Masa Depan "Impact-Investing" di Indonesia

Gonjang-ganjing ekonomi global yang terjadi beberapa saat terakhir ternyata memberi dampak positif pada pertumbuhan impact-investing di Indonesia.

ARIES HERU PRASETYO
Odoo image and text block


Oleh: Aries Heru Prasetyo - Vice Dean PPM School of Management

*Tulisan ini dimuat di Majalah Pajak Volume LXII, 2019, hlm. 33

Satu tren baru yang kian digemari kalangan milenial adalah impact-investing. Ini merupakan strategi investasi baru di mana sang investor tidak semata-mata meletakkan orientasi keuntungan dari penanaman modalnya. Namun sebaliknya, beberapa motif bernada idealis seperti komitmen untuk mengembangkan kewirausahaan, kesejahteraan stakeholder serta gerakan nasionalisme yang bertujuan mengenalkan produk-produk lokal ke ranah global merupakan faktor kuat dalam melakukan investasi.

Harvard Business Review, menulis spirit impact-investing diyakini mewarnai proses investasi di sektor nonprofit dalam tiga sampai lima tahun mendatang. Realitas ini sekaligus membuktikan bahwa kesadaran investor untuk melindungi kepentingan sosial sangatlah tinggi. Lalu bagaimana masa depan semangat ini di Indonesia?

 

Melek Keuangan

Riset tentang impact-investing ini diawali dengan mengukur seberapa besar orientasi sosial di dalam kandungan keputusan investasi kaum milenial. Jawabannya cukup menarik untuk dikaji. Meski terkesan memiliki gaya hidup yang cenderung fleksibel, generasi ini ternyata sangat melek keuangan. Bagi mereka, aktivitas memantau pergerakan harga saham dan portofolio asetnya merupakan sahabat terbaik saat sarapan pagi.

Di situlah mereka mulai menyebarluaskan idealisme yang dimiliki. Pertama, dengan mengubah postingan status di akun media sosialnya. Alih-alih menggunakan istilah yang umum dipakai, mereka cenderung memakai istilah yang unik namun nyaman didengar dan mudah diingat. Pola inilah yang kemudian memancing diskusi dari rekan-rekan mereka. Tak jarang, kaum milenial menggunakan peluang tersebut untuk meyakinkan pihak lain bahwa investasi yang bertanggung jawab dan tidak serta-merta mencari profit merupakan hal yang pantas untuk dikaji.

Selanjutnya, menemani sang milenial beraktivitas, topik yang dibangun sejak sarapan pagi tersebut mulai disebar-luaskan melalui stasiun radio kesayangannya. Alhasil, ketika sang penyiar turut mendiskusikan topik hangat ini, semakin banyak kaum milenial yang memberikan pandangannya. Sehingga di banyak kesempatan, pola ini akan menjelma menjadi sebuah diskusi yang menarik di masyarakat. Dalam jangka menengah, langkah sistematis tersebut akan menjelma menjadi paradigma baru yang mengilhami lahirnya gerakan baru yang cukup sporadis.

Aktivitas kedua dalam menyebarluaskan ide impact-investing dilakukan melalui penulisan blog, artikel opini di media elektronik hingga menggalang aksi mulia seperti turut serta dalam kegiatan crowdfunding. Data statistik menyebutkan bahwa aktivitas crowdfunding mulai memperlihatkan tren peningkatan selama dua tahun terakhir. Selain dari maraknya bermunculan proyek-proyek penggalangan dana kemanusiaan, platform baru ini juga menyasar pendanaan berbasis impact-investing khususnya bagi generasi milenial.

Pada saat yang bersamaan, gonjang-ganjing ekonomi global yang terjadi beberapa saat terakhir ternyata memberi dampak positif pada pertumbuhan impact-investing di Indonesia. Para milenial cenderung menempatkan isu-isu seperti ramah lingkungan, keberlanjutan bisnis jangka panjang, dan kepedulian pada pebisnis skala kecil menengah sebagai filterisasi investasi utama.

Saat emiten di lantai bursa dinilai belum menunjukkan sinyal yang diminta, investor cenderung bergeser untuk masuk ke komunitas-komunitas startup baru khususnya di industri kreatif. Di situlah impact-investing direalisasikan.

Pada konteks tersebut, ketika investasi belum mendatangkan keuntungan seperti yang diharapkan, ternyata kaum ini mempunyai respons yang cukup menarik. Pernyataan yang lazim terungkap adalah tidak adanya kekecewaan yang kemudian dapat berujung pada penarikan investasi, yang ada malah sebaliknya. Fenomena tersebut malah mengundang komitmen untuk turut bergandengan tangan membangun bisnis di masa mendatang. Bentuknya sangat bervariasi, mulai dari menjadi duta atas produk yang dihasilkan hingga menjadi salah satu konseptor inovasi dalam perusahaan. Bak prinsip gotong-royong, mereka cenderung tergerak untuk saling membantu hingga semua upaya ini mampu meraih hasil dan cita-cita bersama.

Di Amerika Serikat, cara pandang di atas telah menjadi sebuah gaya hidup kaum milenial papan atas. Dengan dukungan pengetahuan dari dunia akademik semangat ini diterima oleh banyak kalangan. Hal yang sama juga sangat mungkin terjadi di negara kita. Tinggal sekarang maukah kita mengambil langkah untuk turut berpartisipasi di dalamnya?

Selamat berefleksi, sukses senantiasa menyertai Anda!