Luas Perkataan Tak Seluas Pemikiran

Pada konsep ini, intinya, kita sebagai pembicara harus lebih menekankan WIFA dibanding dengan WIII

RAHADI CATUR YUWONO
Odoo image and text block

 

Oleh: Rahadi Catur Yuwono M.M.Marketing Manager Online Learning PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di Majalah Sindo Weekly No. 50 Tahun VI, 12-18 Feb 2018 p. 82

 

“Saya tidak bisa mengubah apa pun, tidak ada yang mendengarkan ide-ide saya. Pemimpin tidak mengerti. Mereka hanya tahu teori dan duduk di sana karena pendidikannya saja”.

Begitulah karyawan berkeluh kesah, bertarung mengeluarkan pendapat kepada pemimpin perusahaan. Kita sering mendengar keluhan para karyawan atau mungkin salah satunya adalah Anda yang mengalami kesulitan menjual ide-ide baru kepada pihak manajemen. Padahal, ide-ide tersebut bermanfaat untuk meningkatkan kinerja dan kemajuan organisasi.

Dalam beberapa hal, itu memang kerap terjadi. Manajemen menolak ide-ide baru karena mentalitas “keengganan untuk berubah”.

Akan tetapi, yang lebih sering terjadi adalah para karyawan tidak tahu bagaimana menjual ide-ide tersebut secara efektif, baik dari sisi pola pikir, mentalitas, maupun hal-hal yang bersifat keterampilan ataupun teknik dalam menjual ide. Pasalnya, mereka tak mempersiapkan kemampuan komunikasi dengan matang.

Sering kali kita sebagai pembicara berada di dua gelombang yang besar atau dua arus yang kuat. Gelombang atau arus itu yang penulis analogikan sebagai WIFA (Whats in it for audience) VS WIII (What I am interested in).

WIFA adalah bagaimana Anda memahami situasi, kondisi, bahkan posisi lawan bicara atau bahkan situasi dan kondisi perusahaan Anda. Sementara, WIII merupakan gelombang kepentingan Anda sebagai pembicara, rasa nyaman Anda sebagai pembicara, dan Anda hanya melihat dari perspektif sendiri. Kita sebagai pembicara sering kali lebih mengedepankan kepentingan sebagai pembicara daripada kepentingan atau kebutuhan lawan bicara.

Apa akibatnya? Tentu saja pesan yang hendak disampaikan menjadi sulit untuk dimengerti, sulit untuk dipertimbangkan oleh lawan bicara, dan akhirnya pesan tidak ‘terbeli’. Pada konsep ini, intinya, kita sebagai pembicara harus lebih menekankan WIFA  dibanding dengan WIII.

Bicaralah dari sudut pandang lawan bicara. Bicaralah layaknya Anda di posisi seorang manajer jika mengajukan gagasan kepada manajer. Bicaralah layaknya pimpinan puncak jika mengajukan gagasan kepadanya. Anda perlu memetakan segala risiko atau hambatan ketika seorang pemimpin menyepakati gagasan tersebut lengkap dengan tindakan penanggulan dari risiko atau hambatan tersebut.


Komunikasikan Latar Belakang, Solusi dan Manfaat

Komunikasi organisasi yang baik memuat pemahaman yang menyatakan bahwa semua karyawan dalam organisasi atau semua level tahu serta paham mengapa diperlukan perubahan, apa konten, dan konteks perubahannya. Nah, yang paling penting lagi adalah bagaimana perubahan tersebut akan berdampak terhadap bisnis organisasi dan setiap karyawan dalam pekerjaannya.

Tekankan pada solusi yang Anda gagas dan manfaat-manfaat yang dapat diraih oleh organisasi terhadap diimplementasikannya gagasan-gagasan Anda.

Bahasa dunia kerja adalah bahasa berbasiskan data dan fakta. Kuncinya, Anda perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengkritik data-data mentah yang ada, lalu menganalisisnya menjadi suatu informasi dan kemudian menggabungkannya, mengintegrasikannya, serta mengirimkannya dalam bentuk yang sesuai, termasuk kapan, di mana dan bagaimana cara mengomunikasikannya kepada lawan komunikasi Anda.

Anda dapat juga menghadirkan analisis yang solid terkait studi kasus atau kesaksian pelanggan atau kesaksian pesaing yang sudah menerapkan strategi yang Anda usulkan. Lalu, hadirkan manfaat yang lebih spesifik atau manfaat yang relevan yang akan diperoleh oleh perusahaan.

Penulis yakin perjuangan tidaklah mudah. Intinya, jangan mudah menyerah. Berikan kesempatan pada diri Anda untuk belajar dan mencicipi segala ketidaknyamanannya. Bersabarlah, benefit itu akan diperoleh sebagai “ganti rugi” kegigihan. Mungkin tidak sekarang, tapi suatu masa nanti akan dituai.

Selamat berefleksi!

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.