Disonansi Kognitif, Aspek Psikologis Dalam Pendeteksian Kecurangan

Perilaku kecurangan laporan keuangan menyebabkan disonansi kognitif, karena perilaku tidak sejalan dengan keyakinan seseorang yang memiliki nilai bahwa diri mereka jujur.

MARTDIAN RATNA SARI
Odoo image and text block




Oleh: Martdian Ratna Sari, M.Sc, CCFA- Faculty Member PPM School of Management

*Tulisan ini dimuat di Majalah BUMN Track Desember 2020

Pernahkah terlintas dalam benak kita bahwa setiap sikap dan perilaku yang kita tunjukkan dapat menjadi sinyal indikasi bahwa kita melakukan kesalahan namun takut untuk mengakuinya? Atau pernahkah secara tidak sadar kita melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan nilai yang kita yakini, perilaku kita menjadi cenderung menghindar ataupun menjawab dengan berbagai alasan?

Jawabannya pasti pernah! Perilaku itu disebut disonansi kognitif. Perilaku secara tidak sadar ketika melakukan sesuatu namun tidak sesuai dengan nilai yang diyakini, lalu perilaku kita cenderung menunjukkan bahwa kita yang telah melakukannya. Jadi, bagaimana disonansi kognitif ini dapat digunakan dalam mendeteksi kecurangan laporan keuangan?

Mengidentifikasi kesalahan pelaporan yang dilakukan oleh manajerial merupakan salah satu tugas terpenting yang dihadapi oleh investor, auditor, dan regulator. Kegagalan biasanya dikarenakan time budget pressure, auditor gagal memahami lingkungan bisnis klien, dan pasifnya regulator dalam memberikan sanksi terhadap perusahaan yang melakukan kecurangan.

Sebagian besar pendeteksi kesalahan pelaporan keuangan hanya berfokus pada aspek keuangan, padahal selain itu ada aspek non keuangan dan ada aspek kognitif yang juga bisa menjadi indikator kecurangan (Mazzar, Amir, danAriely (2008).

Aspek kognitif ini merupakan penanda vokal non verbal yang berfokus pada jenis penanda tertentu, yakni disonansi kognitif atau perasaan ketidaknyamanan psikologis saat melakukan tindakan dan keyakinan yang tidak sesuai (Festinger, 1957).

Perilaku kecurangan laporan keuangan menyebabkan disonansi kognitif, karena perilaku tidak sejalan dengan keyakinan seseorang yang memiliki nilai bahwa diri mereka jujur. Dengan kata lain, ketika seseorang melakukan kesalahan dalam melaporkan sesuatu, orang tersebut juga memiliki kecenderungan rasa takut pada konsekuensi potensial yang timbul, seperti akan tertangkap dan terjerat tindak pidana.

Disonansi kognitif cenderung lebih parah ketika seseorang menghadapi lebih banyak ketidakpastian, dan ketidakpastian dapat berhubungan dengan disonansi kognitif dalam dua cara.

Pertama, ketidakpastian ketercapaian kinerja perusahaan menyebabkan manajemen perusahaan memiliki disonansi kognitif.

Kedua, perusahaan dengan lebih banyak pengawasan terhadap manajemen perusahaan lebih mungkin melakukan penipuan keuangan. Disonansi kognitif ini juga erat hubungannya dengan teori fraud triangle, bahwa manusia akan selalu beradaptasi dengan lingkungannya.

Jika seorang CFO mengetahui bahwa isyarat verbal dan non verbal dapat mengungkap perilaku pelaporannya yang salah, maka ia akan berusaha menjaga sikap dan perilakunya.

Maka, kita sebagai seorang auditor perlu memiliki kompetensi dalam mengidentifikasi dan menganalisis kecurangan melalui analisis dísonansi kognitif.

Mari lebih cermat!

 

Artikel Terkait:

Martdian Ratna Sari - Di Balik Topeng "Windows Dressing"

Martdian Ratna Sari - Penalaran Strategis Mendeteksi Kecurangan Laporan Keuangan