Cerdas Memasuki Era Supply Chain Management 4.0

FLORA FEBRIANINDYA
Odoo image and text block

“Soon everything will be smart. Pabrik akan dikendalikan dengan smartphone,”

ungkap Hoetomo Lembito, anggota tim Sislognas Kemenko Perekonomian RI. Ditemui di Jakarta (14/03), Lembito memaparkan jika masuknya digitalisasi pada manajemen rantai pasok memunculkan beberapa tantangan.

 

“Digitalisasi tak hanya mengancam sektor logistik dan fabrikasi, namun juga pekerjaan teknis yang berulang,” kata Lembito pada seminar Supply Chain Management 4.0 for Indonesia yang diselenggarakan oleh PPM Manajemen.

Kemajuan digitalisasi yang tak bisa dibendung harus direspon dengan langkah akselerasi. Lembito memaparkan, setidaknya ada 5 langkah yang bisa dilakukan. Yang pertama adalah peningkatan investasi SDM dalam digital skill. Kedua, kemauan untuk learning by doing dengan mencoba dan menerapkan teknologi.

Trik ketiga adalah menggali kolaborasi baru dalam pendidikan peningkatan digital skill. Selanjutnya adalah menyusun kurikulum pendidikan tentang materi human’s digital skill. “Harus ada pula kolaborasi industri, akademisi dan masyarakat untuk identifikasi ketersediaan skill di era digital masa depan,” jelas pria yang sudah lebih dari 25 tahun berkecimpung dalam bidang Supply Chain ini.

Dalam SCM 4.0, salah satu hal yang harus digali adalah orientasi pada kepuasan dan kebutuhan pelanggan. Dari segi logistik ritel, ada beberapa karakter yang harus dipenuhi untuk tetap bertahan. Agusnur Widodo, Vice President JNE Express turut memberikan pandangannya“Kebutuhan customer E-Commerce di Indonesia adalah layanan yang lebih cepat sampai, layanan antar yang aman, juga memberikan keamanan lebih melalui asuransi. Selain itu adalah informasi yang lebih jelas dan konsumen bisa melacak posisi barang, juga jangkauan layanan kirim yang luas,” jelas Agusnur yang juga menjadi pembicara dalam seminar SCM 4.0 for Indonesia yang diselenggarakan PPM Manajemen.

Ketika banyak hal tak lepas dari digitalisasi, muncullah pertanyaan apakah keberadaan sumber daya manusia masih relevan? Zaroni, Chief Finance Officer PT Pos Logistik Indonesia menjawabnya. “Setinggi-tingginya ilmu dan teknologi, yang akan mengolahnya adalah manusia. Karenanya, penting untuk meningkatkan kompetensi SDM untuk keep up dengan SCM 4.0,” jelasnya.

Menurut Zaroni, kata kuncinya adalah kemampuan inovasi, adaptability, dan kesadaran jika semua karyawan adalah marketer untuk masing-masing customer-nya. Karenanya, penting bagi perusahaan untuk mampu merekrut orang yang tepat. “Organisasi harus bisa melepas kacamata untuk bisa berbaur dengan kriteria baby boomer, gen X, gen Y yang berbeda-beda. Jika hanya dengan satu pola pikir, bisa berisiko salah rekrut.”

Seminar SCM 4.0 for Indonesia dihadiri oleh para praktisi logistik dari berbagai perusahaan di tanah air. Pada seminar yang sama, bertindak pula sebagai narasumber Donny Maya Wardhana, Board of Commisioner & Technical Advisor dari beberapa perusahaan Start Up dan Ahmad Arwani selaku ketua tim perumusan skema SCM Logistik LSP PPM Manajemen.  Commercial Director & Co-Founder Sumosor IT, Bobby Warouw juga turut membagi pemikirannya dengan membahas topik “Membangun Teknologi Menyongsong SCM 4.0”.

(FLO)