Keluhan: Pembunuh Produktivitas

Penelitian dari Stanford University menemukan bahwa mengeluh dapat berdampak pada penyusutan hipokampus. Hipokampus merupakan bagian dari otak yang berfungsi untuk pembelajaran, pemecahan masalah, dan penyimpanan memori jangka panjang.

MAHARSI ANINDYAJATI
Odoo image and text block



Oleh: Dr. Maharsi Anindyajati, M.Psi. - Konsultan Human Capital PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di Majalah Sindoweekly No. 50 Tahun VII, 11-17 Februari 2019, hlm. 82

Pernahkah Anda mengeluh? Kemungkinan besar kita pasti pernah mengeluh. Keluhan bisa saja tentang sikap atasan yang tidak menyenangkan, kebijakan organisasi yang merugikan karyawan, perilaku klien yang menyebalkan, partner kerja yang tidak kolaboratif, sifat buruk pasangan, atau bahkan mengenai kebobrokan mental bangsa.

Sering kita berkelit bahwa kita tidak mengeluh, tetapi mengekspresikan perasaan atau menyalurkan ‘unek-unek’. Bukankah mengungkapkan apa yang kita rasakan lebih baik daripada memendam rasa dan akhirnya menjadi penyakit? Nah, ini perlu diwaspadai. Ada perbedaan yang tipis antara mengungkapkan perasaan dengan tujuan mencari solusi atau yang sekedar mencari ventilasi emosi semata.

Pada dasarnya, mengeluh merupakan respons manusia terhadap segala sesuatu yang tidak ia sukai. Setelah mengeluh, kita sering menganggap bahwa beban kita akan berkurang. Padahal, sudahkah kita menilai apakah keluhan yang kita sampaikan tersebut akan berujung pada solusi?  

Intinya, setiap kali kita mengungkapkan perasaan dan permasalahan tanpa niat yang sesungguhnya untuk menemukan solusi, hanya sekedar “meringankan beban di dada”, itu sama saja dengan mengeluh. Niat untuk mencari solusi akan tercermin dari pihak, media, dan cara yang dipilih untuk mengungkapkan perasaan.

Mengeluh memiliki dampak yang luar biasa dahsyat, sehingga layak dikatakan sebagai pembunuh produktivitas.  Mengeluh tidak hanya mengganggu relasi dengan orang lain, tetapi juga menggerogoti kita dari dalam, sehingga membuat kita terhambat dalam menjalankan fungsi di berbagai aspek kehidupan. Salah satunya dalam bekerja.

Mengeluh pada dasarnya merupakan ventilation fallacy, sebuah kekeliruan dalam memilih cara mengungkapkan emosi. Saat mengeluh, emosi yang tidak menyenangkan justru akan terus bertahan dan menciptakan jejak neurologis yang semakin mendalam. Pada akhirnya, cara berpikir kita pun dipenuhi dengan pemikiran yang negatif dibanding positif.

Penelitian dari Stanford University menemukan bahwa mengeluh dapat berdampak pada penyusutan hipokampus. Hipokampus merupakan bagian dari otak yang berfungsi untuk pembelajaran, pemecahan masalah, dan penyimpanan memori jangka panjang. Kerusakan pada hipokampus dapat menyebabkan seseorang tidak mampu menghasilkan memori jangka panjang baru.

Selain memengaruhi hipokampus, mengeluh juga akan meningkatkan produksi hormon kortisol. Secara fisiologis, peningkatan hormon kortisol akan menurunkan imunitas tubuh sehingga tubuh dapat lebih mudah terserang berbagai penyakit.

Selain berdampak pada kesehatan, mengeluh juga mampu berdampak terhadap relasi sosial kita. Kondisi emosi seseorang akan memengaruhi kondisi emosi orang-orang di sekelilingnya. Secara alami, otak akan meniru suasana hati orang-orang di sekitar kita, terutama orang yang menghabiskan banyak waktu dengan kita.

Kondisi itu disebut dengan neural mirroring dan sebenarnya menjadi dasar dari kemampuan kita untuk berempati. Dengan demikian, saat mengeluh, kita akan mentransfer emosi kesal, sedih, marah, benci kepada lawan bicara kita. Begitu juga sebaliknya. Pada dasarnya manusia tidak senang dikelilingi oleh energi negatif. Situasi seperti ini yang dapat merusak relasi sosial kita. Jika kita sering mengeluh, orang akan menjaga jarak dengan kita karena tidak ingin tertular perasaan yang tidak menyenangkan.

Lalu, apa yang harus kita lakukan ketika kita ingin menyampaikan keberatan dan permasalahan kita? Pertama, tingkatkan rasa syukur. Penelitian yang dilakukan oleh University of California, Davis, menemukan bahwa orang yang bersyukur mengalami peningkatan suasana hati dan kecemasan yang lebih rendah karena tingkat kortisol yang lebih rendah dibanding orang yang kurang bersyukur. Berpikirlah positif sehingga sikap positif akan menjadi cara hidup kita.

Kedua, jika memang kita harus mengungkapkan keluhan, berorientasilah kepada solusi. Pastikan tujuan apa yang diinginkan melalui keluhan yang kita ajukan. Mulailah dari hal yang positif yang dirasakan selama ini, utarakan keluhan secara spesifik, dan akhirilah keluhan dengan pernyataan yang memotivasi pihak yang dikeluhkan untuk melakukan perbaikan.