Manajemen Stres Saat Physical Distancing

Pada dasarnya, stres merupakan kondisi yang pada level tertentu justru akan membuat kita bersemangat menjalani hari-hari kita. Akan tetapi, jika levelnya terlalu rendah akan membuat kita bosan, namun jika berlebihan akan membuat kita tertekan. Untuk itu, diperlukan teknik mengelola stres agar kita tidak mengalami dampak negatif dari stres.

MAHARSI ANINDYAJATI
Odoo image and text block





Oleh: Dr. Maharsi Anindyajati, M.Psi., Psikolog - Head of Center for Human Capital Development PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di SWA Online

Rasa bosan dan khawatir silih berganti muncul saat kita menjalani physical distancing yang sedang diberlakukan oleh pemerintah. Anjuran untuk beraktivitas di rumah saja yang terus diperpanjang menambah kejenuhan dan ketakutan kita. Ancaman COVID-19 dan rutinitas normal yang direnggut dari kita menjadi stresor atau sumber stres dalam kehidupan kita. Bahayanya, saat mengalami stres justru berpotensi menurunkan daya tahan tubuh kita. Padahal kita tahu betul bahwa daya tahan tubuh menjadi salah satu faktor penting agar kita terhindar dari infeksi COVID-19.

Pada dasarnya, stres merupakan kondisi yang pada level tertentu justru akan membuat kita bersemangat menjalani hari-hari kita. Akan tetapi, jika levelnya terlalu rendah akan membuat kita bosan, namun jika berlebihan akan membuat kita tertekan. Untuk itu, diperlukan teknik mengelola stres agar kita tidak mengalami dampak negatif dari stres.

Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah mengubah cara pandang kita terhadap situasi ini. Tidak dipungkiri bahwa situasi saat ini memunculkan rasa takut dan cemas yang besar pada diri kita. Ketakutan tentang kondisi kesehatan dan juga kondisi ekonomi hinggap silih berganti.

Amygdala, bagian dari sistem limbik otak kita sedang bereaksi, bahkan bisa jadi berlebihan, sehingga menghambat kerja Pre Frontal Cortex yang bertugas untuk mengambil tindakan rasional. Dampaknya, kita menjadi tertekan, takut berlebihan, dan melakukan perilaku impulsif, seperti memborong semua masker, hand sanitizer, sarung tangan, dan bahan makanan.

Oleh karenanya, penting untuk mengelola amygdala kita, mengendalikan rasa takut. Ubahlah cara pandang terhadap situasi saat ini, namun tidak berarti menurunkan kewaspadaan kita. Restrukturisasilah cara berpikir kita. Dalam kondisi takut, kita cenderung mengalami kerancuan cara berpikir terhadap situasi yang berada di luar kendali kita. Untuk itu, sangat penting kita hanya membaca dan menerima informasi dari sumber yang terpercaya, tidak sembarangan, bukan hoax.

Selektiflah dalam menerima dan membaca semua berita yang dibagikan di media sosial karena ini akan turut berperan dalam merestrukturisasi cara berpikir kita. Lihatlah masa physical distancing ini sebagai momen langka yang positif. Ubahlah cara pikir yang semula berpikir di masa ini kita tidak bisa bepergian, tidak bisa leluasa jalan-jalan, tidak bisa kumpul-kumpul dengan teman atau kerabat, menjadi berpikir bahwa ini adalah kesempatan untuk membersihkan perabot rumah, menata ulang ruangan di rumah, membantu anak mengerjakan tugas, memasak makanan kesukaan anggota keluarga, dan melekatkan diri dengan keluarga. Dengan demikian, masa isolasi di rumah akan terasa lebih menenangkan, dan ketakutan kita teralihkan.

Langkah lain yang dapat dilakukan adalah mengatur tindakan kita, salah satunya dengan time management. Bagi para karyawan yang diharuskan tetap beraktivitas namun dari rumah (work from home) membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan kondisi ini. Perbedaan aktivitas dari biasanya membuat kita seringkali lengah dalam membagi waktu. Tanpa kita sadari waktu berlalu, namun tugas tidak terselesaikan dengan baik. Banyak waktu terbuang untuk melakukan hal yang tidak bermanfaat. Jika dibiarkan berlarut-larut, kondisi ini justru membuat kita jenuh berada di rumah. Buatlah jadwal harian dan konsisten untuk menerapkan itu. Beradaptasilah dengan gaya kerja baru.

Hal yang tidak boleh terlewatkan adalah melakukan aktivitas fisik, salah satunya berolahraga. Saat kita berolahraga, otak kita menghasilkan dopamine yang membantu kita untuk merasa lebih baik, serotonin yang dapat menstabilkan mood kita, endorphin yang dapat meningkatkan rasa percaya diri untuk menghadapi masalah, dan mengurangi kortisol yang merupakan hormon stres.

Dengan kata lain, jauh lebih baik bagi kita untuk tetap berolahraga, menggerakkan badan kita, daripada sekadar duduk dan berpikir untuk tidak stres. Tetaplah berolahraga, get moving. Tentunya dengan tetap memerhatikan aturan dan prosedur physical distancing.  Gunakan tubuh kita untuk mengendalikan stres.

Upaya lain yang dapat dilakukan dalam manajemen stres adalah penerimaan kita terhadap kondisi ini. Kita menerima bahwa situasi ini cukup berbahaya, siapapun dapat terinfeksi, namun kita masih bisa melakukan beberapa hal untuk membuat kita siap menghadapi situasi ini. Relaksasi dan meditasi merupakan cara untuk membantu kita menerima situasi ini dengan tetap tenang.

Saat mengetahui berita terkini mengenai Corona, amygdala kita bereaksi dan dapat memunculkan gejala psikosomatis, seperti tenggorokan gatal atau sesak nafas. Relaksasi dapat menurunkan aktivitas amygdala tersebut,  memperlambat pernafasan dan detak jantung, menurunkan tekanan darah, dan mengembalikan keseimbangan antara tubuh dan pikiran. Kita juga dapat memperbesar penyerahan diri kita kepada Yang Maha Kuasa agar dapat menghadapi situasi ini, dengan tetap berusaha sebaik mungkin menjaga kesehatan kita.