Pembangunan Terusan Kra bagi Logistik Indonesia

Indonesia juga beperan sebagai pasar yang besar untuk menjual berbagai macam produk. Ini adalah potensi menarik bagi kapal-kapal dari Eropa, Afrika Selatan, Australia, Jepang, Korea Selatan.

RICKY VIRONA MARTONO
Odoo image and text block

 

Oleh: Ricky Virona MartonoTrainer, Executive Development Services - PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di Majalah Sindo Weekly No. 40 Tahun VI, 4-10 Des 2017 p. 82

 

Cina berencana memperluas konsep “New Silk Road” atau jalur darat Asia Tengah dengan jalur laut Asia Tenggara, melalui pembangunan Terusan Kra di negara Thailand bagian selatan. Terusan ini akan menghubungkan Samudra India dengan Laut Cina Selatan sehingga jalur kapal dari Eropa dan Timur Tengah yang menuju Cina tidak perlu melalui Selat Malaka.

Selain mengurangi jarak tempuh sejauh 1.200 kilometer, tentunya jalur ini dapat mengurangi risiko bajak laut di Selat Malaka. Cina punya kepentingan karena ada 75% nilai barang yang melintasi Selat Malaka (dari total sebesar US$1 triliun per tahun) menuju Cina. Sementara, sisanya untuk negara Asia Timur lain. Artinya, nilai pembangunannya yang sebesar US$30 miliar selama 10 tahun menjadi tidak dirasa mahal bagi kolaborasi Cina-Thailand.

Terusan Kra sebenarnya sudah dikonsep sejak 1677 oleh insinyur berkebangsaan Perancis. Seiring berjalannya waktu, Inggris menghalangi proyek ini untuk mempertahankan dominasi Singapura di Selat Malaka. Namun ketika muncul negara-negara baru penyeimbang Amerika Serikat dan Eropa Barat (seperti Cina, Rusia, dan India), pembangunan Terusan Kra menjadi semakin nyata.

Ada tiga skenario yang mungkin muncul dengan kehadiran Terusan Kra ini (Chen, Kumagai, 2016 – Institute of Developing Economics). Pertama, Terusan Kra dan Selat Malaka tetap menjadi jalur perdagangan. Kedua, Terusan Kra dibuka dan Selat Malaka ditutup. Ketiga, Terusan Kra dibuka dan dibangun kawasan industri di Selatan Thailand. Perkiraan dari penerapan skenario satu dan tiga akan mengurangi PDP Malaysia dan Singapura masing-masing sebesar 0,01% dan 0,04%.

Bagi Indonesia, pengurangan PDP sangat kecil, yaitu jauh di bawah 0,01%. Artinya, tidak banyak dampak bagi Indonesia karena selama ini kapal-kapal yang melintasi Selat Malaka kebanyakan berlabuh di Singapura atau Malaysia. Sementara, skenario dua akan mengurangi PDB Indonesia, Malaysia, dan Singapura masing-masing sebesar 0,33%, 0,21%, dan 0,83%.

Argumen lain menyatakan bahwa kapal-kapal yang melalui Singapura tidak akan serta merta memanfaatkan Terusan Kra . Sebab, selama ini Singapura menjadi hub logistik di Asia Tenggara bukan karena alasan lokasi yang strategis, melainkan karena perusahaan ‘memilih’ untuk berlabuh di Singapura (Pepinsky, 2016).

Skenario apapun yang diterapkan, Indonesia harus mempersiapkan diri dan meraih keuntungan. Lalu, bagaimanakah peluang Indonesia terkait pembangunan Terusan Kra?

Indonesia merupakan penghasil bahan mentah yang berlimpah untuk diolah menjadi bahan baku, dan dari bahan baku menjadi barang jadi. Barang jadi ini kemudian dikirim dan dijual ke berbagai negara. Pendukung industri pengolahan ini adalah pembangunan pabrik pengolahan, kawasan berikat, gudang, dan integrasikan pelabuhan dengan kawasan industri.


Kondisi ini dapat menarik investor dari Jepang, Korea Selatan, Eropa, Timur Tengah, Australia untuk membangun pabrik dan gudang di Indonesia. Jadi, kapal-kapal yang melintas di Asia Tenggara ‘harus’ melalui Indonesia untuk mengambil barang setengah jadi atau barang jadi, baru kemudian dikirim ke berbagai negara.

Di sisi lain, Indonesia juga beperan sebagai pasar yang besar untuk menjual berbagai macam produk. Ini adalah potensi menarik bagi kapal-kapal dari Eropa, Afrika Selatan, Australia, Jepang, Korea Selatan untuk langsung berlabuh di Indonesia, ‘mendekatkan’ produk mereka ke pasar Indonesia, serta menyimpan barang mereka di gudang di Indonesia.

Keberhasilan pembangunan Tol Laut menjadi sangat penting untuk melapangkan peluang Indonesia tersebut karena berpotensi menurunkan biaya logistik. Begitu juga pembangunan beberapa kawasan industri baru di Indonesia Timur dapat menarik kapal dari berbagai negara untuk mengambil barang di Indonesia.

Tentunya Indonesia masih punya pekerjaan rumah yang besar untuk menangkap peluang ini, yaitu menciptakan efisiensi birokrasi, membangun infrastruktur dan teknologi logistik yang mumpuni, menghilangkan korupsi, mengurangi dwelling time, serta menciptakan kestabilan politik.


Harapannya, kapal-kapal akhirnya ‘memilih’ Indonesia sebagai jalur perlintasan dan titik berlabuh di Asia Tenggara. Semoga.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.