Menelisik Design Thinking dari “Drakor” Start Up

Design Thinking terdiri dari lima proses, Empathize, Define, Ideate, Prototype dan Test. Kelima proses ini merupakan non-linear dan iteratif proses yang dapat diulang sampai mendapatkan solusi terbaik.

MIRA NUR MUTIA
Odoo image and text block




Oleh : Mira Nur Mutia M.M. – Kelompok Bidang Keahlian Decision Science PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di SWA Online

Drama Korea Start Up yang dinanti-nantikan setiap Sabtu dan Minggu malam, kini telah usai. Namun demikian, animo tim Han Ji-pyeong atau tim Nam Do-San masih terasa.  Kehadiran Start Up ini benar-benar hype di tengah milenial. Namun, penulis tidak akan memperdebatkan Han Ji-Pyeong atau Nam Do-San. Walaupun Ji-Pyeong tetap mentor idaman menurut penulis.

Lalu, pembelajaran apa sih yang ternyata bisa kita ambil dari drakor ini. Ternyata tidak hanya ceritanya yang sangat memperlihatkan permasalahan anak muda masa kini, namun ternyata ada salah satu pendekatan yang digunakan didalamnya yang bisa kita pelajari bersama yaitu Design Thinking.

Dari sisi teori, Design Thinking terdiri dari lima proses, Empathize, Define, Ideate, Prototype dan Test. Kelima proses ini merupakan non-linear dan iteratif proses yang dapat diulang sampai mendapatkan solusi terbaik. Proses ini ternyata tergambarkan dengan jelas di drama Start Up tersebut.

Bagi para penonton drama Start Up pasti tidak asing dengan aplikasi buatan Samsan Tech yaitu NoonGil, sebuah aplikasi yang ditujukan dalam membantu para tunanetra untuk membaca tulisan dan mendeteksi letak benda yang berada di sekitar mereka dengan menggabungkan teknologi AI dan voice assistant.

Perjalanan NoonGil sendiri diawali dengan penyakit Nenek Seo Dal-mi, Choi Won-Deok yang mengalami penurunan kemampuan penglihatan yang menjadi inspirasi pengembangan aplikasi pembantu tunanetra dengan tingkat akurasi 92,4%.

Tahukah bahwa proses pembuatan NoonGil ini ternyata salah satu bentuk pengaplikasian Design Thinking? Ya, Design Thinking menjadi salah satu pendekatan yang digunakan untuk pengembangan NoonGil.

Human centered approach adalah nyawa utama dari konsep Design Thinking. Mengutamakan empati, Design Thinking menjadi sarana yang digunakan untuk memberikan solusi terbaik dari kebutuhan spesifik pengguna yang tentu saja menjadi nilai tawar baru.

Dalam prosesnya, Design Thinking menggabungkan pendekatan intuitive thinking dan analytical thinking. Samsan Tech sudah mengantongi teknologi AI yang sangat akurat dalam mengenali benda atau bentuk makhluk hidup.

Forbes pernah melakukan penelitian bahwa salah satu dari lima penyebab kegagalan dari sebuah inovasi adalah mengutamakan teknologidibandingkan dengan kebermanfaatannya. Oleh karena itu, disinilah mengapa Design Thinking dapat dikatakan sebagai pendekatan yang dapat memperkuat alasan mengapa akhirnya sebuah inovasi itu dilahirkan.

Proses empathize sebagai tahapan awal dari design thinking menjadi tahapan krusial, namun terkadang kita tidak menyadarinya. Salah satu episode terlihat bahwa tim Nam Do-San tanpa sengaja melihat seorang tunanetra yang berjalan dengan bantuan anjing asistan. Fungsi dari anjing asistan ini sendiri mengarahkan dan memberikan tanda bahwa ada benda atau bahaya untuk tunanetra. Dari pengalaman itu muncullah pertanyaan Do-San, “Bagaimana jika kita membuat sebuah alat yang bekerja sama seperti anjing asistan?”

Dari pertanyaan ini, kita sudah ada di proses empathize dengan pendekatan intuitif. Melihat peluang dari sebuah kebutuhan melalui pengalaman sehari-hari atau sekitar yang kita lihat dan temukan.

Proses empathize yang dilakukan tidak sengaja lagi adalah menempatkan nenek Seo Dal-mi yaitu Choi Won-Deok sebagai Customer Persona dari aplikasi Noongil. Dalam kesehariannya beliau merasa kesulitan dalam mengunci pintu, membaca atau mengenali seseorang karena adanya penurunan kemampuan penglihatan. Proses empathize ini disempurnakan dengan mewawancarai seorang tunanetra. Melalui wawancara dapat ditemukan “pain” dari seorang tunanetra dalam berkeseharian dan juga apa kekurangan dari menggunakan anjing sebagai asistan.

Ternyata mereka kesulitan untuk mendapatkan atau melakukan komunikasi dua arah. Setelah itu, untuk memperkuat alasan tersebut mereka melakukan desk research dan menemukan bahwa ternyata ada 25 ribu tunanetra di Korea Selatan namun, NoonGil memiliki potensi lebih besar dengan 40 juta tunanetra di seluruh dunia.

Beberapa informasi yang sudah ditemukan, didefinsikanlah sebuah problem yang akan mereka rumuskan solusinya tentunya dengan teknologi AI yang mereka miliki. Bagaimana mempermudah tunatera untuk mengenali dan mendeteksi benda atau makhluk hidup dalam keseharian mereka? Tahapan ini dinamakan tahapan Define.

Ide awal mereka hanya memiliki teknologi yang bisa mendeteksi benda namun sejalan dengan kebutuhan yang muncul pada proses empathize muncullah ide untuk mengawinkannya dengan aplikasi voice assistant. Sehingga dikembangkanlah ide sebuah aplikasi yang bekerja sama seperti seekor anjing asistan yang membantu tunanetra, mampu mengenali dan mendeteksi benda dengan voice assistant yang membantu menyuarakan benda yang tertangkap oleh aplikasi tersebut. Tahapan ini disebut Ideate.

Tidak hanya sampai ide, Samsan Tech menghasilkan prototype, dan melakukan test kepada tunatera yang sudah diwawancarai sebelumnya. Boom! Responsnya sangat baik. Sehingga mereka sangat percaya diri bahwa aplikasi ini akan sangat bermanfaat.

Seiring dengan berjalannya proses pengembangan aplikasi, SamSan Tech kembali menemukan rumusan baru untuk meningkatkan fungsi NoonGil. Setelah bekerja seperti anjing asistan, NoonGil dikembangkan untuk menjadi asisten sehari-hari yang bahkan bisa membantu proses sederhana seperti membacakan label obat yang berisi merek obat hingga komposisi obat.

Kembali lagi, observasi terjadi tanpa direncanakan. Seo Dal Mi melihat Nenek Won-Deok yang kesulitan membaca keterangan obat dan selalu salah meminum obat. Melalui kejadian ini, kemampuan NoonGil ditingkatkan dengan tambahan mampu membaca tulisan-tulisan kecil dan mengetahui kandungan obat. Inilah proses iteratif yang dimaksud.

Dari keseluruhan proses ini terlihat bahwa proses NoonGil mengalami berbagai macam peningkatan dengan konsep Design Thinking. Proses penemuan, perumusan dan pengembangan NoonGil tidak berhenti berjalan dan terus dilakukan hingga NoonGil mencapai fungsi paling maksimal.

Design Thinking mengajarkan bahwa menghasilkan sebuah solusi yang lebih berarti dengan proses empati terhadap pengguna dan pencarian solusi ini tidak berakhir, dilakukan berulang-ulang hingga memberikan kebermanfaatan yang paling maksimal.

Menarikkan, yuk belajar design thinking!

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.