Pelabuhan Tanjung Priok sebagai Hub Asia Tenggara

Untuk menjadikan Tanjung Priok sebagai hub, perlu disiapkan peralatan dan teknologi bongkar muat kontainer ke dermaga, birokrasi yang efisien agar menarik bagi perusahaan kapal yang akan bersandar.

RICKY VIRONA MARTONO
Odoo image and text block

 

Oleh: Ricky Virona MartonoTrainer, Executive Development Services - PPM Manajemen


*Tulisan ini dimuat di SWA Online

Berlabuhnya kapal CMA-CGM Otello di dermaga Jakarta International Container Terminal (JICT), Pelabuhan Tanjung Priok pada tahun lalu, menjadi pertanda layanan jasa angkut peti kemas dari Tanjung Priok, Indonesia menuju West Coast (LA & Oakland) Amerika Serikat telah dimulai. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyambut langsung kedatangan kapal tersebut.

Sejatinya hal ini menunjukkan dua perkara, yaitu membuka jalur kapal langsung antara Amerika dan Indonesia tanpa melalui Singapura, dan sebagai permulaan singgahnya kapal-kapal ukuran besar di Jakarta International Container Terminal (JICT), Tanjung Priok.

Efeknya adalah waktu tempuh berkurang dari 30 hari menjadi 23 hari karena tidak berlabuh di Singapura. JICT sendiri saat ini dapat disinggahi kapal dengan kapasitas 10.000 TEUs dengan kedalaman laut minus 14 meter dan akan dilanjutkan sampai kedalaman minus 16 meter. CMA-CGM Otello sendiri memiliki kapasitas hingga 8.238 TEUs.

Rencananya kapal besar ini akan melintasi Indonesia-Amerika dengan rute Jakarta - Laem Chabang (Thailand) - Cai Mep (Vietnam) - Los Angeles - Oakland, dengan sistem sandar mingguan secara rutin. Praktisi Logistik Indonesia memperkirakan biaya logistik akan lebih murah sekitar 10-15%. Diharapkan juga frekuensi kapal yang bersandar akan naik menjadi tiga kali seminggu agar dampaknya terasa bagi pengusaha.

Bagaimanapun, ini menjadi awal dari keuntungan yang dapat diperoleh Indonesia. Pertama, mengawali proses menjadikan Tanjung Priok sebagai pelabuhan hub di Asia Tenggara. Untuk langkah awal akan menjadi hub bagi pelabuhan di negeri sendiri karena tidak perlu bersandar di Singapura. Dengan bersandarnya kapal di Singapura terlebih dahulu, setidaknya ada dua kali proses hub untuk kapal yang datang dari luar Asia Tenggara menuju pulau-pulau di Indonesia, yaitu Singapura (hub bagi Asia Tenggara) dan Tanjung Priok (hub bagi pelabuhan-pelabuhan domestik).

Untuk menjadikan Tanjung Priok sebagai hub, perlu disiapkan peralatan dan teknologi bongkar muat kontainer ke dermaga, birokrasi yang efisien agar menarik bagi perusahaan kapal yang akan bersandar. Akses transportasi dari pelabuhan menuju titik pengiriman (pabrik, gudang, lokasi konsumen) yang efektif sehingga barang langsung dikirim dan tidak perlu berlama-lama di pelabuhan.

Keuntungan yang kedua adalah, dengan rute baru ini menjadikan Pelabuhan Tanjung Priok sebagai titik awal kedatangan kapal dari Amerika (First Port Of Call, Schuylenburg, Programme Manager Port of Rotterdam, 2016). Dengan demikian, kapal yang tiba dari Amerika berpotensi membawa barang pada kapasitas penuh untuk dikirim langsung ke konsumen Indonesia (pembeli, pabrikan pengolah bahan mentah atau setengah jadi). Dampak pengurangan biaya pun signifikan karena kapasitas penuh ini tidak perlu singgah di Singapura, jelas mengurangi biaya sandaran kapal, bongkar muat, dan mengurangi waktu tunggu.

Jika Tanjung Priok tidak menjadi titik awal kedatangan kapal, maka barang yang dikirim tidak semuanya untuk pembeli Indonesia, karena terbagi untuk negara-negara tetangga. Dampaknya, kapal yang tiba dari titik awal kedatangan menuju Tanjung Priok membawa barang yang lebih sedikit. Kondisi ini tidak mendukung ketika ekonomi Indonesia meningkat, karena akan ada lebih banyak barang yang diimpor sehingga dibutuhkan frekuensi pengiriman lebih banyak. Berbeda jika Tanjung Priok menjadi first port of call, dimana frekuensi pengiriman dari Amerika menuju Indonesia lebih sedikit karena muatan yang dapat dibawa lebih banyak.

Pada rute kembali menuju Amerika, kapal dari Tanjung Priok bersandar terlebih dulu di Thailand dan Vietnam. Ini pun menjadi keuntungan bagi Indonesia karena biaya kirim per unit barang dapat dikurangi dengan membawa barang dari lokasi lain sebelum berlayar jarak jauh menuju Amerika.

Sedangkan kerugian dari first port of call adalah ketika barang yang dikirim menuju Indonesia tidak pada muatan penuh sebuah kapal, karena biaya transportasi per satuan unit menjadi tinggi. Kondisi ini dapat dihadapi ketika Tanjung Priok menjadi hub bagi seluruh pulau di Indonesia dan merebut pasar kontainer dari Singapura, atau hub untuk beberapa kawasan di Asia Selatan.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.