Branchless Banking di Indonesia: Sebuah Ilusi?

Branchless banking merupakan layanan keuangan yang menggunakan sarana teknologi digital, seperti misalnya telepon seluler dan mesin EDC (Electronic Data Capture), melalui pihak ketiga (agen).

PPM MANAJEMEN, FITRI SAFIRA
Odoo image and text block

 

Oleh: Fitri Safira M.M.Trainer, Jasa Pengembangan Eksekutif PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di Majalah BUMN Track No. 119 November 2017 p. 46

Isu tentang inklusi keuangan telah menjadi bahasan hangat di berbagai forum. Presiden Joko Widodo sendiri telah mengemukakan bahwa per tahun 2019, 75% penduduk Indonesia telah memiliki akses terhadap perbankan, hal itu disampaikannya pada Indonesian Fintech Festival and Conference, menjelang akhir 2016 lalu.

Tingkat inklusi keuangan di Indonesia memang tergolong rendah. Pada tahun 2014, tingkat inklusi keuangan di Indonesia hanya 36%. Padahal negara tetangga dalam kawasan regional Asia Tenggara memiliki tingkat inklusi yang jauh lebih tinggi, seperti Malaysia dan Singapura misalnya, dengan financial inclusion index masing-masing sebesar 81% dan 96%.

Melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI), Indonesia telah mencanangkan Strategi Nasional Keuangan Inklusif guna meningkatkan inklusi keuangan Indonesia. Salah satu upaya yang dilakukan yaitu dengan membuat program Layanan Keuangan Digital (LKD) dan Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif (Laku Pandai) atau biasa dikenal dengan branchless banking.

Branchless banking merupakan layanan keuangan yang menggunakan sarana teknologi digital, seperti misalnya telepon seluler dan mesin EDC (Electronic Data Capture), melalui pihak ketiga (agen). Jasa yang ditawarkan melalui branchless banking di antaranya adalah basic saving account (BSA), kredit mikro, dan asuransi mikro. Branchless banking ditujukan untuk populasi yang belum tersentuh perbankan. Melalui branchless banking, masyarakat yang belum tersentuh perbankan dapat menikmati layanan keuangan berupa penyimpanan dana melalui BSA, melakukan pembayaran cicilan maupun tagihan, melakukan pembelian token listrik, pulsa, dsb, serta pengiriman dana.

Berbeda dengan branchless banking, LKD hanya menyediakan produk berupa uang elektronik, di mana seluruh masyarakat dapat menikmati produk tersebut. Untuk dapat menikmati produk uang elektronik tersebut, nasabah dapat melakukan transaksi melalui agen individu yang telah terdaftar sebagai agen digital banking yang bekerja sama dengan bank melalui aplikasi uang elektronik pada smartphone-nya.

Upaya ini sebenarnya tergolong cukup berhasil. Per Desember 2016, program branchless banking ini berhasil menambah dana pihak ketiga sebanyak Rp93.79 miliar dengan jumlah nasabah sebanyak 1.948.995 dan melibatkan sebanyak 160.489 agen. Pada akhirnya, tingkat inklusi keuangan Indonesia pun meningkat menjadi 67% per 2016. Namun demikian, agaknya angka-angka ini masih merupakan suatu hal yang semu.

Hasil riset yang dilakukan oleh MicroSave Indonesia mengindikasikan bahwa, 90% nasabah branchless banking merupakan kelompok masyarakat yang telah menjadi nasabah perbankan umum, dan memiliki rekening di bank komersial. Sehingga, dapat dikatakan bahwa sebenarnya program branchless banking ini belum dapat menjangkau target pengguna yang sesungguhnya, yakni kelompok masyarakat yang memang benar-benar belum tersentuh perbankan (unbanked population).

Apabila ditelaah lebih lanjut, terdapat beberapa hal yang mungkin menjadi penyebab lambatnya penetrasi branchless banking pada target pengguna. Pertama, terkait dengan awareness. Masyarakat yang belum tersentuh perbankan biasanya merupakan penduduk yang tinggal di daerah terpencil, tertinggal, dan berada di perbatasan terluar Indonesia. Akses terhadap informasi pun terbatas, menyebabkan mereka tidak mengetahui tentang layanan keuangan digital maupun branchless banking.

Penyebab lainnya yang mungkin menghambat penetrasi branchless banking terletak pada aspek adopsi teknologi. Mereka yang belum tersentuh perbankan sangat mungkin untuk mengalami proses adaptasi terhadap teknologi yang tidak mudah. Selanjutnya, isu trust dan risk menjadi hal yang juga penting. Apabila agen branchless banking tidak memiliki kualitas personal yang baik, maka akan sulit bagi calon nasabah untuk dapat memercayakan uangnya kepada agen tersebut.

Di sisi yang lain, mereka yang terbiasa untuk memegang uang dalam bentuk fisik pun akan berat untuk membuka rekening melalui branchless banking, karena adanya perceived risk bahwa uang yang mereka titipkan memiliki kemungkinan untuk tidak dapat dicairkan kembali.

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.