Perilaku dan Perusahaan Transportasi Daring Sebagai Agen Perubahan

Kebanyakan pengemudi paham mengendarai kendaraan tapi tidak paham bagaimana mengemudi dengan baik dan benar.

RICKY VIRONA MARTONO
Odoo image and text block




Oleh: Ricky Virona Martono – Core Faculty  PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di Majalah SINDO WEEKLY No. 32, Tahun VIII, 7-13 Oktober 2019, hlm. 82

Di Jepang, pada masa restorasi Meiji, golongan Samurai sebagai kelas masyarakat tertinggi melebur di masyarakat demi membantu kemajuan Jepang. Dengan semangat bushido, para samurai ini menularkan karakter kedisiplinan, dedikasi, menjunjung kehormatan, harga diri, dan watak kesatria lainnya. Hal ini mendorong kemajuan Jepang dan mengejar ketertinggalannya dari Barat.

Konsep ini dapat diterapkan di Indonesia pada isu transportasi dan logistik perkotaan. Perusahaan transportasi daring yang didirikan oleh anak muda berpendidikan tinggi, karyawan yang cerdas, dan investasi melimpah sudah selayaknya berperan sebagai agen perubahan bagi situasi transportasi Indonesia yang parah.

Seiring dengan meningkatnya nilai perusahaan, mereka wajib “mengajari” dan “mengarahkan” rekan kerja sesama pengemudi agar dapat menjadi contoh bagi pengemudi lain. Misalnya saja, mewajibkan cara mengemudi yang baik dan benar, menyediakan fasilitas asuransi bagi pengemudi dan penumpang, mewajibkan pengemudi mematuhi rambu-rambu lalu lintas, taat ketika melanggar (tidak menghindari razia), dan tidak menyogok aparat.

Di sisi lain, pemerintah dan investor pun perlu berperan sebagai pengawas dan penilai perubahan tersebut. Perlu usaha-usaha promosi berkendara yang baik dan benar oleh Pemerintah dan teladan di lapangan langsung dari  kepolisian. Peran investor, misalnya, dapat memprioritaskan kriteria penilaian perusahaan transportasi pada sisi kedisiplinan pengemudi, sebelum memutuskan investasi mereka.

Mengapa isu ini penting? Sebab, banyaknya isu ketidakdisiplinan pengendara di Indonesia. Kemacetan jalan raya di dalam kota mendorong para pengemudi mencari cara mencapai tujuan lebih cepat, yaitu menerobos setiap celah dan peluang rambu-rambu lalu lintas. Jalan raya yang salah urus sehingga menimbulkan macet malahan memunculkan perilaku buruk berkendara.

Bagi pengusaha, informasi dari Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo), kemacetan mengakibatkan pengiriman jumlah barang menurun 40% dari kondisi normal. Akibatnya tidak sedikit truk yang dipaksa membawa barang lebih banyak dari kapasitas maksimumnya, atau dikenal dengan istilah over dimension over load (ODOL).

Kementerian Perhubungan, seperti dikutip dari Bisnis.com, pada bulan Juli 2019 menyatakan 81,07% angkutan barang melanggar ketentuan ODOL. Belum lagi jumlah pelanggaran yang ditemukan di area jembatan timbang, terdiri dari 57,15% pelanggaran dokumen, pelanggaran tata cara muat 5,23 %, persyaratan teknis mencapai 0,7%.

Bagaimanakah perilaku yang wajib ditunjukkan oleh perusahaan-perusahaan transportasi agar dapat berperan sebagai agen perubahan?

Pertama, perusahaan harus memiliki visi dan nilai-nilai yang mendukung kepeduliannya bagi kemajuan masyarakat luas. Dengan didukung oleh para pendiri dan pengelola perusahaan yang terdidik, disiplin, berpengalaman di berbagai organisasi/perusahaan lain, bukan tidak mungkin visi ini dapat tercapai.

Kedua, perusahaan-perusahaan transportasi wajib memberi contoh dan teladan yang konsisten dan terus menerus. Usaha mengubah kebiasaan mengemudi perlu waktu dan usaha yang tidak sedikit. Namun, begitu hasilnya tercapai, dampaknya pun akan sangat terasa oleh banyak pihak. Bukan hanya keuntungan materiel tapi juga nama baik perusahaan.

Ketiga, mereka yang memberi contoh pada masyarakat perlu dibekali pengetahuan yang cukup sehingga apa yang mereka contohkan memang sejalan dengan peraturan berlaku. Kebanyakan pengemudi paham mengendarai kendaraan tapi tidak paham bagaimana mengemudi dengan baik dan benar.

Terakhir, membangun hubungan baik dengan masyarakat. Karakter yang baik dari perusahaan yang berperan sebagai agen perubahan adalah tidak berperan “mengajari”, tetapi merangkul segenap stakeholder karena posisi yang setara antar-pengemudi; mengomunikasikan tujuan dari tindakan disiplin adalah demi kemajuan bersama; dan mendorong pihak lain yang berubah untuk ikut menularkan perilaku mengemudi yang baik ini kepada orang lain.