Investasi yang Memanusiakan Manusia

Berinvestasi pada instrumen yang nyata-nyata meningkatkan peradaban merupakan strategi jitu kaum milenial. Tidak hanya di Indonesia atau Asia, beberapa riset di Amerika Serikat dan Eropa menunjukkan tingginya kecenderungan generasi milenial untuk mengkonsumsi produk-produk ramah lingkungan.

ARIES HERU PRASETYO
Odoo image and text block

 




Oleh: Aries Heru Prasetyo - Vice Dean Research and Innovation PPM School of Management

*Tulisan ini dimuat di Majalah Pajak Volume LVIII, 2019, p. 35

Bagi kaum milenial, fokus strategi kehidupan ada pada bagaimana mereka mampu memaknai kehidupan yang tengah dijalani. Melalui ketangkasannya di dunia maya, kaum milenial menggunakan media sosial dalam melakukan ‘pemuridan’ atas cara pandang yang dimiliki. Salah satunya adalah filosofi investasi. Untuk mereka, aktivitas investasi dipandang lebih dari sekadar upaya mencari keuntungan di bidang keuangan melainkan salah satu upaya dalam menularkan idealisme yang dimiliki.

Beberapa tema seperti kebangsaan atau nasionalisme serta langkah pelestarian alam dan pencegahan perubahan iklim disebut-sebut sebagai semangat dasar milenial dalam berinvestasi. Secara rinci, mereka memilih perusahaan yang dikenal bersahabat dengan alam. Prinsip ini ditelusuri dari sejauh mana program dan kebijakan perusahaan mengusung paradigma keberlanjutan.

Berinvestasi pada instrumen yang nyata-nyata meningkatkan peradaban merupakan strategi jitu kaum milenial. Tidak hanya di Indonesia atau Asia, beberapa riset di Amerika Serikat dan Eropa menunjukkan tingginya kecenderungan generasi milenial untuk mengkonsumsi produk-produk ramah lingkungan.

Sebut saja produk The Body Shop, Apple, hingga jasa perbankan seperti ICBC yang giat dalam kampanye pendanaan bisnis ramah lingkungan. Tak hanya itu, hasil riset juga menunjukkan bahwa animo komunitas ini meningkat rata-rata 38% per tahun selang lima tahun terakhir. Realitas ini menunjukkan adanya kolaborasi yang cantik antara kekuatan pengembangan ilmu pengetahuan khususnya pada sendi-sendi kehidupan individu dan sosial kemasyarakatan dengan kemajuan di bidang teknologi informasi dan internet.

Tingginya kesadaran kaum milenial tentang perlunya upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan telah membuat banyak perusahaan semakin tekun dalam mengembangkan program tanggung jawab sosialnya (CSR). Tak tanggung-tanggung, semangat ini bertumbuh hingga menyentuh tingkat pengelolaan wilayah dan negara. Sebagian besar pemerintahan baik di negara maju maupun berkembang kini secara serius memandang langkah pengurangan emisi sebagai hal yang vital.

Sebagai contoh, pemerintahan kita saat ini berkomitmen untuk mengurangi efek emisi hingga 29% sampai 2030. Ini menunjukkan betapa seriusnya bangsa kita dalam mengemban misi memperlambat proses penuaan bumi.

Jika dirunut lebih jauh, fenomena itu tak lepas dari tuntutan kaum milenial di tingkat nasional, regional, maupun global. Melalui jejaring yang luas dan kuat, generasi ini saling berbagi pengetahuan tentang pentingnya mengelola bumi yang semakin tua agar dapat tetap diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya. Selanjutnya, prinsip ini dipandang sebagai tantangan bagi perusahaan dan instansi pemerintahan.

Penurunan cara pandang tersebut ke dalam strategi jangka panjang boleh dikatakan bukanlah hal yang sederhana. Proyek-proyek besar yang menyasar upaya pelestarian alam dan langkah taktis dalam memperlambat efek perubahan iklim membutuhkan dana yang sangat besar. Tak jarang mulai tingkat pemerintah hingga korporasi menerbitkan pendanaan dalam bentuk surat utang (obligasi) jangka panjang.

Pada titik itulah para kaum milenial terpanggil untuk turut berpartisipasi aktif. Melalui semangat “memanusiakan manusia” profesional muda berlabel milenial secara aktif memborong instrumen keuangan yang lengket dengan label green-business. Sejumlah saham dan obligasi perusahaan yang secara eksplisit mengedepankan restorasi alam sebagai salah satu hal yang vital kini menghuni posisi teratas dalam daftar target investasi.

Upaya tersebut terlihat jelas dengan prestasi internasional yang berhasil ditorehkan oleh Indonesia di awal tahun ini. Mengutip kantor berita dunia ternama di Singapura, Indonesia telah berhasil mencatat sebagai negara Asia pertama yang menerbitkan obligasi berorientasi lingkungan terbesar di dunia. Hal ini sangat wajar terlebih karena lebih dari separuh geografis nusantara merupakan hutan tropis. Maka dengan prinsip pengelolaan bisnis yang ramah dengan alam, niscaya proses penuaan bumi dapat ditekan sedemikian rupa. Setidaknya pola ini akan menciptakan peluang bagi generasi selanjutnya untuk turut menikmati kekayaan alam yang ada.

Kesadaran akan hal tersebut seyogyanya menjadi acuan bagi produsen yang sehari-hari berinteraksi erat dengan alam. Itulah mengapa sejumlah standarisasi ISO menjadi sebuah kewajiban utama di perusahaan-perusahaan tanah air. Kepekaan mereka dalam mengelola bisnis untuk lebih bersahabat dengan alam secara otomatis akan memperoleh apresiasi dari masyarakat.

Tidak hanya dalam hal konsumsi produk, namun juga untuk sisi pendanaan. Karenanya, pemahaman akan perlunya konteks bisnis yang memanusiakan manusia merupakan hal yang mendasar dewasa ini. Kalangan investor akan menjadikan hal ini sebagai prasyarat utama dalam berinvestasi.

Sama dengan realitas di negara-negara maju, pasar investasi di Indonesia saat ini mulai didominasi semangat ini. Maka reorientasi strategi perlu segera disesuaikan dengan tuntutan yang ada.