Memaknai Produktivitas dengan Cara Baru

Para profesional muda juga telah mampu membangun definisi produktivitas yang baru. Pada koridor tersebut, bekerja sudah tak lagi dipandang pada mekanisme transaksional. Mereka tak lagi menghitung lama kerja jam kantor dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.

ARIES HERU PRASETYO





Oleh: Aries Heru Prasetyo - Dosen Sekolah Tinggi Manajemen PPM

*Tulisan ini dimuat di Koran Sindo, 14 September 2020, hlm. 4

Pihak pemerintah yang diwakili oleh ketua gugus tugas penanggulangan pandemi Covid-19 telah membuka kesempatan bagi warga produktif yang berusia di bawah 45 tahun untuk beraktivitas kembali. Dalam pernyataan pers-nya, dijelaskan bahwa keputusan ini diambil untuk memutus tali rantai kemungkinan pemutusan hubungan kerja yang terjadi sejak awal April lalu.

Pihak Kementerian Tenaga Kerja sendiri memprediksi setidaknya terdapat 2,8 juta kenaikan angka pengangguran sejak pandemi Covid-19 resmi masuk ke Indonesia. Sebagian besar di antaranya adalah mereka yang berasal dari sektor formal dan diduga sebagai pihak yang terpapar kebijakan pengurangan jumlah tenaga kerja akibat pandemi.

Kondisi ini memang tak dapat dihindari sebab sejak akhir Februari tahun ini sejumlah sektor terkena imbas dari terputusnya rantai pasokan dunia akibat pemberlakuan kebijakan lockdown maupun Pembatasan Sosial Berskala Besar atau kita kenal dengan sebutan PSBB.

Berbicara tentang kebijakan PSBB yang menyasar penurunan angka penyebaran pandemi ini, menganjurkan semua sektor kegiatan rutin masyarakat dilakukan di rumah, mulai dari belajar dan bekerja dari rumah hingga kegiatan ibadah yang juga dijalankan dari rumah. Semua itu dilakukan demi meminimalkan interaksi fisik yang memungkinkan perpindahan virus dari satu orang ke orang lainnya.

Opsi bekerja dari rumah yang semula mendapat respon negatif pada penerapan di dua minggu pertama, kini berangsur pulih. Para profesional muda terlihat mulai menikmati rutinitas yang baru ini. Mereka yang tadinya selalu beranggapan bahwa bekerja harus dilakukan di kantor, kini berangsur memandang work from home (WFH) sebagai sebuah keistimewaan.

Di satu sisi mereka dapat memperoleh ketenangan mengingat potensi terpapar virus dapat diminimalkan secara efektif, di lain sisi mereka memperoleh waktu yang cukup banyak untuk membangun keseimbangan antara bekerja dengan aktivitas dalam keluarga.

Di tengah-tengah rutinitas yang baru tersebut, riset yang kami lakukan menunjukkan bahwa para profesional muda juga telah mampu membangun definisi produktivitas yang baru. Pada koridor tersebut, bekerja sudah tak lagi dipandang pada mekanisme transaksional. Mereka tak lagi menghitung lama kerja jam kantor dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.

Sebaliknya, mereka mulai memandang pekerjaannya sebagai media dalam menunjukkan jati dirinya. Dengan kata lain, profesional muda kini melihat kompetensi yang dimiliki sebagai sumber daya terbesar baginya dalam membangun sebuah prestasi. Bekerja tak lagi dipandang sebagai upaya memuaskan sistem dan prosedur yang ada melainkan sebagai media untuk menghasilkan sebuah maha karya.

Mereka pun mengganti kegiatan lembur di kantor dengan membangun atmosfer kerja yang berorientasi pada hasil. Semangat inilah yang kemudian membuat sejumlah responden mengakui adanya peningkatan pendapatan selama menjalankan sistem bekerja dari rumah. Setelah selesai dengan tugas dan target pekerjaan dari kantornya, mereka mendayagunakan waktu yang ada untuk mengkomersilkan buah dari hobinya.

Sebagian responden menyematkan waktu khusus di dapur. Awalnya hanya menyalurkan hobi memasak menu favorit dengan memanfaatkan tuntunan dari YouTube. Berkat keisengannya, mereka mulai meletakkan foto hasil masakan di Instagram. Alhasil perlahan namun pasti, pesanan mulai berdatangan.

Tanpa disadari, pola ini telah berhasil membangun arus kas masuk tambahan bagi para profesional muda. Maka pada kondisi konsumsi produk sekunder dan tersier yang berkurang drastis karena mereka banyak menghabiskan waktu di rumah, tabungan mereka pun bertambah. Ini merupakan bekal bagi investasi setelah pandemi ini berakhir.

Satu hal yang dapat kita petik dari ilustrasi di atas adalah bahwa ada begitu banyak profesional muda yang telah berhasil memaknai produktivitas dalam format kondisi normal yang baru. Kini akankah mereka mempertahankan pola tersebut setelah kebijakan PSBB dilonggarkan atau diakhirkan?

Riset lanjutan yang kami lakukan menunjukkan hasil yang mencengangkan. Lebih dari separuh menyatakan keberaniannya untuk lepas dari rutinitas awal seraya beralih menjadi business freelancer. Ini berarti perusahaan harus bersiap untuk dihadapkan pada gelombang pengunduran diri khususnya dari tenaga profesional dengan kompetensi yang sangat tinggi.

Profesi baru business freelancer ini memaknai produktivitas dengan cara menjual kompetensi yang dimiliki untuk membantu perusahaan pada titik tertentu. Maka dengan jam terbang yang tinggi, jejaring bisnis yang luas, serta pengetahuan yang matang, etos kerja dan karya yang dihasilkan akan jauh lebih baik daripada karyawan reguler.

Di sisi lain, perusahaan cukup diuntungkan dari profesi baru ini. Mereka tak perlu menyiapkan gaji bulanan berikut uang transpor serta tunjangan lainnya plus gedung perkantoran yang mewah. Dengan kata lain, efisiensi akan terjadi.

Inilah skema yang sangat membantu perusahaan setelah pandemi berakhir. Perusahaan diuntungkan, begitu pula dari sisi profesional muda. Akankah kita turut memaknai produktivitas pada koridor tersebut?

Selamat berefleksi, sukses senantiasa menyertai Anda!


Artikel Manajemen terkait: 

Aries Heru Prasetyo - Covid-19 Turut Ciptakan Krisis Ekonomi

Aries Heru Prasetyo - Berefleksi pada Virus Korona