Indonesia Global Compact Network (IGCN) Business Matchmaking 2018

Program IGCN Business Macthmaking dilaksanakan untuk mendukung program pembangunan berkelanjutan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa nomor 5, yaitu kesetaraan gender.

EDI PREMONO

lndonesia Global Compact Network (IGCN) yang tahun ini didukung oleh Sekolah Tinggi Manajemen PPM dan Womenpreneur Community mengajak para pengusaha perempuan untuk kembali meningkatkan perluasan pemasaran usahanya, melalui program IGCN Business Matchmaking yang memberikan kesempatan para pengusaha perempuan untuk mendapat sesi pembekalan dan pertemuan dengan perusahaan-perusahaan besar di lndonesia. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan kegiatan SheTrades Business Matchmaking tahun lalu.

Program IGCN Business Matchmaking dilaksanakan untuk mendukung program pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals) dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations) nomor 5, yaitu kesetaraan gender, serta sebagai wadah untuk mempromosikan serta mengimplementasikan 10 prinsip UN Global Compact.

Odoo CMS - a big picture

Kegiatan IGCN Business Matchmaking akan diselenggarakan pada Kamis, 15 November 2018 bertempat di Ruang AM Kadarman, Gedung Bina Manajemen B PPM Manajemen, Jakarta. Kegiatan ini terbagi pada dua sesi: Pembekalan UKM, dan One-on-one meeting. Pembekalan UKM yang dilanjutkan dengan panel diskusi bertema "Membuka Peluang Pembiayaan bagi UKM Perempuan", dimana pembicara dari sektor perbankan dan finansial teknologi akan membagikan paparannya.

Odoo CMS - a big picture

Dalam sesi pembekalan UKM, Aries Heru Prasetyo (Vice Dean – Research and Innovation PPM School of Management) mengangkat tema: “Perempuan Indonesia: Menuju Pemberdaya Ekonomi Bangsa.”

Banyak wanita di berbagai belahan dunia yang mulai berbisnis dari rumahan. Penggunaan teknologi yang terus berkembang pesat harus kita gunakan dalam mendukung usaha. Selanjutnya dalam risetnya, beliau memaparkan dalam 2 tahun ke depan, bisnis yang cocok untuk dijalani oleh wanita adalah Agriculture-Food, seperti produk food canned, healthy baby foods, bread, healthynoodles, healthy snack, ice cream, yogurt. Berdasarkan prinsip United Nations Global Compact ada 10 prinsip pemberdayaan, yang dikelompokan menjadi:

1. Prinsip hak asasi manusia, terdiri dari prinsip 1: Bisnis harus “memanusiakan manusia”, prinsip 2: Memastikan bahwa bisnis tidak melanggar hak asasi manusia.

2. Prinsip ketenagakerjaan, terdiri dari prinsip 3: Bisnis harus menghormati kebebasan berkumpul dan menyampaikan pendapat, prinsip 4: Menghilangkan unsur paksaan dalam bekerja, prinsip 5: Larangan mengeksploitasi anak di bawah umur dan manula, prinsip 6: Menghilangkan esensi diskriminasi SARA-gender di tempat kerja

3. Prinsip lingkungan, terdiri dari prinsip 7: Prinsip melestarikan lingkungan, prinsip 8: Menghindari polusi, prinsip 9: Menggunakan teknologi ramah lingkungan.

4. Prinsip Anti korupsi: terdiri dari prinsip 10: say no to corruption.

Aries juga menjelaskan mengenai Business Model Canvas dan memberikan tips dalam membuat kartu nama agar dapat mempresentasikan bisnis kita.  

Selanjutnya diadakan kegiatan one-on-one meeting antara UKM dengan perusahaan besar sebagai puncak acara. Pada tahun ini, tercatat 29 UKM perempuan yang terlibat dalam IGCN Business Matchmaking. Kegiatan ini diharapkan dapat membuka peluang bagi UKM perempuan untuk dapat berhubungan dengan perusahaan besar, sehingga perusahaan besar dapat melibatkan perempuan dalam rantai pasok perusahaan.

Odoo CMS - a big picture

Di masa kini, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) berpotensi untuk berkembang menjadi tulang punggung serta penopang perekonomian negara. Pada tahun 2016, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) mencatat bahwa kontribusi UMKM terhadap produk domestik bruto (PDB) lndonesia dalam kurun waktu 5 tahun telah meningkat dari 57,84 persen menjadi 60,34 persen.

Kesuksesan UMKM dalam bidang perekonomian tidak terlepas dari pihak-pihak yang menjalankan di belakangnya, terutama kaum perempuan. Berdasarkan data dari Kementerian Koperasi dan UKM pada tahun 2015, tercatat bahwa sebanyak 60 persen dari 52 juta pelaku UKM yang ada di seluruh lndonesia dijalankan oleh perempuan. Data ini menunjukkan bahwa peran perempuan dalam peningkatan perekonomian, terkhusus dalam sektor UMKM menunjukkan hasil yang signifikan dan positif bagi roda perekonomian lndonesia.

Josephine Satyono, Executive Director IGCN mengatakan "Memberdayakan perempuan dalam usaha seharusnya tidak dilihat sebagai sebuah kewajiban, tetapi bagaimana pelaku usaha dapat menjadikannya sebagai bagian dari strategi yang mendukung usaha dalam kegiatan inti dan rantai pasokan masing-masing. Perempuan yang telah berdaya diyakini dapat memberikan manfaat lebih banyak kepada bisnis."

IGCN Business Matchmaking merupakan salah satu kegiatan yang dijalankan oleh IGCN untuk mempercepat pencapaian agenda tujuan pembangunan berkelanjutan hingga 2030.

Odoo CMS - a big picture