Tugas Berat Seorang Pemimpin, Menjadi Role Model (1)

Kualitas terpenting bagi seorang pemimpin adalah personal credibility sebagai fondasi suatu kepemimpinan. Pentingnya personal credibility seorang pemimpin ini dapat terwujud dengan adanya “trust” di dalam organisasi.

RATU ENENG KUSUMANINGRAT
Odoo image and text block




Oleh: Ratu Eneng Kusumaningrat – Trainer, Jasa Pengembangan Eksekutif PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di Majalah SINDO WEEKLY No. 40, Tahun VIII, 2-8 Desember 2019, hlm. 50

Apakah tim Anda pernah sulit bergerak? Mereka tidak cekatan, bahkan tidak pernah melakukan apa yang diperintahkan dan perilaku mereka tidak seperti yang Anda dan organisasi harapkan?

Jika iya, mungkin karena arahan dari atasan belum tersampaikan dengan jelas dan tidak adanya apresiasi terhadap tim. Bisa jadi mungkin penyebabnya adalah sebagai pemimpin, kita belum menunjukkan sikap dan perilaku sebagai role model yang baik bagi anggota tim. Alhasil mereka tidak memiliki panutan yang dapat ditiru dan dijadikan teladan di organisasi.

Dalam suatu unit kerja, bahkan dalam sebuah organisasi pun, seorang pemimpin memegang peran yang sangat penting dalam meningkatkan kinerja untuk mencapai sasaran dan target organisasi. Seorang pemimpin dituntut memiliki kemampuan serta kemauan untuk mendorong, menginspirasi, dan memotivasi anggota timnya.

Kualitas terpenting bagi seorang pemimpin adalah personal credibility sebagai fondasi suatu kepemimpinan. Pentingnya personal credibility seorang pemimpin ini dapat terwujud dengan adanya “trust” di dalam organisasi, baik itu dari tim kepada pemimpin maupun sebaliknya, dan trust antar sesama anggota.  Sesuai ungkapan, “if people don’t believe in the messenger, they won’t believe the message.

Untuk mendapatkan kepercayaan dari anggota tim, pemimpin harus menjadi contoh, panutan, role model  yang positif bagi tim, lingkungan kerja, bahkan bagi organisasi di mana ia bernaung.  Hal ini juga diungkapkan oleh para top leaders  di berbagai perusahaan yang saat ini sudah menyadari pentingnya kepercayaan dalam perusahaan. Mereka mengungkapkan bahwa, pemimpin memegang peran penting membangun budaya trust dan dia harus menjadi panutan bagi anggota tim dalam organisasi.

Seperti Konsep Exemplary Leadership yang digagas oleh James Kouzes and Barry Posner dalam buku, The Leadership Challenge yang menyatakan bahwa Model the Way (memimpin dengan memberi contoh/teladan) adalah perilaku yang harus ditunjukkan oleh seorang pemimpin. Dalam model leadership mereka, dikenal dengan Kouzes and Posner's Leadership Challenge Model.

Menjadi seorang role model yang baik merupakan hasil dari proses panjang dan konsistensi seseorang. Menurut teori ini, modelling the way ditunjukan dengan dua komitmen, yaitu: find your voice dan set the example.

Find your voice direfleksikan dengan mengklarifikasi apa yang menjadi personal values diri sebagai pemimpin. Sementara set the example adalah dengan menunjukkan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai yang menjadi prinsip Anda sebagai seorang pemimpin.

Modelling the Way  adalah refleksi personal value yang ditunjukkan melalui sikap dan perilaku. Anggota tim akan melihat apakah sang pemimpin walk the talk, do what they say, dapat menunjukkan konsistensi dan komitmen dalam berkata dan bersikap.  Hal ini penting karena pemimpin adalah cermin bagi anggota tim. Segala tindak tanduk dan perilaku pemimpin  akan menentukan bagaimana mereka bersikap.

Masih menurut Kouzes and Posner, untuk modelling the way, seorang pemimpin harus memiliki prinsip yang ia yakini dan konsisten memperjuangkan prinsipnya. Ia tidak hanya menyatakan apa yang menjadi values serta prinsipnya lalu menyampaikannya dalam sebuah speech, kemudian memberi perintah kepada anggota timnya untuk berperilaku sesuai dengan apa yang diharapkan.

Lebih jauh dari itu, ia harus tunjukkan dengan perilaku, memberi contoh dan teladan apa yang diinginkan oleh organisasi. Mereka sadar betul bahwa dengan menunjukkan perilaku akan mendapat respect dan trust dari timnya.

Seorang pemimpin yang sudah menjadi role model yang baik adalah pemimpin yang dihargai dan disegani oleh anggota tim dan lingkungan organisasinya. Ia mampu membentuk teamwork yang kohesif serta dipandang sebagai seorang pemimpin yang kredibel. Ia memiliki kerendahan hati, terbuka untuk berdiskusi, menerima kritik dan saran untuk kepentingan bersama maupun perusahaan. Ia mampu menunjukkan kualitas kepemimpinan yang profesional sesuai dengan harapan perusahaan.

Seorang CEO dari sebuah perusahaan swasta di Indonesia menyatakan, ada tiga hal penting untuk mewujudkan “leading by example”, pemimpin yang menjadi panutan. Pertama, menetapkan ekspektasi kinerja yang tinggi untuk dirinya sendiri dan untuk timnya. Kedua, adanya kesadaran untuk menunjukkan sikap dan perilaku yang diinginkan dari timnya. Kemudian yang terakhir, memberikan apresiasi dan pujian atas kinerja, upaya perbaikan, dan perilaku positif yang ditunjukkan oleh anggota tim.