga kesalahan yang biasanya dimiliki organisasi adalah perasaan ‘baik-baik saja’ yang membuat lengah. Padahal perubahan eksternal terus bergulir. “Apa yang membuat orang menjadi bisa dan tidak bisa visioner? Rasa nyaman. Apa akibatnya jika kita terus di posisi tersebut? Apakah kondisi nyaman bisa membuat kita mampu berfikir lebih visioner?” tutur Martiono.

Sebagaimana disampaikan pada acara Executive Learning Forum: Mempertajam Arah Bisnis Visioner (21/03) di PPM Manajemen, salah satu ‘ancaman’ yang dihadapi adalah kemajuan teknologi. “Organisasi memiliki pilihan, apakah menyalahkan ancaman, atau melawan ancaman. Secara psikologis, jika kita sudah merasa nyaman, kita akan menyalahkan ancaman,” jelas pria yang pernah memimpin PT Newmont Pasific Nusantara ini.

Dalam acara yang sama, Pimpinan Triputra Group Theodore Permadi Rachmat juga memberikan panduan dalam membangun bisnis yang sukses. Yang pertama adalah strategi. “Kalau baru memulai, rule nomor 1 adalah cari kolam yang besar, cari angin yang kuat dan tempat yang menjanjikan” jelas Teddy, sapaan akrabnya. Selain itu, strategi juga harus didukung oleh competitive advantage yang harus dimiliki organisasi. “Kalau tidak ada keunikan, ciptakan sendiri” lanjutnya. Teddy juga menekankan untuk berani mengembangkan bisnis. “size is powerful, harus mau scaling up dan berfikir 10 tahun ke depan”.

Setelah strategi, selanjutnya adalah mencari orang yang tepat. Teddy begitu menekankan pentingnya etika dan integritas dalam bekerja. “Ini bukan tentang GPA, tapi attitude. Orang kerja bagus tapi karakternya buruk, keluarkan. Character is the power of passion and perseverance. Ketekunan inilah yang akan menciptakan sebuah purpose” jelas pria yang masuk jajaran orang terkaya di Indonesia versi Forbes.

Langkah lain yang harus diambil adalah memanfaatkan teknologi dan perbaikan yang berkelanjutan, untuk selalu mengedepankan kesempurnaan produk. Teddy mengibaratkan sebuah mobil yang terdiri dari beragam spare part. Kelengkapannya tidak bisa ditawar-tawar. “kalau mau menang, kita harus memberikan produk yang sempurna”.

Selanjutnya adalah menciptakan value system. Pada perusahaan yang dipimpinnya, Teddy menuangkan value system ini dalam Pledge of Triputra Citizen. Yaitu integrity and ethics, excellence, compassion, juga humility. Mengapa aspek rendah hati (humility) begitu penting? Teddy punya jawabannya. “Jika kita tinggi hati, diibaratkan seperti botol yang penuh dengan air, tidak ada yang bisa masuk. Jadilah botol yang kosong, menyerap apa yang bisa masuk” tutup pria yang pernah menerima penghargaan Satyalencana Kebaktian Sosial dari Presiden Republik Indonesia ini.

(FLO)