Mengenali si Pembohong

Hal yang paling penting untuk mendeteksi sebuah kebohongan adalah lihat informasi yang disampaikan secara keseluruhan (big picture), apakah rangkaian informasi cukup logis, masuk akal, dan tanpa kontradiksi di dalamnya.

KARTIKA DESTIANI
Odoo image and text block

 

Oleh: Kartika Destiani, M.Psi. Konsultan, Jasa Pengembangan Organisasi PPM Manajemen


*Tulisan ini dimuat di Majalah Sindo Weekly No. 01 tahun VII, 5-11 Maret 2018 p. 82

Pernahkah Anda merasa dibohongi oleh rekan kerja? Saat sedang melakukan wawancara pekerjaan, apakah Anda sangat ingin tahu bahwa kandidat yang sedang diwawancarai berkata jujur atau bohong? Ketika anak buah Anda memberikan alasan mengapa dia terlambat, apakah dia mengatakan yang sebenarnya?

Pertanyaannya, bisakah kita mendeteksi seseorang berbohong atau tidak? Kebohongan selalu diidentifikasikan dengan perilaku yang merugikan dalam suatu interaksi sosial. Di dalam suatu interaksi sosial, terjadi suatu komunikasi yang bertujuan menghasilkan pertukaran informasi dan pengertian antara masing-masing individu yang terlibat. Suatu komunikasi disebut efektif jika terjadi pertukaran informasi secara benar. Sayangnya, hal ini tidak selalu terjadi.

Kebohongan dalam suatu interaksi dapat terjadi ketika seseorang dengan sengaja tidak mengatakan suatu fakta atau menutupi suatu kebenaran. Di lingkup organisasi, salah satu kebohongan yang sering terjadi misalnya, ketika mewawancarai kandidat dalam proses seleksi.

Pewawancara perlu cukup peka untuk dapat mengetahui apakah jawaban yang disampaikan merupakan sebuah kebenaran atau kebohongan. Kandidat yang mengatakan hal yang tidak benar kita mendapatkan informasi yang bukan fakta. Hal ini pada akhirnya mengarahkan kita pada pengambilan keputusan yang tidak tepat dalam menerima karyawan.

Berbohong merupakan suatu tindakan sosial yang juga melibatkan bahasa. Sebagai orang awam yang tidak terlatih dengan microexpression, menaruh perhatian pada bagaimana penyampaian verbal seseorang dapat membantu seseorang mendeteksi kebohongan.

Berbohong memerlukan proses kognitif yang lebih besar daripada mengatakan hal yang jujur. Perlu kerja keras yang lebih besar agar dapat mempertahankan suatu cerita dan memastikan lawan bicara memercayai apa yang disampaikan. Ketika seseorang mulai berbohong, mereka tidak hanya harus mengingat suatu fakta, namun juga bagaimana suatu bagian dari cerita yang disampaikan telah diubah.

Oleh karena itu, cerita seseorang yang berbohong akan cenderung tidak detail karena semakin banyak detail yang disampaikan, semakin banyak pula detail yang harus mereka jaga kekonsistenannya. Biasanya, mereka kerap mencari alasan bahwa mereka tidak bisa mengingat secara detail, misalnya dengan mengatakan “memori saya tidak terlalu bagus”. Hal yang terjadi sebenarnya, mereka lupa kebohongan yang mereka sampaikan sebelumnya.

Seseorang yang berbohong akan cenderung menggunakan kata atau kalimat yang sama dan diulang–ulang ketika ditanya pada situasi yang berbeda. Sebab, mereka cenderung telah melatih kebohongan yang disiapkan sebelumnya. Seseorang yang melatih kebohongannya cenderung berhati–hati sehingga memilih kata atau kalimat yang mereka anggap tidak akan membongkar kebohongan yang mereka sampaikan.

Mereka yang berbohong juga akan menghindari keterlibatan diri mereka dalam cerita yang disampaikan. Penggunaan kata “saya” akan lebih dihindari karena mereka cenderung menjaga perlunya jarak diri mereka dalam cerita yang mereka sampaikan. Mereka akan banyak menggunakan kata “kita” atau “kami” dalam subyek cerita mereka.

Mereka juga cenderung akan menambahkan emosi negatif dalam informasi yang mereka sampaikan untuk mengalihkan fakta dan memastikan informasi yang mereka sampaikan dapat dipercaya. Penambahan kata–kata umpatan, kekecewaan, atau kesedihan secara tidak sadar mereka sampaikan untuk menekankan pada opini dan bukan fakta.

Beberapa hal yang bisa kita lakukan adalah biasakan menanyakan lebih detail dari cerita yang mereka sampaikan. Tanyakan lebih rinci mengenai interaksi yang mereka lakukan dengan orang lain, apa yang secara personal mereka lakukan dan apa peran mereka dalam sebuah situasi. Latih kepekaan diri untuk tetap obyektif pada fakta dan tidak terbawa dalam opini yang mereka sampaikan.

Hal yang paling penting untuk mendeteksi sebuah kebohongan adalah lihat informasi yang disampaikan secara keseluruhan (big picture), apakah rangkaian informasi cukup logis, masuk akal, dan tanpa kontradiksi di dalamnya. Membiasakan mendengarkan dengan seksama dan melatih untuk berpikir kritis akan membantu kita membedakan kebenaran dan kebohongan.