Senjata Seorang Pelatih

Pemimpin harus menaruh kepercayaan kepada bawahan bahwa mereka bisa mengatasi masalah mereka sendiri. Pemimpin hanya membantu bawahan melalui serangkaian komunikasi dua arah yang produktif dalam proses coaching dan kemahiran dalam mengajukan pertanyaan.

ACHMAD FAHROZI
Odoo image and text block





Oleh: Achmad Fahrozi, M.M. – HR Consultant, Organization Development Services PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di Majalah Sindo Weekly No. 27 tahun VII, 3-9 September 2018, p.74

Perubahan lingkungan bisnis yang dinamis menuntut perusahaan bergerak cepat untuk beradaptasi agar tidak kalah bersaing, apalagi punah. Fenomena disruptif yang menyerang berbagai dunia usaha menuntut para pengambil keputusan memeras otak untuk mencari jalan keluar menyelamatkan perusahaan.

Berbagai inisiatif strategis dilakukan, mulai dari mengubah total arah bisnis perusahaan, meremajakan visi dan misi perusahaan agar kontekstual dengan zaman, membangun aliansi dan kolaborasi, mengembangkan pasar, melakukan digitalisasi produk dan proses bisnis, serta inisiatif lainnya.

Dari sekian banyak inisiatif tersebut, satu aspek yang perlu mendapat perhatian adalah upaya  perusahaan mengembangkan kapasitas kepemimpinan di dalam perusahaan; seberapa kuat dan cepat perusahaan menciptakan pemimpin-pemimpin hebat. Dengan ide, gerak dan pengaruhnya, pemimpin hebat mampu membawa perusahaan tetap hidup serta berkembang ditengah badai tantangan yang penuh turbulensi.

Realitas bisnis saat ini menuntut perusahaan memiliki pemimpin-pemimpin yang tidak hanya pandai mengarahkan karyawan, tetapi juga mampu memberdayakan mereka. Dengan kata lain, pemimpin memiliki peran baru sebagai pelatih atau coach. Jika dioptimalkan, peran ini akan membawa banyak manfaat bagi karyawan, pemimpin, dan tentunya perusahaan.

Pemimpin memiliki kesempatan menjadi partner bagi pertumbuhan dan pengembangan diri karyawan. Dampaknya, komitmen, kemandirian, dan kinerja karyawan pun meningkat. Pada akhirnya perusahaan akan menikmati produktivitas karyawan yang terus bertumbuh.

Untuk menjadi coach yang hebat, pemimpin membutuhkan sejumlah senjata yang harus dikuasai dan lihai digunakan. Tidak hanya dalam sesi coaching formal, keterampilan tersebut  juga sangat bermanfaat digunakan dalam interaksi pemimpin dan bawahan dalam situasi informal.

Senjata pertama seorang coach adalah mengajukan pertanyaan. Bagi banyak pemimpin, mengajukan pertanyaan terasa seperti hal mudah. Namun, pada praktiknya membuat dan mengajukan pertanyaan yang tepat dan berdaya (effective & powerful question) tidaklah semudah yang dibayangkan, terutama bagi para pemimpin yang selalu ingin memiliki kendali atau kontrol kuat terhadap bawahan.

Sebagai coach, pemimpin harus menahan diri dari memberi banyak informasi, atau melakukan instruksi dan memberi solusi kepada bawahan. Terlebih sampai mengambil alih masalah bawahan untuk diselesaikannya. Sebagai gantinya, pemimpin harus lebih banyak menggali apa yang ada di dalam pikiran bawahan dan membantunya memahami sendiri situasi yang mereka hadapi. Kemudian pemimpin dapat memprovokasi dan menantang bawahan untuk  mencari solusi-solusi kreatif yang paling efektif sebagai jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi.

Intinya adalah pemimpin meminta tanggung jawab dan akuntabilitas kepada bawahan untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri. Pemimpin hanya memfasilitasi bawahan guna menyelesaikan masalahnya.

Pemimpin harus menaruh kepercayaan kepada bawahan bahwa mereka bisa mengatasi masalah mereka sendiri. Pemimpin hanya membantu bawahan melalui serangkaian komunikasi dua arah yang produktif dalam proses coaching dan kemahiran dalam mengajukan pertanyaan. Bertanya dengan tepat dan berdaya adalah senjata yang sangat membantu pemimpin melakukan pekerjaan tersebut.

Secara umum, terdapat dua kelompok besar pertanyaan yang dapat digunakan dan diajukan oleh seorang coach kepada coachee. Pertama, kelompok pertanyaan yang bertujuan membantu coachee mengetahui situasi yang dihadapinya. Kedua, kelompok pertanyaan yang bertujuan membantu coachee mengetahui apa yang harus dilakukan ke depannya.