Pemberdayaan Psikologis

Atasan sering menunggu memberikan penghargaan pada sebuah pencapaian yang luar biasa. Padahal tidaklah sulit untuk sekedar mengucapkan terima kasih atas pekerjaan yang dilaksanakan dengan baik. Karyawan termotivasi ketika mereka merasa dihargai dan diakui atas kontribusi mereka.

MAHARSI ANINDYAJATI
Odoo image and text block





Oleh: Dr. Maharsi Anindyajati, M.Psi., Psikolog - Psikolog, Konsultan Manajemen PPM Manajemen


*Tulisan ini dimuat di Majalah Manajemen September 2018 p. 70-71

Pernahkah Anda menemukan kasus seorang karyawan telah diberikan serangkaian program pelatihan dan pengembangan namun kompetensi dan kinerjanya tak kunjung meningkat?

Seringkali kita menganggap bahwa agar karyawan menjadi kompeten dalam bekerja, maka hal yang dapat dilakukan adalah memberikan serangkaian program pelatihan dan pengembangan. Tentu saja hal tersebut sangatlah tepat, namun ada juga hal lain yang tidak boleh luput diberikan kepada karyawan agar mereka menjadi insan yang kompeten dan berkontribusi bagi pencapaian organisasi.

Kita sama-sama meyakini bahwa kinerja seseorang salah satunya ditentukan oleh faktor internal, yaitu kemauan dan kemampuan individu. Kemauan merupakan hal penting yang melandasi munculnya kinerja. Tanpa adanya kemauan, maka sebaik apapun kemampuan tidak akan membuahkan hasil yang diharapkan. Kemauan adalah sebuah motivasi, dorongan untuk  melakukan sesuatu.

Banyak teori motivasi yang mungkin telah kita pelajari, tetapi kita juga tentu menyadari bahwa memotivasi karyawan bukanlah hal yang mudah dalam praktik, serta tidak sesederhana pendekatan carrot and stick. Bicara soal motivasi, tidak semata mengenai karyawan mampu melakukan pekerjaan dengan luar biasa, akan tetapi lebih pada karyawan merasa luar biasa dengan pekerjaan mereka. Dengan demikian, merupakan hal yang penting untuk memahami apa yang dialami oleh karyawan dalam pekerjaannya.

Apa yang dialami seorang karyawan dalam bekerja akan menuntunnya untuk memiliki sebuah perasaan diberdayakan? Apabila seorang karyawan merasa bahwa ia diberdayakan, pada akhirnya akan muncul sebuah perasaan bahwa ia memiliki kemampuan untuk dapat berkontribusi bagi organisasi.

Kondisi ini dikenal dengan istilah pemberdayaan psikologis. Pemberdayaan psikologis adalah manisfestasi dari motivasi intrinsik yang tercermin pada orientasi individu dalam perannya di pekerjaan. Ada empat hal yang merepresentasikan pemberdayaan psikologis:

1) Makna, yaitu kesesuaian antara tuntutan pekerjaan dengan nilai yang diyakini individu.

2) Efikasi diri, yaitu keyakinan individu terhadap kemampuan yang dimilikinya untuk menjalankan tugas-tugasnya.

3) Determinasi diri, yaitu kemandirian dan kewenangan yang dimiliki dalam menjalankan tugas-tugasnya.

4) Pengaruh, yaitu sejauh mana individu memiliki andil bagi kinerja organisasi.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan psikologis memiliki pengaruh yang signifikan bagi tampilnya kinerja.

Lantas, apakah yang dapat dilakukan oleh para atasan agar para karyawan mengalami pemberdayaan psikologis?

Tidak ada motivasi yang lebih kuat bagi karyawan selain pemahaman bahwa pekerjaan mereka penting atau bermanfaat bagi orang lain, tidak selalu dikaitkan dengan kinerja keuangan. Mulailah dengan menjelaskan tentang kondisi pekerjaan yang Anda minta mereka lakukan. 

Apa yang kita lakukan sebagai bagian dari organisasi dan sebagai bagian dari tim? Mengapa kita harus melakukannya? Siapa yang diuntungkan dari pekerjaan ini dan bagaimana caranya? Apa yang menjadi indikator keberhasilan? Peran apa yang dimiliki oleh setiap karyawan?

Pada prinsipnya, karyawan akan termotivasi apabila pekerjaan mereka memiliki relevansi. Pada akhirnya, mereka akan merasa bahwa pekerjaannya bermakna dan kontribusi mereka berpengaruh secara signifikan bagi pencapaian organisasi.

Langkah berikutnya adalah mengantisipasi kendala. Hambatan dan tantangan pasti ada sepanjang kita melakukan pekerjaan. Untuk itu, disarankan untuk bersikap proaktif terhadap kendala yang mungkin muncul. Apa hambatan yang mungkin muncul? Apa yang membuat pekerjaan mereka menjadi sulit atau tidak praktis? Apa yang bisa Anda lakukan untuk meringankan beban? Apa saja sikap Anda yang dapat “menjatuhkan” mereka? Sejauh mana Anda sebagai atasan melibatkan diri untuk membantu?

Karyawan termotivasi ketika mereka dapat membuat kemajuan atau menyelesaikan pekerjaan tanpa masalah yang berarti dan beban yang tidak semestinya. Kondisi ini akan mendorong mereka untuk memiliki keyakinan bahwa mereka kompeten dalam menjalankan pekerjaannya dan mengatasi kendala yang mungkin muncul dalam pencapaian hasil.

Kenali kontribusi dan tunjukkan apresiasi. Komitmen Anda sebagai atasan untuk mengapresiasi dan mengakui kontribusi bawahan sehingga mereka merasa dihargai adalah hal yang mutlak.  Seringkali atasan lupa memberikan apresiasi atas sebuah pekerjaan yang dilakukan sebagaimana mestinya karena menganggap bahwa itu adalah kewajiban karyawan.

Atasan sering menunggu memberikan penghargaan pada sebuah pencapaian yang luar biasa. Padahal tidaklah sulit untuk sekedar mengucapkan terima kasih atas pekerjaan yang dilaksanakan dengan baik.  Karyawan termotivasi ketika mereka merasa dihargai dan diakui atas kontribusi mereka.

Terakhir, jangan lupa mengecek motivasi Anda sendiri. Akan sulit bagi Anda untuk memotivasi orang lain apabila Anda sendiri tidak mengalami pemberdayaan psikologis. Jika Anda terlihat tidak antusias dalam bekerja dan tidak merasa yakin dengan apa yang Anda kerjakan, maka akan sulit bagi Anda untuk memotivasi orang lain. Dengan demikian, Anda harus menyadari bahwa Anda adalah role model pemberdayaan psikologis bagi bawahan Anda.

Intinya adalah jangan mengandalkan metode dan trik usang untuk memotivasi karyawan. Bicarakan dengan tim Anda tentang relevansi pekerjaan yang mereka lakukan setiap hari.

Bersikaplah proaktif dalam mengidentifikasi dan memecahkan masalah bagi karyawan Anda. Kenali kontribusi karyawan secara berkala dan spesifik. Jangan lupa tampilkan contoh perilaku yang sejalan dengan apa yang menjadi harapan Anda atas para bawahan Anda. Dengan begitu Anda akan berhasil dalam memimpin tim yang sangat termotivasi.