Perempuan Indonesia dalam Dunia Bisnis

Terlepas dari bagaimana perempuan mendapatkan tampuk kepemimpinan bisnis di Indonesia, perempuan dalam dunia bisnis memiliki peranan yang sangat krusial.

FITRI SAFIRA
Odoo image and text block




Oleh: Fitri Safira M.M.Trainer, Jasa Pengembangan Eksekutif     PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di Majalah Sindo Weekly No. 09 Tahun VII,       30 April-6 Mei 2018 p. 76-77

Baru-baru, Grant Thornton memublikasikan hasil riset tentang peranan wanita dalam dunia bisnis. Salah satu temuan yang menarik adalah secara global, persentase bisnis dengan setidaknya satu orang wanita dalam jajaran manajemen senior meningkat bila dibandingkan dengan persentase 2017. Rinciannya, tahun ini ada 75% sedangkan 2017 kemarin hanya sebesar 66%.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Isu tentang perempuan sebagai pemimpin bukan hal yang baru di Indonesia. Sejak zaman pra-kemerdekaan dahulu, kita telah mengenal sosok Cut Nyak Dien, Martha Christina Tiahahu, dan tentu saja Kartini sebagai sosok pahlawan perempuan.

Cut Nyak Dien, seperti yang banyak dituliskan dalam buku-buku sejarah, merupakan perempuan yang turut berperang melawan Belanda dalam Perang Aceh. Kepemimpinannya dalam masa perang dahulu lebih dipengaruhi pada trah bangsawan yang ada dalam dirinya. Ia memiliki ayah yang merupakan bagian dari pemerintahan Kerajaan Aceh.

Hal yang sama juga terjadi pada Martha Christina Tiahahu. Sebagai sosok perempuan yang aktif dalam kegiatan militer bersama Pattimura, ia banyak dipengaruhi oleh sosok ayahnya yang juga merupakan seorang perwira militer.

Lain hal dengan Kartini. Sosok pahlawan perempuan ini mampu menjadi sebuah inspirasi dalam ranah kepemimpinan melalui tekadnya untuk memperoleh pendidikan dan menembus batas-batas norma tradisional yang mengungkung kaum hawa pada zamannya.

Dalam dunia bisnis masa kini, telah banyak bermunculan sosok perempuan yang menjadi pemimpin dalam berbagai perusahaan. Sebagian dari mereka mencapai posisi tersebut melalui tangga karier profesional yang ia tapaki satu per satu hingga mencapai anak tangga paling atas, seperti Kartini. Sebagian lainnya menduduki posisi tersebut melalui proses suksesi perusahaan keluarganya, seperti Cut Nyak Dien dan Martha Christina Tiahahu.

Terlepas dari bagaimana perempuan mendapatkan tampuk kepemimpinan bisnis di Indonesia, perempuan dalam dunia bisnis memiliki peranan yang sangat krusial. Di Indonesia dan negara-negara Asia lainnya, perempuan dikenal sebagai sosok yang memiliki kemampuan untuk mengelola berbagai macam hal. Tidak hanya itu, perempuan juga cenderung untuk melakukan negosiasi sebagai salah satu pendekatan dalam pemecahan masalah.

Ada perbedaan tipe kepemimpinan antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki cenderung melakukan tindakan koersif sebagai pemecahan masalah. Sementara, perempuan cenderung lebih mampu untuk menghasilkan win-win solution yang akan memberikan dampak positif bagi kegiatan bisnis.

Sayangnya, persentase yang masuk pasar kerja di Indonesia masih kalah dari kaum Adam. Berdasarkan data BPS Tahun 2017, hanya 55% perempuan Indonesia yang mampu menembus pasar tenaga kerja. Angka ini tergolong sangat rendah jika dibandingkan dengan fakta bahwa 83% persen laki-laki Indonesia yang masuk ke dalam pasar tenaga kerja.

Beberapa opini juga menyatakan bahwa untuk dapat menempati posisi manajemen puncak, perempuan harus memberikan upaya yang jauh lebih besar daripada laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa kesetaraan gender masih menjadi satu isu penting yang belum terselesaikan.  

Lantas, bagaimana cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi bias gender dalam dunia kerja? Salah satu langkah awal yang dapat dilakukan adalah dengan membuat komposisi karyawan yang seimbang menurut gender. Proses rekrutmen perlu dibuka seluas-luasnya tanpa memandang perbedaan gender. Keberadaan jumlah karyawan perempuan yang cukup akan mampu memberikan berbagai pandangan dan perspektif yang lebih luas dalam ranah bisnis.

Selanjutnya, perusahaan juga perlu membuat kebijakan sumber daya manusia yang lebih netral dan tidak bias. Kebijakan ini dapat diwujudkan dalam beberapa hal sebagai berikut.

 

Kesempatan Pengembangan Diri

Bagi para praktisi SDM, salah satu tantangan terberat adalah menemukan cara untuk meningkatkan engagement dari para karyawan. Tantangan ini menjadi lebih sulit ketika dihadapkan pada kebutuhan untuk memastikan bahwa karyawan perempuan dengan bakat, kecerdasan, dan aspirasi karier yang luar biasa akan mampu untuk mengisi kursi manajemen puncak. Perlu dilakukan proses identifikasi untuk memilih calon pemimpin perempuan, dan memberikan kesempatan pengembangan diri yang sama dengan karyawan laki-laki. Dengan upaya retensi yang tepat, kebijakan, dan program pelatihan yang cocok, risiko kehilangan pemimpin perempuan yang menjanjikan dapat dihindari.

Kabar tentang bermunculannya tren perempuan meninggalkan pekerjaan untuk fokus mengurus rumah tangga bukan hal yang baru. Oleh karena itu, perusahaan perlu memberikan fleksibilitas kepada karyawan perempuan. Fleksibilitas ini dapat berupa waktu kerja yang bisa diatur sesuai dengan ritme pekerjaan di perusahaan dan keperluan rumah tangga. Selain itu, fasilitas seperti asuransi kesehatan untuk anak dan tempat penitipan anak dapat menjadi salah satu hal yang dilakukan untuk menciptakan keseimbangan hidup dengan bekerja.

Bias gender dalam isu promosi di tempat kerja terkadang merupakan sesuatu yang tak kasatmata. Namun, data dari Harvard Business Review menunjukkan bahwa jumlah perempuan semakin sedikit sejalan dengan semakin mengerucutnya piramida kepemimpinan.

Pada entry level, secara umum terdapat 46% perempuan. Proporsi perempuaan semakin menurun hingga 19% dibandingkan laki-laki. Untuk menjaga agar proporsi gender ini tetap seimbang diperlukan kebijakan yang netral dan dukungan untuk para perempuan agar dapat menembus tangga karier yang lebih tinggi.