Kasus Praktik Etika Bisnis Perusahaan Keluarga Indonesia di Era Digital

A. PRISAPTA

JAKARTA-Kamis, 1 Agustus 2019, Pusat Etika dan Budaya Organisasi Soedarpo Sastrosatomo (PEBOSS)-PPM Manajemen bekerja sama dengan Research Center and Case Clearance House (RC-CCH)-Sekolah Tinggi Manajemen PPM, menyelenggarakan Sharing Session PEBOSS dan One Doctor One Publication-RCCCH. Acara kali ini memaparkan hasil penelitian dari Yunita Andi Kemalasari dan Erlinda Nusron Yunus yang berjudul "Business Ethics Practices of Indonesian Family Business Corporation in The Digital Era: A Case Study".

Penelitian ini telah berhasil diterima dan dipaparkan pada acara "Global Jesuit Business Ethics Conference" yang berlangsung dari tanggal 11-13 Juli 2019 di California, Amerika Serikat. Acara tersebut dihadiri oleh pengajar dan peneliti perguruan tinggi dari berbagai negara.

Odoo CMS - a big picture

Peserta "Global Jesuit Business Ethics Conference 2019" berfoto bersama di kampus Santa Clara University, California, Amerika Serikat

Pada kesempatan acara ini, hadir Martiono Hadianto, Ketua Umum Pengurus Yayasan PPM; Andi Ilham Said, Ketua Pusat Kajian dan Pengembangan Produk; L. Hardi Pranoto, Direktur Modal Insani PPM Manajemen; Aries Heru Prasetyo, Wakil Ketua bidang Riset dan Inovasi, Sekolah Tinggi Manajemen PPM; dosen dan karyawan di PPM Manajemen.


Penelitian Praktik Etika di Perusahaan Keluarga

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengungkap praktik etika di sebuah perusahaan keluarga. Pada penelitian ini periset berhasil mendapatkan 786 sampel karyawan dari suatu korporasi, suatu bisnis keluarga. yang terkemuka di Indonesia dan memiliki 131 perusahaan pada 7 industri berbeda yang berskala nasional. Pada penelitian ini sampel diperoleh secara purposive berdasarkan masa kerja dan posisinya. Hasil dari penelitian ini adalah dikenalinya pengalaman perilaku etis di pekerjaan dan dukungan perusahaan dalam pembudayaan perilaku etis di tempat kerja. Variabel yang diamati adalah perilaku etis karyawan terhadap pengeluaran perjalanan, perilaku etis di tempat kerja, perilaku etis manajer, kejujuran di tempat kerja, penilaian atas pelanggaran etika, dukungan untuk melapor, tekanan dalam kompromi pada standar etika di organisasi, serta insentif untuk mendorong perilaku etis.

Riset kali ini menunjukkan bahwa mayoritas responden yakin bahwa kejujuran masih dan sering dipraktikan di tempat kerja. Sedangkan separuh lebih responden mengetahui pelanggaran etika terjadi dilakukan oleh perusahaan dan rekanannya. Diketahui pula tekanan untuk kompromi terhadap standar etika dipersepsikan rendah.

"... kejujuran masih dan sering dipraktikan di tempat kerja."

Dari penilaian sikap atas perilaku non-etis, mayoritas 70% lebih responden menilai "menggunakan sarana internet untuk keperluan pribadi pada jam kerja" adalah tindakan tidak etis, sedang 29% responden lain menganggap wajar, sedangkan pelanggaran yang paling dianggap tidak etis dengan 97% lebih responden sepakat adalah fasilitas hiburan sendiri yang dibebankan ke perusahaan.

Odoo CMS - a big picture

Terkait dengan perusahaan keluarga di era digital, mayoritas responden mengungkapkan perhatiannya pada manajemen puncak atau karyawan lain di perusahaan, namun pada kurang dari separuh responden puas dengan yang dihasilkan. Perusahaan tempat responden bekerja diharapkan mendorong standar etika melalui penerapan penilaian atas perilaku etis sebagai bagian dari penilaian kinerja.

Aspek budaya dari negara berkembang (Indonesia) juga dibahas. Di penelitian ini memberi sumbangan bukti empiris pada teori dan praktik etika dari negara berkembang.

Dari keseluruhan hasil penelitian ini ditemukan sebagian besar karyawan masih berperilaku etis. Dan untuk mendorong ke tingkat yang lebih baih, organisasi diharapkan menyiapkan dukungan, panduan dan sistem untuk praktik etika.

Odoo CMS - a big picture