Integrasi Platform akan Terus Berkembang

Dengan berkembangnya teknologi, platform secara perlahan beralih wujud dari fisik ke teknologi informasi.

RICKY VIRONA MARTONO
Odoo image and text block





Oleh: Ricky Virona Martono – Core Faculty  PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di Majalah PAJAK Volume LXIX | 2019, hlm. 51

Platform adalah sebuah sarana untuk berinteraksi, seperti melakukan rapat, transaksi perdagangan, media iklan produk/jasa. Jika ada dua pihak yang berinteraksi, disebut dengan two-sided platform, contohnya sistem perdagangan antara pembeli dan penjual saham, sistem kartu kredit sarana interaksi pengguna kartu dengan Bank, biro jasa mencari jodoh.

Kalau lebih dari dua pihak yang berinteraksi, kita sebut multi-sided platform, misalnya sebuah gawai yang menyediakan sarana interaksi antar pemakai software, penyedia konten media sosial, dan berbagai tools untuk melakukan transaksi dengan Bank atau perusahaan penjual on-line.

Dengan berkembangnya teknologi, platform secara perlahan beralih wujud dari fisik ke teknologi informasi. Interaksi pun dilakukan secara virtual, sehingga two-sided platform berbasis IT (dan software) menyediakan konsep virtual meeting place. Jasa yang ditawarkan dalam wujud fisik maupun teknologi informasi bisa dibilang sama, yang berbeda hanya alatnya saja.

Perbedaannya ada di revenue. Revenue penyedia platform berwujud fisik diperoleh dari para penggunanya, uang keanggotaan, iuran bulanan. Pada platform berbasis virtual, diperoleh dari pengguna dan iklan/sponsor, misalnya iklan televisi, iklan di webpage, atau investor bagi perusahaan penyedia platform. Karakter dari sebuah platform adalah network effects.

Adapun intermediasi, adalah pihak perantara antara dua pihak untuk melakukan transaksi yang saling menguntungkan. Pada industri logistik, intermediasi sebagai perantara untuk mengirimkan barang perusahaan untuk mencapai harga dan layanan yang lebih baik. Misalnya dalam melakukan proses konsolidasi dan break-bulk, layanan solusi bea cukai, layanan penyedia tenaga kerja kontrak.

Pihak perantara memperoleh untung dari pembayaran perusahaan yang dilayani, dan perusahaan yang menggunakan jasa perantara memperoleh untung dengan dibantunya proses logistik sehingga mereka bisa konsentrasi mengerjakan bisnis utamanya.

Perbedaan intermediasi dengan sebuah platform adalah keberadaan pihak perantara ini lebih sulit menangani pengguna yang terlalu banyak (congestion), alhasil karakternya bukan ditentukan oleh network effects, melainkan oleh kesesuaian harga dan service level agreement (SLA) antara perantara dan pengguna. Karena pihak perantara membatasi jumlah pemakai, maka revenue dari satu pengguna harus dijaga jumlahnya. Artinya layanan kepada satu pengguna harus selalu baik. Karakter lainnya adalah di antara pihak perantara dan pengguna saling menjaga kerahasiaan informasi.

Karena tingkat harga yang dijaga, maka penyaluran produk dari produsen ke konsumen akan meningkatkan harga jual di setiap titik intermediasi (perantara) yang dilewatinya. Dalam sebuah sistem logistik perlu dicermati pihak perantara mana yang tidak menyediakan layanan bermanfaat bagi pengguna. Pengurangan jumlah perantara ini disebut dengan disintermediasi.

Di Indonesia sendiri sebenarnya ada perusahaan yang berbasis two-sided platform namun juga berperan dalam proses disintermediasi. Misalnya, perusahaan yang menyediakan jasa belanja on-line. Perusahaan ini menyediakan virtual meeting place antara pembeli dan penjual. Ada karakter network effects terkait testimoni dan harga di dalam sistemnya. Namun, perusahaan belanja on-line memotong paling tidak satu tahap pengiriman barang sampai ke konsumen, yaitu barang tidak perlu dikirim terlebih dahulu ke ritel untuk dijual.

Contoh lainnya, perusahaan penyedia jasa content management dan advertising, mereka menyediakan virtual meeting place antara penjual yang ingin mempromosikan produknya kepada pembeli, sekaligus mengurangi peran perantara karena perusahaan tidak perlu sepenuhnya menggunakan jasa pembuat iklan sebagai perantara.

Pada industri keuangan, muncul perusahaan penyedia jasa pembayaran on-line, menggunakan teknologi informasi berupa aplikasi. Konsumennya dapat membayar langsung tanpa harus mengambil uang ke Bank bahkan ke ATM. Disini terlihat fungsi perantara Bank dan ATM mulai berkurang.

Dampak lainnya adalah, proses peminjaman modal yang dahulu hanya melalui Bank, saat ini dapat dilakukan antara investor dengan kreditur secara langsung. Meskipun begitu, investasi ini sebenarnya masih perlu ditingkatkan sistem kepercayaan dan keberlangsungan yang baik antara kreditur dan debitur.

Di tahun 2019 saja, perusahaan-perusahaan di Indonesia pada contoh di atas sudah mencapai tingkat revenue yang menakjubkan, bahkan beberapa perusahaan sudah menyandang gelar unicorn. Konsep integrasi platform dan disintermediasi akan terus berkembang merambah berbagai industri di masa depan.