Resolusi Tahun Baru: Menjadi Perbaikan atau Sekadar Harapan?

Pada dasarnya, kebiasaan adalah sebuah koneksi antar neuron di otak kita. Semakin kita sering menampilkan perilaku, semakin kuat koneksi antar neuron yang terjadi.

MAHARSI ANINDYAJATI
Odoo image and text block




Oleh: Dr. Maharsi Anindyajati, M.Psi., Psikolog - Head of Center for Human Capital Development PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di Majalah SINDOWEEKLY No. 48 Tahun VIII, 27 Januari-2 Februari 2020

Bagaimana resolusi tahun-tahun sebelumnya? Sudahkah terwujud? Berdasarkan survei yang dilakukan oleh seorang psikolog dari Inggris, Richard Wiseman, terhadap sekitar 3.000 orang,  sebanyak 88% responden gagal mewujudkan resolusi tahun baru mereka.

Penyebab kegagalan pertama karena adanya illusory superiority pada diri kita. Illusory superiority adalah sebuah bias kognitif yang ditunjukkan dengan melebih-lebihkan kemampuan dirinya dibanding kemampuan orang lain.

Kita sering berpikir bahwa kita akan berhasil melakukan resolusi kita tahun ini, meskipun gagal dalam mewujudkannya di tahun sebelumnya. Dampaknya, kita luput melakukan evaluasi atas penyebab kegagalan tersebut.

Kita cenderung melihat penyebab kegagalan karena faktor eksternal. Misal, kita gagal menurunkan berat badan karena harus melakukan jamuan makan dengan para klien.  Dengan demikian, sangat penting dalam membuat resolusi tahun baru kali ini, kita melakukan evaluasi penyebab kegagalan pencapaian tahun lalu tanpa menyalahkan pihak atau faktor eksternal.

Penyebab kegagalan lainnya adalah terlalu banyak keinginan yang kita buat. Saat membuat resolusi tahun baru, kita memiliki tekad kuat untuk dapat mewujudkannya. Area di otak kita yang banyak bertanggung jawab terkait dengan tekad yang kita miliki adalah Pre Frontal Cortex (PFC) yang terletak persis di belakang dahi kita. Bagian ini berfungsi untuk menjaga kita agar tetap fokus, mengelola ingatan jangka pendek, dan melakukan pemecahan masalah kompleks.

Dengan tugasnya yang berat tersebut, tidak mengherankan jika PFC dapat luput menjaga kita untuk tetap melakukan upaya mewujudkan resolusi tahun baru. Oleh karena itu, disarankan untuk memilih resolusi paling penting dari sekian banyak keinginan kita tahun ini. Hal ini akan lebih memudahkan kerja PFC. Susunlah resolusi tersebut secara SMART (specific, measureable, achievable, realistic, dan timely).

Setelah menyusun resolusi tahun baru, biasanya kita akan mengalami fenomena affective forecasting. Fenomena ini terjadi lantaran kita menggunakan apa yang kita rasakan saat ini untuk memprediksi perasaan kita di masa mendatang. Hanya dengan membuat resolusi tahun baru, kita merasa senang dan beranggapan bahwa rasa senang tersebut akan hadir di waktu-waktu mendatang.

Kondisi ini sering membuat kita terlena untuk mengambil tindakan dan cenderung menundanya. Karena tentunya saat bertindak, perasaan yang muncul tidak sesenang saat menyusun resolusinya. Prokastinasi atau kecenderungan menunda untuk bertindak merupakan salah satu penyebab kegagalan resolusi tahun baru kita.

Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk segera mengambil tindakan, terutama dalam kurun waktu dua bulan pertama di tahun ini.

Hal yang tidak kalah penting adalah segera mengambil tindakan dan membentuk kebiasaan terhadap perilaku kita tersebut. Kegagalan dalam mewujudkan resolusi juga disebabkan karena kita tidak mampu membentuk kebiasaan baru. Kebiasaan terbentuk dari pengulangan perilaku.

Pada dasarnya, kebiasaan adalah sebuah koneksi antar neuron di otak kita. Semakin kita sering menampilkan perilaku, semakin kuat koneksi antar neuron yang terjadi. Permasalahannya, kita sering memersepsikan perilaku terkait dengan resolusi kita sebagai hal yang kurang menyenangkan. Mencoba lebih sabar, mengubah pola hidup, atau mengurangi belanja konsumtif, lebih sering kita asosiasikan dengan hal yang memberatkan dan kurang menyenangkan.

Akibatnya, sulit bagi kita untuk mulai memunculkan perilaku tersebut, apalagi kemudian membentuk kebiasaan atas perilaku. Oleh karena itu, terlebih dahulu bentuk asosiasi yang positif antara perilaku dan hal yang menyenangkan, sehingga kita lebih antusias dalam menampilkan perilakunya.