Cara Terbaik Memotong Gaji

Pemotongan gaji karyawan tanpa didahului tindakan serupa oleh level tertinggi akan menimbulkan kekhawatiran karyawan dan gagalnya usaha perusahaan melakukan perbaikan.

RICKY VIRONA MARTONO
Odoo image and text block



Oleh: Ricky Virona Martono – Core Faculty PPM Manajemen


*Tulisan ini dimuat di Majalah Pajak Volume LXXIX/2020

Pemotongan gaji yang dilakukan secara mendadak akan menimbulkan efek kekhawatiran karyawan, ketidakpercayaan kepada atasan, dan demotivasi.

Pandemi Covid-19, berdampak pada krisis ekonomi, berbagai perusahaan berusaha (bahkan, terburu-buru) melakukan efisiensi. Pada akhirnya, demi menghindari pemutusan hubungan kerja (PHK), perusahaan melakukan pemotongan gaji karyawan.

Bahkan beberapa klub sepak bola elite Eropa ikut memotong gaji para pemainnya, sebut saja FC Barcelona dan Juventus. Besarannya bervariasi, di mana karyawan yang lebih senior atau gaji terbesar, mengalami besaran pemotongan gaji yang lebih besar pula.

Di Indonesia sama saja, kita paham bahwa menurut data historis, krisis ekonomi relatif berulang, yaitu pada tahun 1998, 2008, dan 2020. Latar belakangnya beragam, dampaknya bagi Indonesia pun tidak sama besarnya. Namun demikian intinya tetap sama, perusahaan harus bertahan dengan pendapatan yang menurun.

Sebelum memotong gaji karyawan, ada langkah awal yang dapat dilakukan, yaitu melihat struktur biaya dan memangkas pada komponen biaya terbesar. Masalahnya, perusahaan selalu terburu-buru mendorong usaha efisiensi dan cost reduction ketika krisis datang.

Karyawan pun dikirim ke pelatihan selama satu-dua hari dengan harapan karyawan langsung memperoleh ide mengenai usaha efisiensi yang dapat diterapkan di perusahaan dan memberi manfaat besar dalam waktu cepat.

Jika perlu, biaya-biaya administrasi atau tunjangan harian dipotong demi efisiensi. Dengan jumlah karyawan yang besar, maka akumulasi pemotongan tunjangan akan memberi dampak langsung pada faktor biaya dengan cepat.

Dalam setiap munculnya krisis ekonomi, langkah terburu-buru ini selalu berulang. Perusahaan baru merasa kepepet setelah krisis datang. Sebenarnya, budaya efisiensi harus dimulai pada kondisi ekonomi normal, dan dirasakan manfaatnya pada masa krisis.

Di tengah-tengah kondisi krisis dan terburu-buru inilah, cara “terbaik” dan “tercepat” adalah melakukan PHK dan/atau pemotongan gaji.

Undang-Undang Ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2003 Pasal 158, intinya menyatakan bahwa PHK dapat dilakukan jika karyawan terbukti terlibat tindak kriminal. Kemudian pada Pasal 165 dinyatakan bahwa PHK hanya dapat dilakukan karena perusahaan pailit. Dengan regulasi tersebut, mau tidak mau, pemotongan gaji menjadi salah satu pilihan. Yang paling ideal adalah tidak meneruskan karyawan dengan status kontrak.

 

Langkah pemotongan

Lalu, bagaimana jika perusahaan terpaksa melakukan pemotongan gaji? Kita dapat melakukan benchmark ke beberapa organisasi atau perusahaan bagaimana langkah-langkah dalam melakukan pemotongan gaji.

Pertama, level teratas organisasi wajib mempersiapkan dan mengeksekusi strategi penghematan biaya dan meyakinkan karyawan bahwa kondisi organisasi/perusahaan mampu bertahan melewati krisis. Selain itu perlu disampaikan potensi pemasukan (sales) perusahaan selama krisis dan kondisi keuangan yang menunjukkan kondisi perusahaan aman.

Kedua, pemotongan gaji perlu menunjukkan kepedulian level teratas organisasi/perusahaan akan adanya sense of crisis. Pada tahun 1998, beberapa perusahaan di Indonesia melakukan pemotongan gaji pada level direksi terlebih dahulu. Pada tahun 2020, Garuda Indonesia menghapus tunjangan direksinya. Ini adalah langkah direksi untuk menunjukkan sense of crisis, meskipun mungkin saja jumlahnya tidak seberapa dibanding biaya operasional perusahaan.

Bagaimana mungkin level teratas organisasi tidak memulai potongan gaji dirinya sendiri, tapi langsung mendorong/mengajak/menganjurkan bawahannya melakukan hal tersebut. Pemotongan gaji karyawan tanpa didahului tindakan serupa oleh level tertinggi akan menimbulkan kekhawatiran karyawan akan kondisi keuangan perusahaan dan gagalnya usaha-usaha perusahaan melakukan perbaikan.

Jika kondisi memaksa, maka pemotongan gaji barulah diterapkan secara bertahap pada level-level di bawah direksi. Langkah terakhir adalah memotong gaji karyawan pada level menengah. Sementara itu, gaji karyawan pada level bawah sedapat mungkin dipertahankan.

Langkah ketiga dilakukan bersamaan dengan langkah pertama dan kedua, yaitu direksi perusahaan melakukan usaha-usaha yang dapat menumbuhkan optimisme karyawan.

Pemotongan gaji karyawan yang dilakukan secara mendadak melalui pengumuman, misalnya melalui e-mail, akan menimbulkan efek kekhawatiran karyawan. Karyawan menjadi tidak percaya kepada atasan dan akhirnya menimbulkan demotivasi karyawan.

Strategi tanpa langkah-langkah yang baik akan menunjukkan bahwa sikap manajerial perusahaan tidak berusaha merangkul karyawan terlebih dahulu.

Artikel Manajemen Terkait:

Ricky Virona Martono - Tourism Supply Chain

Ricky Virona Martono - Rantai Pasok dan Identitas Negara 

Ricky Virona Martono - Tantangan Supply Chain Vaksin Korona di Indonesia

Ricky Virona Martono - Strategi Efisiensi di Tengah Krisis Ekonomi

Ricky Virona Martono - Logistik Militer: Perang Era Modern

Ricky Virona Martono - Supply Chain Masa Pandemi: Masih Strategi Jadul

Ricky Virona Martono - Peluang di Kutub Utara

Ricky Virona Martono -  "City Transportation" di Indonesia

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.