Polemik Jalan Tol Jakarta-Surabaya

Sepanjang jalan tol ini ada beberapa kawasan industri yang pada akhirnya akan meningkatkan ekonomi daerah karena berbagai efisiensi transportasi tadi.

RICKY VIRONA MARTONO
Odoo image and text block




Oleh: Ricky Virona MartonoTrainer, Executive Development Services  PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di Majalah SindoWeekly No. 08, Tahun VIII, 22-28 April 2019, hlm. 82

Pada bulan Desember 2018, Tol Trans-Jawa resmi dibuka, menghubungkan Merak sampai Surabaya. Dalam waktu dekat, penyambungan tol tersebut akan dilanjutkan sampai Banyuwangi. Capaian selama lima tahun ini patut diacungi jempol. Hanya Daendels yang pernah membangun jalan besar sepanjang Pulau Jawa pada tahun 1808. Jalan tersebut dinamai Jalan Raya Pos.

Pro dan kontra bermunculan sejak dibukanya Jalan Tol Trans-Jawa. Sebut saja misalnya tarif Tol Jakarta-Surabaya sebesar Rp1,5 juta yang diprotes para pengusaha. Mereka menuntut tarifnya tidak melebihi Rp800 ribu. Berikutnya, dengan beralihnya pengendara dari jalan nasional ke jalan tol, usaha kecil di sepanjang jalan nasional turun. Pemerintah pun mewajibkan area istirahat di jalan tol hanya diisi oleh usaha rakyat.

Menurut klaim dari Jasa Marga, penghematan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) sebelum tol tersambung untuk kendaraan kecil, kendaraan golongan II, dan golongan III masing-masing sebanyak 115 liter, 438 liter, serta 558 liter. Setelah tol tersambung, konsumsi BBM turun sekitar 23%.

Menurut informasi Asia Foundation tahun 2008, sekitar 34% beban biaya transportasi darat di Indonesia berasal dari harga BBM. Jika ada penghematan konsumsi BBM sebesar 23%, potensi penurunan biaya transportasi darat mencapai 7,82% (=34% x 23%).

Mari kita lihat dampak yang lebih luas dan lebih besar. Pertama, tujuan dari pembangunan infrastruktur ini adalah memperlancar arus barang dan sistem logistik Indonesia. Jalan tol ini akan mempercepat dan memberi kepastian waktu pengiriman barang dibandingkan jalan nasional yang kerap dihadapkan pada kemacetan, jalan berlubang, preman, dan lain-lain. Tol ini pun mampu mengurangi risiko jalan nasional yang rusak karena adanya kelebihan beban ketika truk berlalu.

Kedua, kalau kita berkaca pada negara maju, pengiriman barang banyak memanfaatkan berbagai moda, sebut saja di Jerman yang 17% pengiriman barangnya melalui jalur kereta (Sehlleier, 2019). Di Belanda, lebih dari 20% (Zepeda, 2016) bahkan memanfaatkan Sungai Rheine untuk melakukan pengiriman barang sampai ke bagian tengah Eropa.

Di Pulau Jawa, baru mencapai 1% pengiriman dengan usia rata-rata truk mencapai 15 tahunan. Alhasil, untuk mencapai efisiensi yang setara dengan negara maju, pembangunan jalan tol barulah solusi pertama. Berikutnya, negara harus memanfaatkan jalur kereta dan sungai, sehingga dapat mengurangi kemacetan di Jalan Tol.

Ketiga, di sepanjang jalan tol ini ada beberapa kawasan industri yang pada akhirnya akan meningkatkan ekonomi daerah karena berbagai efisiensi transportasi tadi. Secara tidak langsung dapat meningkatkan demand, sehingga bisa memacu pengiriman barang yang lebih banyak.

Keempat, tol ini mendukung manfaat dari integrasi antarmoda transportasi (intermoda), misalnya truk dengan kapal laut atau truk dengan mobil. Dampak dari sisi ekonomisnya: kita mampu menurunkan biaya perawatan moda transportasi dan mengurangi biaya perawatan jalan raya karena setiap moda transportasi dimanfaatkan sesuai kondisi geografisnya secara efektif; mengefisienkan konsumsi bahan bakar karena truk dan mobil berjalan pada kecepatan yang stabil di jalan tol dibanding jika melewati jalan nasional; sistem distribusi lebih kuat dari dampak negatif kondisi cuaca serta lingkungan.

Perjalanan Indonesia membangun infrastruktur dan mengefisienkan sistem logistik masih panjang. Sebaiknya kita tidak menilai dari satu isu saja. Kita juga mesti terus mendukung pembangunan-pembangunan yang akan datang, karena semua pembangunan (dan dampak sosial ekonomi) pastinya sudah direncanakan matang. Sebut saja contohnya rencana pembangunan berikutnya, yaitu Jalan Tol Jalur Selatan.

Saat ini, perekonomian di selatan Jawa mungkin tidak setinggi di sisi utara. Namun, kehadiran jalan penghubung bebas hambatan diproyeksikan mampu menggairahkan ekonomi di selatan Jawa. Apalagi Badan Penanaman Modal Jawa Tengah mendorong pembangunan kawasan industry di Cilacap, Banyumas, Kebumen, dan Purworejo. Industri tersebut dapat memanfaatkan jalan tol untuk pengiriman barangnya.

Ditambah lagi, saat ini sedang disiapkan sarana pendukung lain di sisi selatan yaitu pembangunan Bandar Udara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kulon Progo. Jadi, kalau kita lihat, sebenarnya ada integrasi pembangunan infrastruktur dan kita dapat segera membahas gambaran besar mengenai perbaikan logistik Indonesia.