Viral Belum Tentu Kekal

Melihat popularitasnya yang begitu cepat menanjak dan hanya mengandalkan promosi viralnya semata, maka ada kecenderungan untuk mengelompokkan fenomena es kepal ini ke dalam kategori the fad.

NOVERI MAULANA
Odoo image and text block

 


Oleh: Noveri Maulana M.M.Faculty Member of  PPM School of Management

*Tulisan ini dimuat di Majalah Pajak Vol. LIII 2018, p. 45

Akhir-akhir ini Indonesia diramaikan dengan fenomena Es Kepal yang cukup viral di kalangan pengguna media sosial. Walau es kepal tergolong produk nan sederhana, inovasi rasa yang dilakukan cukup mampu membuat banyak orang penasaran. Dengan menggaet produk susu coklat kenamaan, es kepal berhasil mencuri perhatian banyak orang di pasaran. Ditambah dengan word of mouth yang melejit melalui media sosial, es kepal semakin memperlihatkan dominasinya sebagai minuman kekinian yang wajib dicoba oleh semua kalangan.

Namun kita patut waspada dengan melejitnya nama es kepal dengan waktu yang relatif cepat. Pepatah mengatakan, sesuatu yang naik begitu cepat biasanya juga akan turun dalam waktu yang tidak terlalu lambat. Fenomena es kepal ini dikhawatirkan akan mengikuti jejak produk minuman fenomenal yang juga telah mulai hilang pamornya.

Sebut saja Cappucino Cincau, Es Kocok/Es Blender, minuman serba green tea, varian minuman thai tea-yang merajai pasar Indonesia pada masanya tapi sebagian tak mampu bertahan. Ada yang ditinggal pelanggan, ada pula yang tak mampu bertahan digempur saingan.

Es kepal sudah mulai menunjukkan tanda-tanda akan mengikuti jejak para pendahulunya. Hal ini semakin meneguhkan pemahaman bahwa mempertahankan keberlanjutan bisnis jauh lebih susah dibandingkan memulainya. Dan ini adalah tugas besar yang harus dipahami oleh setiap pelaku usaha.


Tiga tingkat popularitas

Menanggapi sebuah fenomena popularitas suatu produk di tengah masyarakat, para ahli bisnis telah mengelompokkan tingkat kepopuleran tersebut ke dalam tiga kategori, yaitu fad, trend, dan megatrend.

Fad atau the fad yang berarti popularitas yang naik begitu cepat dan juga akan turun dalam waktu yang juga cenderung cepat. Biasanya the fad lebih bersifat sensasional dan cenderung tidak bertahan lama. Hal ini tentu berbeda dengan trend yang sebagian ahli berpendapat bahwa suatu hal bisa disebut trend jika mampu bertahan lebih dari satu tahun.

Sedangkan megatrend adalah popularitas yang bertahan melampaui trend dengan masa waktu lebih dari tiga tahun. Bahkan, banyak orang berkeyakinan bahwa megatrend menjadi cikal bakal tradisi baru bagi satu generasi.

Lantas, bagaimana dengan fenomena es kepal yang sedang disorot saat ini? Apakah dia masuk kategori trend atau hanya sekadar the fad? Melihat popularitasnya yang begitu cepat menanjak dan hanya mengandalkan promosi viralnya semata, maka ada kecenderungan untuk mengelompokkan fenomena es kepal ini ke dalam kategori the fad.

Prinsip supply and demand sudah mulai berlaku. Pedagang semakin banyak, tapi permintaan cenderung stagnan dan bahkan menurun. Bagi sebagian orang, menikmati es kepal tak lain hanya sekadar memenuhi hasrat dan sensasi.

Sebenarnya, es kepal yang masuk kategori the fad ini bisa meningkat menjadi kategori trend jika para pelakunya mampu menghadirkan faktor lain yang menjadi kunci sukses usahanya. Perlu hal unik dan menarik lainnya agar orang semakin penasaran. Kritik terbesar kita ialah pada kemampuan pelaku usaha untuk menghadirkan keunggulan bersaingnya, bukan sekadar membangun popularitasnya semata. Karena dalam bisnis, popular saja tidak cukup.


Inovasi

Inovasi adalah kunci! Jika tidak maka satu produk akan segera masuk ke ranah transisi, bergerak maju atau perlahan menuju mati. Namun inovasi yang diciptakan bukan sekadar unik belaka, tapi harus mampu membuat hati pelanggan bertahan. Semakin Anda memahami keinginan pelanggan, semakin baik pula inovasi yang akan Anda ciptakan.

Fenomena es kepal ini juga mengajarkan kita bahwa dalam dunia bisnis butuh upaya besar untuk bertahan dalam persaingan. Jangankan untuk menang, bertahan saja tentu sudah sebuah upaya yang tak terkirakan. Begitulah sejatinya persaingan, butuh usaha untuk menang dan bertahan.

Dunia bisnis tidak akan pernah lepas dari persaingan, dan hal itu tak bisa dihindari. Persaingan adalah nadi yang membuat bisnis akan terus berjalan dengan optimal. Karena itulah, para pelaku usaha butuh strategi dalam menjalankan usahanya. Memenangkan hati pelanggan tak semudah menjawab popularitas dan viralnya di media sosial saja. Karena yang viral, memang belum tentu akan kekal.