Strategi Efisiensi di Tengah Krisis Ekonomi

Di masa krisis, perusahaan harus mencari strategi untuk meminimalkan biaya produksi dan mempertahankan penjualan dan profit.

RICKY VIRONA MARTONO
Odoo image and text block




Oleh: Ricky Virona Martono – Core Faculty PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di Majalah Pajak Volume LXXV, 2020, hlm. 45

Pada masa krisis ekonomi, banyak perusahaan dituntut untuk meningkatkan efisiensinya di segala bidang, atau dalam arti yang singkat perusahaan harus meminimasi biaya produksi untuk mempertahankan tingkat penjualan dan profit dan minimal memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan perusahaan sejenis di pasarnya.

Ada tiga dimensi yang dapat dilihat berkaitan dengan efisiensi ini (Baye, 2003). Pertama, fungsi produksi, dengan Optimal Input Substitution dan Cost-Minimizing Input Rule. Optimal Input Substitution adalah perusahaan mengganti input produksi yang dapat meminimasi biaya produksi karena harga dari salah satu inputnya naik. Misalnya mengurangi jumlah labor (tenaga kerja) dengan menambah capital (teknologi), atau mencari raw material substitusi dengan harga lebih murah namun tetap memberi value yang paling tidak, sama baiknya.

Sedangkan dengan Cost-Minimizing Input Rule, peminimalan biaya dilakukan dengan tambahan biaya yang lebih sedikit pada satu input dibandingkan pengurangan biaya pada input lain. Misalnya melakukan pembelian raw material lebih besar atau kontrak jangka panjang untuk mengurangi harga per unit, dengan pengiriman sesuai kebutuhan (bukan dalam skala besar). Harapannya adalah dalam jangka 6-12 bulan krisis ekonomi akan berakhir, perusahaan memperoleh untung dari pembelian yang lebih murah.

Kedua, Faktor Firm Size / Concentration Ratio, yaitu besaran yang menyatakan berapa besar sales perusahaan terhadap industri yang sejenis. Semakin besar sales ataupun profit perusahaan terhadap perusahaan lain di industri yang sejenis, maka semakin besar Firm Size / Concentration Ratio dari perusahaan tersebut. Sehingga, meskipun perusahaan tersebut melakukan efisiensi biaya dan tetap meningkatkan harga, tingkat penjualannya masih dapat menguasai pasar karena masyarakat sudah mengetahui produknya itu.

Perusahaan dapat meminimalisasi biaya dengan menghasilkan produk yang tetap sama kualitasnya, misalnya dengan cara menjual produk yang lebih kecil volumenya tapi harga jual per satuan volumenya lebih besar. Hal ini juga untuk meraih segmen pasar bagi konsumen yang tidak mengkonsumsi produk tersebut terlalu banyak, meskipun biasanya strategi ini berhasil bagi perusahaan yang memiliki Concentration Ratio cukup besar.

Strategi di atas disebut dengan Just Noticeable Difference/JND, yaitu dengan mengurangi volume produk sedikit demi sedikit tanpa dapat dirasakan konsumen, dan menjual produk itu dengan harga yang sama seperti sebelum dikurangi volumenya.

Fungsinya bukan hanya untuk menekan biaya produksi sehingga bisa menghasilkan produk dengan harga yang lebih murah, tapi juga untuk menimbulkan daya tarik bagi konsumen. Namun demikian, daya tarik berupa dari sisi kemasan tidak perlu dibuat terlalu berlebihan, sebab kemasan yang terlalu menarik dapat menimbulkan kecurigaan konsumen bahwa produsen lebih mementingkan pengembangan kemasan daripada produk yang akan dikonsumsi masyarakat.

Selain itu, pada masa krisis ekonomi, penjualan perusahaan pasti menurun. Namun ketika persentase penurunan penjualannya masih lebih kecil dari persentase penurunan besaran pasar secara nasional, artinya perusahaan tersebut masih memiliki Concentration Ratio yang tinggi. Artinya, nama besar perusahaan baik, dan jika dilakukan strategi promosi yang bersifat sosial, perusahaan semakin erat menggandeng konsumen dan kelak akan memperoleh manfaat moneter setelah krisis ekonomi berakhir.

Yang terakhir adalah Faktor Transaction Cost dan Investments. Yang termasuk di dalam Transaction Cost adalah biaya mendapatkan supplier, biaya kesepakatan harga dari input, dan biaya investasi dan pengeluaran lain. Sementara itu, Investments dalam arti khusus mencakup biaya pengadaan aset dan tenaga kerja. Perusahaan harus mencari titik optimum dari biaya investasi dan output yang dihasilkan nanti.

Dari sini kita bisa melihat bahwa masa krisis ekonomi adalah peluang bagi perusahaan untuk mencari jenis investasi teknologi yang baru, peluang mempererat kerjasama dengan supplier, dan peluang menunjukkan kepedulian sosial kepada masyarakat. Semua peluang ini ibarat investasi yang akan diraih setelah badai krisis berlalu.

Artikel Terkait:

Ricky Virona Martono - Logistik Militer: Perang Era Modern

Ricky Virona Martono - Supply Chain Masa Pandemi: Masih Strategi Jadul 

Ricky Virona Martono - Peluang di Kutub Utara

Ricky Virona Martono -  "City Transportation" di Indonesia