Mengefisiensikan Fungsi “Kulkas Raksasa”

Dibutuhkan infrastruktur sistem informasi yang baik, akses transportasi yang memadai, sistem administrasi yang efisien, dan kondisi penyimpanan barang sesuai kebutuhan jenis komoditas.

RICKY VIRONA MARTONO
Odoo image and text block



Oleh: Ricky Virona MartonoTrainer, Executive Development Services - PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di Majalah Sindo Weekly No. 19 Tahun VII, 9 Juli-15 Juli 2018, p. 82

Ketika melihat jejeran gudang-gudang di sebuah kawasan industri, penulis jadi teringat dengan Pusat Logistik Berikat (PLB) di Indonesia yang diresmikan tahun 2016 oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). PLB itu terdiri dari sebelas kawasan, bagian dari Paket Kebijakan Ekonomi Jilid II.

PLB adalah kawasan pergudangan multifungsi untuk menyimpan barang hasil industri domestik dan barang impor. Kemudahan dari adanya PLB adalah fasilitas perpajakan berupa penundaan pembayaran bea masuk dan tidak dipungut PPN atau PPNBM. Contoh barang yang disimpan di kawasan ini adalah kapas, peralatan migas, bahan baku industri kecil, dan bahan kimia.

Dari sudut pandang Kementerian Perdagangan, PLB ini bisa dipandang sebagai “kulkas raksasa”. Perusahaan di Indonesia yang membutuhkan barang atau komoditas tertentu dapat langsung membeli dari PLB. PLB pun menyediakan informasi jenis dan jumlah barang yang tersedia kepada perusahaan pengguna barang.

Sebelas kawasan PLB di antaranya terletak di Cakung, Balikpapan, Cibitung, Karawang, Cikarang, Denpasar, dan Merak sesuai dengan komoditas industri di kawasan tersebut. Sebut saja misalnya barang-barang terkait industri pertambangan disimpan di Balikpapan dan distribusi bahan bakar minyak (BBM) di Merak. Beberapa perusahaan dipilih sebagai penyimpan barang industri pada gudang mereka.

Langkah ini sangat krusial dalam menurunkan biaya logistik Indonesia. Pasalnya, selama ini, berbagai macam barang impor milik Indonesia banyak disimpan di kawasan pergudangan di Singapura dan Malaysia. Alhasil, ketika perusahaan lokal membutuhkan barang tertentu, mereka harus mengimpor dari Singapura atau Malaysia. Dengan begitu, tentunya keuntungan tidak dapat dinikmati perusahaan di Indonesia. Untuk pemenuhan BBM saja, misalnya, Indonesia banyak mengimpor dari Singapura.

Keberadaan PLB ini mampu mengefisienkan proses impor bahan baku, menghemat devisa, penghematan pajak ekspor, dan mengalihkan keuntungan perdagangan ke perusahaan lokal. Selain itu, ini juga dapat mendekatkan lokasi gudang dengan industri sehingga mampu mengurangi waktu tenggat (lead time) pengiriman barang.

Keuntungan lain adalah mengurangi impor barang (termasuk BBM) karena barang langsung ditampung di PLB. Penetapan harga barang pun tidak didasarkan pada perhitungan harga di Singapura dan Malaysia.

Pembangunan PLB ini sejalan dengan fungsi pergudangan di dalam logistik, yaitu mendekatkan barang ke titik lokasi konsumen, meminimalkan biaya pemesanan barang, serta menyediakan media komunikasi dengan konsumen mengenai barang yang tersedia.

Penelitian dari Herb Davis Associates di tahun 2002 menunjukkan bahwa sekitar 50% biaya logistik adalah biaya transportasi, 25% biaya gudang, dan 15% biaya penyimpanan barang. Dengan adanya PLB, maka biaya transportasi dan gudang dapat berkurang signifikan.

Peran lain dari PLB sebagai titik pergudangan adalah meningkatkan performa proses menyimpan, mengurai, dan menggabung barang sesuai konsep pergudangan dari EH Frazelle dalam World-Class Warehousing and Material Handling (2003). Peran ini terdiri dari menyimpan sementara barang-barang industri sebelum digunakan, menggabungkan beragam jenis komoditas sebelum diekspor bersamaan, serta mengurai barang impor menurut lokasi industri (pengguna).

Untuk mencapai tujuan tersebut, dibutuhkan infrastruktur sistem informasi yang baik, akses transportasi yang memadai, sistem administrasi yang efisien, dan kondisi penyimpanan barang sesuai kebutuhan jenis komoditas. Kemudian, juga dibutuhkan sistem keamanan barang dan keselamatan pekerja, teknologi peralatan penanganan barang yang terbaik, serta keahlian tenaga kerja yang baik.

Meskipun biaya infrastruktur ini tinggi, manfaatnya adalah penurunan biaya logisitk yang dimanfaatkan oleh banyak perusahaan di Indonesia. Selain itu, upaya ini dapat membuka lapangan pekerjaan yang secara langsung maupun tidak langsung dipengaruhi oleh pembangunan PLB. Pada akhirnya, tentu akan lebih banyak mendorong perekonomian.

Ke depannya, pembangunan gudang di kawasan PLB berperan mengefektifkan pergerakan barang di Indonesia dan mengambil pangsa pasar di industri pergudangan kawasan Asia Tenggara. Bahkan, bukan tidak mungkin dapat menjadi faktor pendukung dalam mewujudkan posisi Indonesia sebagai hub logistik di Asia-Pasifik. Semoga.