Di Balik Topeng "Windows Dressing"

Pada saatnya, "windows dressing" tidak lagi bisa menutupi keterpurukan kinerja perusahaan.

MARTDIAN RATNA SARI
Odoo image and text block





Oleh: Martdian Ratna Sari- Faculty Member PPM School of Management

*Tulisan ini dimuat di Majalah PAJAK Volume LXXIV|2020, hlm. 43

Jiwasraya dan Garuda Indonesia akhir tahun 2019 menjadi perusahaan paling “popular”. Hingga awal tahun ini dua perusahaan besar BUMN itu tersandung mega skandal. Mulai dari salah saji pendapatan Garuda Indonesia, hingga gagalnya Jiwasraya membayar klaim nasabah. Hal itu membuat publik bertanya-tanya atas motivasi perusahaan BUMN besar tersebut. Laporan keuangan menjadi ladang utama kedua perusahaan melakukan windows dressing.  

Tidak banyak orang umum memahami bagaimana mega skandal tersebut bisa terjadi, bahkan sampai terorganisir dengan begitu rapi. Sederhananya, kecurangan tidak pernah dilakukan sendirian, bahkan tidak akan bisa dilakukan oleh orang yang tidak punya kekuasaan.

Sejatinya, windows dressing hanyalah suatu metode yang digunakan perusahaan untuk menyajikan laporan keuangan yang bagus dan menarik, namun tidak sesuai dengan kinerja perusahaan yang sesungguhnya. Dan akan ada satu masa, windows dressing tersebut tidak lagi bisa menutupi keterpurukan kinerja perusahaan.

Windows dressing adalah strategi manajemen perusahaan untuk mempercantik portofolio atau performa laporan keuangan sebelum dipublikasikan kepada para stakeholders. Windows dressing biasanya dikenal sebagai fenomena kenaikan harga saham menjelang penutupan tahun agar kinerja akhir tahun perusahaan terlihat baik dan mencapai target.

 

Dua perspektif

Ada dua perspektif mengapa manajerial melakukan windows dressing, perspektif informasi dan perspektif oportunis. Perspektif tersebut menjelaskan bahwa windows dressing merupakan perilaku manajerial untuk memengaruhi informasi yang disajikan dengan memanfaatkan kebijakan akuntansi dan ketidaktahuan orang lain akan informasi yang disajikan. Perilaku oportunis ini menyebabkan kekayaan perusahaan tidak dialokasikan secara tepat.

Ada berbagai metode dan motivasi manajerial dalam melakukan windows dressing, mulai dari motivasi mengecilkan pajak yang harus dibayar, menghindari kewajiban pembayaran utang, memengaruhi investor untuk membeli/menjual saham, mendapatkan bonus, hingga untuk menaikkan posisi perusahaan di pasar modal.

Untuk mengecilkan pajak, memengaruhi investor menjual sahamnya dan menghindari kewajiban pembayaran utang, manajerial biasanya melakukan pengakuan pendapatan tahun berjalan sebagai pendapatan tahun sebelumnya dan mengakui biaya lebih cepat. Sedangkan untuk memengaruhi investor membeli saham, menaikkan nilai perusahaan di pasar modal dan mendapatkan bonus, manajerial biasanya melakukan pengakuan pendapatan lebih cepat/prematur, mencatat pendapatan palsu, mengakui biaya lebih lambat, hingga tidak mengungkap semua kewajiban yang dimiliki perusahaan.

Kriteria penyajian laporan keuangan rawan terhadap kebijakan manajerial yang merupakan fleksibilitas dari sebuah standar akuntansi yang memberikan peluang bagi manajerial untuk mencatat transaksi dengan cara tertentu dan mengestimasi secara subjektif.

Windows dressing seringkali dilakukan melalui pemanfaatan akun-akun akrual karena harga pasar saham sebuah perusahaan secara signifikan dipengaruhi oleh laba, risiko, dan spekulasi. Windows dressing mempermainkan akun akrual karena tidak memerlukan bukti kas secara fisik sehingga upaya mempermainkan besar kecilnya komponen akrual tidak harus disertai dengan kas yang diterima, ataupun kas yang dikeluarkan oleh perusahaan.

Meskipun sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa setiap perusahaan pasti pernah melakukan windows dressing, bahkan sampai mengakibatkan kerugian bagi perusahaan itu sendiri, hingga kini pemakai laporan keuangan bahkan auditor sebagai pemberi jaminan sangat sulit untuk mendeteksi apakah informasi dalam laporan keuangan perusahaan tersebut benar atau mengandung salah saji material, meskipun laporan keuangan sudah menyertakan informasi secara rinci penjelasan dari masing-masing komponen.

Keterbatasan tersebut didasari ketidakmampuan pemakai laporan keuangan dalam memahami catatan-catatan keuangan secara baik dan tidak semua metode atau prosedur yang digunakan perusahaan dapat dipahami oleh pemakai laporan keuangan.

Perlu diingat bahwa, tidak ada observasi yang sempurna terhadap kebijakan manajerial mengingat tidak semua kebijakan manajerial dapat diobservasi oleh pemakai laporan keuangan.


Artikel Terkait:

Martdian Ratna Sari - Penalaran Strategis Mendeteksi Kecurangan Laporan Keuangan