Investasi Luar Negeri: Meningkatkan Industri Dalam Negeri

Jika di sebuah daerah didirikan sebuah pabrik, otomatis akan berdiri pula sebuah toko ritel karena ada banyak orang datang dan berdiam di daerah tersebut. Kemudian, berdiri pula usaha rumah makan dan pemondokan. Belum lagi perusahaan asuransi kesehatan. Akhirnya, efek berantai tersebut akan meningkatkan perekonomian masyarakat.

RICKY VIRONA MARTONO
Odoo image and text block




Oleh: Ricky Virona Martono – Trainer, Executive Development Services - PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di Majalah Sindo Weekly No. 42-43, Tahun VII, 17-30 Desember 2018, p. 82

Realisasi investasi asing ke Indonesia pada 2018 diperkirakan meleset dari target Rp765 triliun menjadi Rp730 triliun. Sementara, pada tahun politik 2019 realisasi investasi diperkirakan melambat sesuai siklus tahun politik ketika investasi asing menurun.

Investasi asing (dan investasi dalam negeri) selalu memberi dampak positif bagi pembangunan sebuah negara, seperti Indonesia yang sudah membuka diri bagi investasi asing sejak akhir 1960an. Tentunya nilai investasi ini berkontribusi bagi output atau produk domestik bruto (PDB).

Investasi akan mendorong pertumbuhan penjualan dari perusahaan, termasuk usaha menengah dan kecil di Indonesia serta perusahaan pendukungnya (vendor, pemasok) karena investasi asing sedikit banyak membutuhkan peran perusahaan lokal. Dampak berikutnya adalah memberikan efek berantai (multiplier effect) dalam menyediakan lapangan pekerjaan.

Sebagai ilustrasi, jika di sebuah daerah didirikan sebuah pabrik, otomatis akan berdiri pula  sebuah toko ritel karena ada banyak orang datang dan berdiam di daerah tersebut. Kemudian, berdiri pula usaha rumah makan dan pemondokan. Belum lagi perusahaan asuransi kesehatan. Akhirnya, efek berantai tersebut akan meningkatkan perekonomian masyarakat.

Tidak aneh kalau pemerintah tidak segan-segan menyediakan kemudahan investasi serta membangun kawasan industri, manufaktur, pertambangan, dan peternakan terpadu modal tinggi yang dilengkapi dengan akses transportasi yang baik, infrastuktur penunjang, dan insentif pajak yang ringan. Sebab, seluruh modal yang ditanamkan akan menggerakkan perekonomian yang lebih besar lagi.

Menurut data Badan Koordinasi Penanaman Modal, penanaman modal asing di Indonesia pada semester pertama tahun 2015 di bidang Industri, pembangkit tenaga listrik, perkebunan, jasa pertambangan, transportasi, pariwisata, dan peternakan sebesar Rp92 Triliun diproyeksikan mampu menyerap 65.000 tenaga kerja langsung. Efek berantainya bagi penciptaan tenaga kerja tak langsung diproyeksikan sekitar empat kali lipat, atau sekitar 260.000 tenaga kerja. Selain itu, dari setiap penciptaan satu lapangan kerja bidang manufaktur akan menciptakan 1,6 lapangan pekerjaan bidang jasa (pelayanan, servis).

Sebenarnya tidak cukup kalau kita menilai dampak investasi hanya dari pertumbuhan kesejahteraan, tapi kita juga harus menilai upaya pemerintah dalam mendorong industri lokal untuk lebih berperan bersama investasi asing ini. Kita lihat, sejak investasi otomotif Jepang pada tahun 1970an sampai hari ini, tingkat komponen dalam negeri (TKDN) untuk industri otomotif sudah lebih dari 70%. Untuk proyek MRT dan LRT Jakarta, TKDN baru mencapai 40%. Untuk kereta cepat Jakarta-Bandung ditargetkan mencapai 60%.

Ada beberapa tantangan yang sering muncul. Pertama, ketika perusahaan asing menggunakan TKDN, tapi komponen lokal yang digunakan diproduksi oleh perusahaan yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh perusahaan asing tersebut sehingga keuntungan tetap dikirim ke negara asal si perusahaan asing.

Kedua, untuk mengurangi pajak penghasilan, perusahaan asing sebanyak-banyaknya menggunakan komponen impor. Komponen tersebut diproduksi oleh perusahaan atau anak perusahaan dari perusahaan asing tersebut. Sekali lagi, modal dikirim kembali ke luar Indonesia.

Langkah pemerintah dalam mendorong peningkatkan TKDN dengan memberi insentif secara gradual sudah sangat tepat. Sebut saja misalnya untuk TKDN 30% dan TKDN 40% masing-masing diberi keringanan pajak sebesar 5% dan 6%. 

Dalam berbagai industri, sebenarnya biaya total menggunakan TKDN tidak selalu lebih murah daripada menggunakan barang impor. Biasanya hal itu disebabkan oleh kualitas barang yang lebih rendah dari barang impor. Namun, bagaimana pun, industri lokal harus selalu diberi kesempatan, yang tujuan jangka panjangnya dapat mendorong kemajuan industri dalam negeri.

Potensi berikutnya dari kedatangan investasi asing adalah pengetahuan bagi pekerja Indonesia dan alih teknologi. Alhasil, kedatangan investasi (uang dan barang) asing bukan merupakan substitusi (pengganti) dari keberadaan industri dan barang lokal,tetapi merupakan pelengkap serta acuan pembelajaran bagi industri di Indonesia.