Memanfaatkan Kanal Cikarang Bekasi Laut

Untuk jumlah pengiriman kecil, pengiriman lewat darat tetap lebih efektif karena membutuhkan proses bongkar muat yang lebih sederhana.

RICKY VIRONA MARTONO
Odoo image and text block



Oleh: Ricky Virona Martono – Core Faculty  PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di Majalah PAJAK Volume LXVI | 2019, hlm. 43

Pemerintah bakal memanfaatkan kanal Cikarang Bekasi Laut (CBL) untuk mengurangi beban jalan darat dari Pelabuhan Tanjung Priok ke kawasan industri Cikarang yang melalui jalur dalam kota Jakarta.

Konsep CBL telah menjadi wacana selama beberapa tahun dan dinilai mampu mengurangi beban jalan tol menuju Cibitung, Cikarang, dan Karawang, serta mengurangi polusi udara. Titik awal CBL berada sekitar 11,5 km ke arah Timur Laut Pelabuhan Tanjung Priok, yaitu sebuah delta yang berlanjut ke sebuah kanal alami, mengalir sepanjang 25 km sampai ke Cikarang. Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi menjelaskan bahwa angkutan barang kendaraan dari kawasan industri Cikarang akan mengandalkan jalur darat dan air.

CBL dapat dilalui menggunakan kapal tongkang. Budi Karya menambahkan, untuk mendukung kelancaran pengiriman barang, Pelindo 2 akan melakukan pelebaran kanal, pengerukan kanal, dan pembangunan terminal air darat (Inland Terminal) di sekitar Kawasan Industri Cikarang. Inland Terminal dipersiapkan dengan luas sekitar 52 hektare dan panjang dermaga 1.600 meter, untuk dapat melayani 1,6 juta TEUs per tahun.

Tentunya pengusaha akan membandingkan alternatif biaya pengiriman barang menuju Cikarang melalui darat atau laut. Berikutnya adalah mempertimbangkan biaya operasional bongkar muat barang karena barang yang dikirim ke Tanjung Priok harus dipindah ke kapal yang lebih kecil untuk bisa melalui kanal.

Konsep ini sebenarnya sudah diterapkan di Pelabuhan Rotterdam, Belanda, di mana kapal masuk dari Laut Utara. Setelah bersandar, barang-barang yang akan dikirim ke Jerman sampai Eropa Timur melalui Sungai Rhein dipindah ke kapal dengan ukuran lebih kecil. Pada perkembangannya, di sepanjang Sungai Rhein banyak dibangun kawasan industri, contohnya di Dusseldorf, Jerman. Dampaknya adalah semakin banyak lalu lintas barang yang dapat mengurangi biaya transportasi per unit, dan berkembangnya perekonomian di sekitar kawasan industri.

Bukan pengganti

Perlu diingat, transportasi melalui kanal CBL bukanlah pengganti dari transportasi darat, melainkan alternatif. Untuk jumlah pengiriman kecil, pengiriman lewat darat tetap lebih efektif karena membutuhkan proses bongkar muat yang lebih sederhana. Selain itu, tersedianya alternatif moda transportasi akan memberi pilihan kepada perusahaan jika hendak melakukan pengiriman yang sifatnya mendesak atau tambahan. Namun kombinasi semua jenis moda transportasi (CBL, jalan tol, dan jalur kereta) harus seimbang, misal porsi pengiriman barang melalui tol dikurangi hingga sepertiganya saja.

Ada beberapa hal yang perlu dilakukan Pemerintah untuk keberhasilan CBL. Pertama, memperkirakan pertumbuhan produksi dan besaran ekspor dan impor dari kawasan industri Cikarang untuk sekian tahun ke depan. Tujuannya supaya nilai ekonomis yang melintasi CBL memang sepadan dengan investasi pembangunan infrastrukturnya. Bisa jadi di masa depan pertumbuhan pergerakan barang yang melintas CBL malah sangat tinggi sehingga ukuran kanal tidak mencukupi lagi.

Kedua, pemerintah perlu memberi insentif kepada para pengusaha agar CBL semakin dimanfaatkan, sehingga dapat mengurangi biaya operasional tambahan yang mungkin muncul dibanding pengiriman lewat darat.

Ketiga, pembangunan infrastruktur pendukung untuk mendorong perusahaan memanfaatkan kanal ini, misalnya: ketersediaan sistem informasi untuk memantau pergerakan kapal sehingga menjamin keamanan kapal dan barang, pembangunan pembangkit listrik di Inland Terminal Cikarang, membangun sarana ketersediaan air bersih untuk kebutuhan pekerja dan proses pengecekan kualitas kontainer.

Keempat, memperhatikan kondisi lingkungan hidup yang terkena dampak. Perkembangan kawasan ekonomi baru dan perluasan kanal tentunya mendorong berdirinya pemukiman dan segala jenis fasilitas sosial. Yang sering muncul adalah dampak negatif pembangunan fisik terhadap lingkungan hidup.

Maka, pemanfaatan CBL perlu memperhatikan dampak terhadap biota disekitarnya, misalnya dampak debu dari berbagai jenis barang kimia dan tambang bagi penduduk sekitar, dampak pembangunan infrastruktur dan polusi bagi hewan laut dan udara.

Dalam jangka panjang, diharapkan Indonesia pun mampu mendorong perkembangan kawasan industri dan pusat ekonomi baru di sepanjang CBL, sehingga dampaknya terasa seperti di Pelabuhan Rotterdam.