Penalaran Strategis Mendeteksi Kecurangan Laporan Keuangan

Sangat penting bagi investigator memahami keterkaitan pihak-pihak lain dengan perusahaan untuk dapat memahami berbagai kemungkinan aliran dana maupun kemungkinan kecurangan yang terorganisasi.

MARTDIAN RATNA SARI
Odoo image and text block




Oleh: Martdian Ratna Sari- Faculty Member PPM School of Management


*Tulisan ini dimuat di Majalah PAJAK Volume LXXI|2020, hlm. 37

Sejak akhir tahun lalu, pemberitaan soal Jiwasraya tidak bisa membayar klaim asuransi nasabahnya mulai viral. Bahkan, tahun 2018 BPK sudah melakukan audit investigasi pendahuluan. Dari hasil investigasi pendahuluan tersebut BPK menemukan penyimpangan-penyimpangan yang berindikasi fraud terkait pengelolaan saving plan dan investasi.

Sejatinya pada  tahun 2006 Jiwasraya memperoleh laba, namun laba tersebut merupakan laba semu yang diperoleh akibat melakukan window dressing akuntansi untuk menyajikan laba. Kenyataannya saat ini, dari tahun ke tahun Jiwasraya mengalami kerugian yang semakin besar.

Berkaca dari kasus-kasus BUMN seperti Jiwasraya dan Garuda Indonesia akhir-akhir ini, memberikan gambaran bahwa tindakan preventif terkait isu kecurangan masih belum bisa optimal dilakukan atau bahkan belum dilakukan sama sekali. Bahkan kecenderungannya adalah mengalami kerugian terlebih dahulu baru pencegahan dan pendeteksian dilakukan. Untuk itu, dirasa perlu untuk kita pahami bagaimana kerangka kerja untuk mendeteksi kecurangan laporan keuangan dengan menggunakan Penalaran Strategis (Strategic Thinking)

Mengidentifikasi eksposur kecurangan merupakan salah satu tahapan yang paling sulit dalam mendeteksi kecurangan laporan keuangan. Mengidentifikasi eksposur dengan benar berarti kita harus memahami secara jelas kegiatan operasional dan sifat dasar dari organisasi tersebut dan para pesaingnya.

Investigator harus memahami bagaimana suatu perusahaan dikelola dan bagaimana hubungan perusahaan tersebut dengan pihak-pihak lain, serta apa pengaruh dari masing-masing pihak terhadap manajemen perusahaan. Karenanya, sangat penting bagi investigator memahami keterkaitan pihak-pihak lain dengan perusahaan untuk dapat memahami berbagai kemungkinan aliran dana maupun kemungkinan kecurangan yang terorganisasi.

Selain perlu memahami bagaimana pengelolaan suatu perusahaan, investigator juga perlu menggunakan penalaran strategis ketika melakukan pendeteksian kecurangan. Penalaran strategis mengacu pada kemampuan untuk mengantisipasi kemungkinan metode penyembunyian kecurangan yang dilakukan oleh para pelaku kecurangan.

Karena pada dasarnya kecurangan merupakan hal yang strategis, sehingga kecenderungan manajemen untuk melakukan kecurangan tergantung pada audit yang telah diperhitungkan sebelumnya, pun pendekatan auditor untuk mendeteksi kecurangan dipengaruhi oleh potensi manajemen untuk melakukan kecurangan.

Pemikiran memiliki peranan besar dalam pengaturan strategis seperti game theory.  Game theory mencoba memprediksi perilaku yang didasarkan pada respons terbaik secara individual yang memiliki kecenderungan terhadap motivasi dan kepercayaan individu tersebut mengenai bagaimana kemungkinan perilaku dari pihak lainnya.

Ada tiga tingkatan penalaran strategis yaitu, zero order reasoning, first order reasoning dan higher level reasoning.

Zero order reasoning terjadi ketika auditor dan auditee hanya mempertimbangkan kondisi yang secara langsung memengaruhi mereka, tetapi bukan pihak-pihak lain. Dalam menerapkan zero order reasoning, auditor hanya mempertimbangkan besarnya insentif yang akan diterimanya saja, seperti fee audit, biaya sampel dan denda.

Adapun first order reasoning, auditor akan mempertimbangkan kondisi yang secara langsung memengaruhi auditee. Dalam pendekatan ini auditor mengasumsikan bahwa auditee menggunakan zero order reasoning dan mengembangkan perencanaan audit yang mempertimbangkan insentif auditee. Misal, ketika auditor memperkirakan akan terjadi penyembunyian sejumlah aset oleh manajemen, maka auditor akan memodifikasi perencanaan audit sedemikian rupa agar membeberkan adanya penyembunyian kecurangan tersebut. Yang mana dalam pendekatan ini auditor tidak mempertimbangkan apakah auditee telah mengantisipasi perilaku auditor tersebut.

Sedangkan higher level reasoning, terjadi ketika auditor mempertimbangkan adanya tambahan tingkatan kompleksitas, termasuk bagaimana manajemen mengantisipasi perilaku auditor. Misalnya, manajemen dapat memprediksi dengan akurat prosedur audit apa yang akan digunakan oleh auditor, ketika hal itu terjadi skema kecurangan laporan keuangan pun dikembangkan, sehingga pendekatan auditor yang biasa akan gagal dalam mendeteksi. Maka auditor akan menggunakan penalaran higher level reasoning dengan menggunakan prosedur yang tidak dapat diduga sebelumnya dan melakukan pengujian-pengujian yang tidak pernah diketahui sebelumnya oleh manajemen, sehingga kecurangan dapat terdeteksi.

Penalaran strategis sangat penting dalam mendeteksi kecurangan, seperti mengasumsikan setiap kemungkinan yang akan terjadi. Coba dipikirkan, jika auditor dan investigator memodifikasi prosedur auditnya dan secara teratur menerapkan beberapa prosedur yang tidak terduga, lalu bagaimana dengan peluang dari pelaku kecurangan?