New Normal: New Mindset, New Habit, New Us

Physical distancing dan penggunaan alat pelindung diri (APD) bukan semata-mata melindungi diri kita agar tidak tertular Covid-19, namun juga mengurangi kemungkinan kita menularkan kepada orang-orang di sekeliling kita. Peduli pada kesehatan dan keselamatan orang lain merupakan bentuk kematangan moral individu.

MAHARSI ANINDYAJATI
Odoo image and text block





Oleh: Dr. Maharsi Anindyajati, M.Psi., Psikolog - Head of Center for Human Capital Development PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di SWA Online

Akhir-akhir ini tentu kita banyak mendengar istilah new normal. Sebagian dari kita mungkin masih belum dapat memahami apa sebenarnya new normal atau kenormalan baru. Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Prof. drh. Wiku Adisasmito, M.Sc., Ph.D.,  menyatakan bahwa kenormalan baru adalah situasi yang harus dijalani oleh masyarakat di tengah pandemi Corona, yang ditandai dengan penyesuaian perilaku kita terhadap protokol kesehatan pada aktivitas sehari-hari. Dapat disimpulkan bahwa, kenormalan baru pada dasarnya adalah pembentukan perilaku baru.

Untuk membentuk perilaku baru diperlukan mindset atau pola pikir yang baru. Dimulai dengan pemikiran bahwa saat ini kita memang harus mengubah perilaku agar dapat beradaptasi dengan kondisi ini. Situasi ke depan tidak akan sama dengan situasi yang lalu. Berhentilah mempertanyakan kapan kita akan kembali ke kehidupan seperti sebelum pandemi Corona ini terjadi.

Semakin kita mempersoalkan hal tersebut, semakin berat upaya kita untuk berubah. Akan jauh lebih ringan apabila kita berorientasi pada upaya membentuk perilaku baru di situasi yang baru, misalnya dengan membiasakan diri untuk senantiasa menggunakan masker saat berinteraksi dengan orang lain, lebih sering membersihkan tangan, mengonsumsi makanan sehat dan vitamin, rutin berolahraga, atau melakukan perilaku sehat lainnya.

Pola pikir lain yang dapat ditanamkan adalah bahwa kenormalan baru bukan sekadar tuntutan untuk beradaptasi, namun juga kesempatan untuk menjadikan kita manusia yang lebih baik. Kenormalan baru tidak hanya berarti membentuk perilaku baru yang berorientasi pada kesehatan, namun juga memberikan peluang untuk membentuk perilaku yang berorientasi pada kepekaan.

Peka terhadap kepentingan orang lain.  Physical distancing dan penggunaan alat pelindung diri (APD) bukan semata-mata melindungi diri kita agar tidak tertular Covid-19, namun juga mengurangi kemungkinan kita menularkan kepada orang-orang di sekeliling kita. Peduli pada kesehatan dan keselamatan orang lain merupakan bentuk kematangan moral individu.

Menurut Lawrence Kohlberg, tokoh yang memperkenalkan teori perkembangan moral, menyesuaikan perilaku demi kepentingan bersama merupakan bentuk penalaran moral di level post-conventional, yang seharusnya terjadi pada orang dewasa.

Namun, pada kenyataannya, tidak semua orang yang telah memasuki usia dewasa berada pada level moral ini. Masih ada orang usia dewasa yang berperilaku untuk menghindarkan diri dari hukuman atau mendapatkan keuntungan pribadi. Perilaku yang lebih bersifat egosentris dan sangat mengandalkan kontrol dari pihak eksternal ini mencerminkan tahap pre-conventional yang seharusnya terjadi pada anak usia pra-sekolah.

Dengan demikian, ketaatan kita pada protokol kesehatan, akan mencerminkan tingkat perkembangan moral kita. Apakah kita akan memakai masker hanya saat ditegur oleh orang lain atau karena kesadaran kita untuk mencegah penularan dan penyebaran Covid-19? Akankah kita tetap memborong saat membeli vitamin dan alat pelindung diri ataukah kita menyisakan bagi orang lain yang juga membutuhkan? Akankah kita tetap akan peduli dengan orang-orang di sekeliling kita yang kehilangan mata pencahariannya? Akankah kita tetap bekerja secara optimal meski jauh dari pengawasan langsung atasan?

Sesungguhnya ini adalah kesempatan bagi kita untuk melatih diri membentuk perilaku baru yang akan meningkatkan moralitas kita sebagai manusia.

Dengan adanya pola pikir bahwa kenormalan baru adalah kesempatan untuk menjadikan diri kita sebagai insan yang lebih baik, maka sikap positif terhadap kenormalan baru juga akan muncul. Beradaptasilah dengan tuntutan protokol kesehatan.

Petiklah pelajaran dari pandemi, apa yang kita nilai lebih baik dan lebih bermanfaat bagi banyak orang saat pandemi, sebaiknya tetap kita lakukan. Mengutip apa yang dikatakan oleh B.F Skinner, seorang psikolog yang terkenal dengan teori pembentukan perilaku, bahwa masyarakat yang terdiri dari orang-orang yang berperilaku kooperatif akan cenderung untuk bertahan hidup.

Pada akhirnya, pola pikir kita akan menentukan apakah masyarakat kita akan bertahan atau tidak.


Artikel terkait:

Maharsi Anindyajati - Manajemen Stress Saat Physical Distancing