Wujudkan Keamanan Pangan Laut dengan Rantai Pasok

Laiknya mengubah model mental, membangun kesadaran akan keamanan pangan memang lebih mudah dikatakan daripada dikerjakan. Maka, diperlukan pula perubahan karakteristik konsumen di sisi hilir rantai pasok. Kalau konsumen awalnya bersikap acuh-tak acuh, kini konsumen perlu lebih menghargai pentingnya keamanan pangan laut.

ROSA SEKAR MANGALANDUM
Odoo image and text block


Oleh: Rosa Sekar Mangalandum, M.M. – Trainer, Jasa Pengembangan Eksekutif PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di Majalah Sindo Weekly No. 11 Tahun VII,     14-20 Mei 2018 p. 34-35

Akhir 2017, diperkirakan 100 senyawa polutan baru telah mencemari perairan Segara Anakan dan Cilacap, Jawa Tengah. Hasil riset dari Universitas Maritim Raja Ali Haji, Kepulauan Riau menengarai bahwa senyawa pencemar seperti limbah obat-obatan, plastik mikro, dan plastik nano tersebut dapat meracuni organisme laut. Jika dikonsumsi manusia, bahan pencemar tersebut dapat memicu kanker hingga mutasi genetik.

Berdasarkan data sebuah harian surat kabar edisi 30 Desember 2017, masalah pencemaran laut kian mendesak bagi Indonesia karena pengaruhnya sangat besar terhadap kesehatan masyarakat. Sayangnya, belum jelas badan regulator mana yang berwenang mengatur keamanan pangan. Apakah kita akan terus menunggu?

Dari sudut pandang manajemen rantai pasok, gangguan terhadap keamanan pangan dan kesehatan masyarakat merupakan risiko yang memerlukan antisipasi serius. Pada 2016, ekspor ikan dari Indonesia ditolak oleh Uni Eropa sebanyak 52 kali karena kadar merkuri melewati batas maksimal. Alhasil, Indonesia menduduki urutan ke-21 dalam daftar eksportir dengan produk perikanan yang paling banyak ditolak Uni Eropa. Ancaman kesehatan masyarakat dan risiko kehilangan pasar membayang-bayangi rantai pasok yang melalaikan keamanan pangan.

Sambil menantikan kejelasan pembagian kewenangan terkait regulasi keamanan pangan laut, rantai pasok dapat melakukan upaya peningkatan kesadaran akan keamanan pangan. Sebelum ancaman pencemaran laut terhadap keamanan pangan memuncak, disarankan agar entitas rantai pasok, mulai dari nelayan, pembudidaya, pengepul, manufaktur pengolahan hasil perikanan, distributor, hingga peritel ikut berperan mewujudkan rantai pasok pangan laut yang aman.

Sebuah studi dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, Maryland pada 2014 lalu mengungkapkan 5 faktor yang berpengaruh positif terhadap kesadaran produsen akan keamanan pangan.

Faktor pertama adalah kontak dengan pelanggan. Melalui kontak personal dengan pelanggan, produsen pangan dapat memahami produk pangan yang aman. Hal ini memotivasi produsen pula untuk mewujudkan kepuasan pelanggan. Lambat laun, tumbuh rasa tanggung jawab untuk menyediakan produk pangan yang aman.

Kedua, konsumsi produk sendiri. Dengan mengkonsumsi produk yang dihasilkan sendiri, produsen termotivasi untuk menjaga keamanan dan kesehatan produk. Dalam konteks persaingan antara rantai pasok produk pangan berskala besar dengan yang berskala lebih kecil, kepercayaan (trust) dan reputasi sebagai penyedia produk pangan yang aman dan sehat menjadi penentu keberhasilan di pasar.

Ketiga, peningkatan standar mutu. Hal menarik dari studi ini adalah produsen pangan berskala kecil berpandangan bahwa standar mutu dan kesehatan pangan mereka lebih tinggi daripada produsen berskala besar, misalnya pabrik. Secara tidak langsung, pandangan seperti ini memotivasi produsen untuk melakukan kendali mutu yang ketat, bahkan melebihi ekspektasi pelanggan jika diperlukan. Standar keamanan pangan seperti Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) dan ISO 22000 Food Safety juga telah berlaku secara internasional.

Keempat, integrasi dengan entitas lainnya dalam rantai pasok. Dari nelayan hingga konsumen, rantai pasok produk pangan laut di Indonesia tergolong panjang. Banyaknya entitas yang terlibat dalam satu rantai pasok dapat mengurangi traceability. Selain tidak saling tahu, entitas yang satu tidak merasa bertanggung jawab atas keamanan proses di entitas lainnya. Diharapkan agar integrasi dalam satu rantai pasok dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama dalam satu rantai. Dengan demikian, tanggung jawab atas keamanan pangan laut tidak dibebankan pada salah satu pihak saja.

Kelima, transparansi informasi. Kesediaan untuk membuka akses informasi tentang praktik produksi kepada pemangku kepentingan tak bisa lepas dari peningkatan keamanan pangan. Pada era informasi seperti saat ini, sikap menutup pintu dari pandangan publik justru dapat menimbulkan kecurigaan terhadap proses produksi yang tidak aman.

Kelima faktor di atas disimpulkan dari studi mendalam di kawasan Maryland, Amerika Serikat terhadap sejumlah peternak berskala kecil yang memasok produknya langsung kepada konsumen. Skala pasokan yang kecil, seperti halnya sebagian besar nelayan di Indonesia, tidak menjadi halangan untuk membangun kesadaran akan keamanan pangan.

Laiknya mengubah model mental, membangun kesadaran akan keamanan pangan memang lebih mudah dikatakan daripada dikerjakan. Maka, diperlukan pula perubahan karakteristik konsumen di sisi hilir rantai pasok. Kalau konsumen awalnya bersikap acuh-tak acuh, kini konsumen perlu lebih menghargai pentingnya keamanan pangan laut.