Pentingnya Informasi dalam Manajemen Pariwisata

Dalam konsep manajemen rantai pasok pariwisata, barang/jasa bukan hanya satu-satunya hal yang dipertukarkan. Uang dan informasi pun menjadi poin penting dalam konsep ini. Uang sudah jelas didapat ketika terjadi pertukaran barang/jasa.

ANNISA KUSUMAWATI
Odoo image and text block




Oleh: Annisa Kusumawati, M.M. – Trainer, Executive Development Services PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di Majalah Pajak Volume LIX  2019, hlm. 31

Presiden Joko Widodo dalam Rapat Terbatas menyampaikan bahwa pariwisata akan dijadikan sektor utama (leading sector). Menteri Pariwisata Arief Yahya, mengatakan, pariwisata merupakan penyumbang PDB, Devisa, dan lapangan pekerjaan yang paling mudah dan murah. Pemerintah menetapkan pada tahun 2019, sektor pariwisata mampu menjadi penghasil devisa terbesar, yaitu sekitar 24 miliar dollar AS.  Apakah Indonesia mampu meraih target ini?

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik dan Kemenpar, sektor pariwisata menyumbang devisa terbesar kedua setelah CPO dan migas pada tahun 2016. Melihat pencapaian ini, maka harusnya kita optimistis bahwa sektor Pariwisata mampu mencapai targetnya di tahun 2019.

Jika dilihat dari konsep tourism supply chain management atau manajemen rantai pasok pariwisata, yaitu proses perencanaan, pengorganisasian, implementasi dan pengendalian arus perpindahan barang/jasa, informasi dan uang guna memenuhi kebutuhan pelanggan (wisatawan), kita akan melihat entitas yang terlibat adalah seperti di bawah ini:

Odoo CMS - a big picture

Dalam gambar tersebut, masing-masing entitas memberikan layanan jasa dan informasi yang berbeda. Restoran memberikan kepastian ketersediaan makanan. Penginapan memberikan kepastian ketersediaan tempat bermalam. Pengelola tempat wisata berlomba-lomba menyajikan pertunjukan dan pemandangan yang fantastis. Transportasi memberikan kepastian armada untuk perpindahan antar lokasi. Sedangkan wisatawan memerlukan perantara jasa agen, baik off-line ataupun on-line, untuk memesan sarana transportasi, penginapan dan restoran.

Dalam konsep manajemen rantai pasok pariwisata,  barang/jasa bukan hanya satu-satunya hal yang dipertukarkan. Uang dan informasi pun menjadi poin penting dalam konsep ini. Uang sudah jelas didapat ketika terjadi pertukaran barang/jasa. Lalu bagaimana dengan informasi?

Penulis melihat, informasi yang terjadi sepanjang mata rantai sektor pariwisata ini terputus. Misalnya, wisatawan ingin berlibur ke Ubud, Bali. Kita bisa memesan tiket pesawat, hotel, atraksi wisata secara on-line dalam satu media. Kita juga bisa mengetahui rincian total biaya pemesanan. Sesampainya di bandara, kita melanjutkan perjalanan menggunakan moda transportasi darat yang bisa dipesan setibanya di Bali, atau memesan melalui kontak pribadi sebelum tiba di Bali.

Pilihan moda transportasi darat pastilah banyak sekali, namun pilihan ini tidak dapat disediakan oleh jasa agen perjalanan. Kemudian beberapa atraksi wisata pun harus beli langsung di lokasi wisata. Masih sedikit sekali atraksi/loket masuk tempat wisata yang bisa dibeli sebelum tiba di Bali.

Beberapa daerah di Indonesia sudah punya aplikasi seperti Bandung Smart City dikembangkan oleh Pemkot Bandung, Wis Semar oleh Pemerintah Semarang, Jogja Istimewa oleh Pemerintah Yogyakarta. Secara garis besar aplikasi ini hanya menyediakan informasi mengenai destinasi wisata, rekomendasi kuliner setempat, event, pelayanan publik, dan rekomendasi transportasi.

Namun pada aplikasi tersebut, pengguna belum bisa melakukan pemesanan (reservasi). Lain halnya dengan aplikasi seperti Traveloka atau TripAdvisor yang dapat melakukan reservasi dalam satu media aplikasi, mulai dari pembelian maupun penyewaan transportasi, hotel, tempat makan, event dan sistem pembayarannya.

Melihat pemaparan di atas dan berkaca jika kita hendak berwisata ke luar negeri, informasi merupakan salah satu bagian penting selain aliran barang/jasa dan uang dalam tourism supply chain management. Namun seringkali informasi ini terputus atau bahkan ada entitas yang tidak tahu informasi mengenai end-consumer-nya.

Alangkah baiknya informasi yang tersedia untuk pariwisata dalam negeri bisa terintegrasi. Sehingga para wisatawan akan lebih aman dan nyaman dalam bepergian, selain itu juga bisa memperkirakan total biaya yang dikeluarkan saat itu juga (dalam satu media informasi).

Apabila ini bisa dilakukan, penulis yakin pada tahun 2019, target devisa sebesar 24 miliar dollar AS dari sektor Pariwisata, dapat tercapai.