Memimpin dalam Masa WFH

Paksaan bekerja di rumah dalam era pandemi, semakin menyadarkan, bahwa memimpin dari jarak jauh, sangat berbeda dengan memimpin langsung. Sekadar mengendalikan rapat dengan video conference, belum cukup memastikan efektivitas kerja.

ANDI ILHAM SAID
Odoo image and text block




Oleh: Andi Ilham Said - Kepala Pusat Kajian dan Pengembangan Produk PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di Media Indonesia Online

Memimpin dari jarak jauh, adalah keniscayaan yang dihadapi hampir semua pemimpin perusahaan dalam era pandemi covid-19 saat ini. Dalam situasi seperti ini, akan semakin terasa makna memimpin, yang bukan hanya sekadar memastikan tercapainya sasaran organisasi. Tetapi, lebih dari itu, memimpin adalah berinteraksi dengan manusia. Pertanyaannya adalah, mungkinkan tetap efektif mengarahkan orang lain, tanpa harus berhadapan langsung?

Kenyataannya, jauh sebelum era pandemi pun, bekerja di luar kantor sudah disistemkan di banyak perusahaan. Riset mununjukkan, bahwa pertumbuhan kerja di luar kantor mencapai 91% dalam 10 tahun terakhir. 52% karyawan rata-rata sudah bekerja di rumah, minimal sehari dalam seminggu. Suatu angka yang sangat fantastis. Namun, tantangannya adalah efektivitas hasilnya, apakah bisa setara dengan bekerja di kantor. Mengingat, tingginya godaan dan gangguan konsentrasi selama bekerja di rumah.

Hasil Survei Perilaku Kerja Produktif Selama PSBB, yang dilakukan PPM Manajemen menunjukkan, bahwa 66% responden lebih merasa produktif bekerja di kantor daripada di rumah. Lama bekerja memang lebih rendah bila bekerja di rumah, dengan hanya 55,7% responden yang mengaku bekerja minimal 8 jam sehari. Jika bisa memilih 57% tetap memilih bekerja di kantor, sisanya 43% memilih bekerja di rumah.

Paksaan bekerja di rumah dalam era pandemi, semakin menyadarkan, bahwa memimpin dari jarak jauh, sangat berbeda dengan memimpin langsung. Sekadar mengendalikan rapat dengan video conference, belum cukup memastikan efektivitas kerja. Komunikasi non-verbal, bahasa tubuh, yang biasanya digunakan untuk memahami pikiran seseorang tidak dapat diandalkan lagi.

Empat hal strategis

Empat hal strategis yang perlu dilakukan ketika memimpin karyawan yang bekerja di rumah.

Pertama, evaluasi dan fokus pada sasaran jangka panjang. Pandemi dan kecenderungan orang bekerja di luar kantor, telah mengubah banyak hal. Termasuk, dinamika ekosistem bisnis. Disrupsi akan membuat industri saat ini bisa saja menjadi tidak relevan. Memenangkan persaingan menjadi tidak berarti apa-apa jika industri terdisrupsi, karena harus keluar dari bisnis. Maka, sangat mendesak untuk melihat ulang arah strategi jangka panjang, yang telah ditetapkan dalam bentuk Misi, Visi, Nilai, dan Strategi. Setelah yakin dengan arah strategi yang baru, eksekusi menjadi penting. Fokus pada rencana eksekusi. Tetapi, tetap lincah menghadapi perubahan ekosistem bisnis.

Kedua, komunikasikan perintah dengan jelas. Komunikasi adalah faktor penentu dalam efektifi tas pencapaian sasaran. Sayangnya, memimpin dari jarak jauh, lebih besar distorsinya. Video conference tidak serta merta pembicaraan telah terpahami. Godaan untuk melakukan kegiatan lain, pada saat sedang rapat sangat besar. Itu sebabnya, perlu diamankan dengan frekuensi pengiriman berkali-kali, melalui berbagai media komunikasi lainnya. Kalau perlu, lakukan rapat khusus secara pribadi untuk memastikan perintah, dan informasi penting lainnya telah terpahami, dan, bersedia dilaksanakan seutuhnya.

Ketiga, tetapkan aturan dasar tentang tata cara rapat online. Tidak bisa dipungkiri, bahwa rapat adalah media utama dalam memastikan rencana dan eksekusi terkelola dengan baik. Ketentuan-ketentuan tentang kewajiban untuk menyimak, bertanya, dan, berkontribusi pikiran, ide, maupun pendapat selama rapat, menjadi sangat perlu untuk disepakati. Ketentuan tentang kapan harus membuka video, mengangkat tangan (raise hand), menyatakan pendapat, maupun bertanya dalam kolom chat, serta, menuliskan komentar melalui fitur annotate perlu dituliskan dan disepakati.

Keempat, luangkan waktu lebih banyak untuk memperkukuh nilai dan budaya organisasi. Tidak berada setiap saat di kantor, semakin membuat pentingnya untuk memberi porsi waktu lebih banyak pada kegiatan sosialisasi, perwujudan nilai, dan penegakan aturan, yang terkait dengan nilai dan budaya organisasi.

Penggunaan media sosial, menjadi alternatif solusi yang lebih efektif dalam menyampaikan pesan-pesan, berisi nilai dan budaya organisasi. Revisi code conduct, dengan memasukkan tata kelola dan etika perilaku selama bekerja di rumah perlu dilakukan.

Pada dasarnya, selama seseorang menyatakan sedang bekerja di rumah, maka, semua ketentuan tentang kerja berlaku secara otomatis. Kewajiban untuk tetap mudah dihubungi, dan sewaktu-waktu dapat diminta untuk hadir secara off-line, juga, jadi bagian dari ketentuan yang harus ditepati. Budaya kerja yang umumnya disepakati di kantor, juga berlaku di mana pun, termasuk di rumah. Sistem dan prosedur kerja harus segera direvisi, bila diperlukan untuk mengakomodasi bekerja di luar kantor.


Artikel Manajemen terkait:

Andi Ilham Said - Kawasan Ekonomi Khusus, Peluang Siapa, Ancaman buat Siapa?