Bermimpi Besar

Mimpi besar adalah sebuah cita-cita yang bisa menggerakkan orang di dalamnya untuk bisa terus menghidupkan mimpi tersebut, dan kalau mimpi ini diceritakan pada orang lain akan mendapatkan dukungan banyak pihak.

MARIA NAINGGOLAN
Odoo image and text block




Oleh: Maria Nainggolan – Trainer, Program Pengembangan Eksekutif PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di SWA Online

Suatu ketika, tak sengaja saya mendengar obrolan dari meja sebelah di sebuah kafe, kira-kira seperti ini: “sudah baca email belum? Minggu lalu bos besar meminta semua karyawan untuk menyampaikan visi perusahaan untuk tahun 2025, 2035 sampai 2045.” Mendengar hal itu kepala saya mendadak langsung terasa berat, saat itu, membayangkan perusahaan saya, membayangkan tahun 2025-2045 saya tidak mendapatkan gambaran alias blank.

Tidak lama sejak kejadian di kafe, saya mengikuti suatu perayaan besar sebuah perusahaan platform marketing. Deretan mobil super luxury dipajang di acara itu, sebut saja Ferrari, Lamborghini, Porsche, Mercedes seri premium, Mustang, dan lain-lain. Mobil ini dimiliki oleh setiap orang yang telah bekerja keras selama 2-5 tahun saja, dan murni 100% dibeli dari pendapatan mereka yang dihasilkan dari perusahaan tersebut, atau mereka menyebutnya dengan istilah Self-Made, bukan dari hasil warisan atau gabungan dari pendapatan lain-lain.

Yang menarik adalah, ada satu kesamaan dalam setiap testimoni dari seluruh orang sukses di acara tersebut, “Anda perlu bermimpi besar, bertindak besar, dan berjiwa besar“ digaungkan berulang-ulang sepanjang acara.

Awalnya adalah sebuah mimpi.

Kita mungkin pernah membaca kisah-kisah perusahaan sukses dunia saat ini yang diawali dari mimpi pemiliknya beberapa tahun bahkan berpuluh tahun silam.  Beberapa nama yang saat ini sering diperbincangkan seperti Jack Ma, Jeff Bezos, Bob Reina, dan Elon Musk, untuk yang terakhir ini bahkan mimpinya super-super besar, yaitu ingin membawa manusia bumi pindah ke Mars.

Mimpi harus besar supaya kalaupun tidak kesampaian seratus persen jatuhnya juga masih ditempat yang enak. Misalnya Anda mimpi memiliki restoran mewah yang menyediakan kepiting segar terbaik yang tersebar di Asia Tenggara. Bandingkan dengan Anda bermimpi memiliki warung makan di sekitar rumah Anda.  Beda tegas keduanya adalah pada tindakan yang akan diambil selanjutnya.  Dan bila tindakan itu dilakukan, pastinya hasilnya juga berbeda.

Mengapa sukar sekali bermimpi besar?

Singkat cerita, saya teringat lagi dengan lanjutan kisah di kafe beberapa waktu lalu, kira-kira demikian “ …eh tahu tidak, hari ini bos besar kirim ulang email serupa, rupanya dari kemarin belum satupun karyawan yang merespons.” ujar mereka sambil tertawa-tawa.

Kita seringkali dihadapkan pada realita kehidupan, waktu kuliah mimpi kalau sudah kerja langsung beli mobil, ternyata boro-boro mobil, buat bayar uang kos saja sudah habis. Mau pindah kerja ke tempat baru sudah tidak berani, karena harus melunasi pinjaman di kantor dulu yang sudah menumpuk. Hidup bertahun-tahun pada keadaan demikian membuat kita sudah lupa pada mimpi awal.

Sama halnya dengan mayoritas karyawan saat ditanya visi 5 atau 10 tahun, baginya itu seperti membayangkan mimpi besar, sesuatu yang sudah tidak pernah dipikirkan, karena terbiasa hidup dengan jangka pendek, karena perusahaan juga tidak bisa memperlihatkan seperti apa jangka panjang itu. Obrolan manajemen hanya sebatas pencapaian target bulanan tanpa bisa memberi dukungan bagaimana cara mencapai target tersebut, program efisiensi dimana-mana, kurang sosialisasi mimpi besar di setiap pertemuan karyawan.

Lalu siapa yang harus bermimpi besar dalam sebuah organisasi? Apakah semua karyawan? Apakah manajemen puncak? Apakah pemilik saham?  Karena saat ini banyak organisasi besar yang sudah pernah memasuki masa kejayaannya sukar untuk bisa kembali mengulang sukses bahkan harus bersiap memasuki siklus decline dan hidup dengan pendapatan pas-pasan.

Mimpi besar adalah mimpi yang tidak mengenal batas waktu. Banyak mimpi hanya seputar pada kepemilikan sesuatu, mobil, rumah, dan apartemen misalnya. Kalau sudah tercapai kita merasa puas dan lupa bahwa hal-hal tersebut bisa pelan-pelan habis kembali.

Mimpi besar adalah sebuah cita-cita yang bisa menggerakkan orang di dalamnya untuk bisa terus menghidupkan mimpi tersebut, dan kalau mimpi ini diceritakan pada orang lain akan mendapatkan dukungan banyak pihak. Lagi-lagi saya belajar ternyata mimpi yang didasari dari keinginan untuk mengubah suatu kehidupan ke arah yang lebih baik itu jauh lebih bisa menjaga api supaya tidak padam, atau disebut dengan istilah dendam positif.

Apa itu dendam positif? Contoh Anda mengingat kembali masa kecil saat melihat kejadian orang tua Anda “rela” tidak makan enak, tidak bermewah-mewah demi mengutamakan anaknya. Contoh lain misalnya orang tua Anda punya uang banyak, namun tidak bisa “menikmatinya” karena harus bekerja banting tulang sampai sakit lalu meninggal.  Dari kedua contoh di atas, Anda kemudian bermimpi akan bekerja dengan sangat baik, menggunakan waktu dengan baik, dan melakukan hal-hal produktif untuk bisa mengangkat ekonomi keluarga di atas rata-rata.

Penemu Whatsapp, Jan Koum, juga menggunakan dendam positif, yaitu saat ia dan ibunya bermigrasi ke Amerika. Jan bekerja sebagai tukang sapu dan ibunya sebagai baby sitter.  Karena mahalnya biaya bertelepon, Jan tidak bisa menghubungi ayahnya yang tinggal di Ukraina. Jan bermimpi besar akan membuat saluran komunikasi murah yang semua orang miskin bisa berkomunikasi tanpa ada interupsi apapun termasuk iklan.

Kembali ke cerita awal, jadi bagaimana organisasi bisa punya mimpi yang besar? Para pimpinan, terutama pimpinan puncak di organisasi, harus bisa menemukan dendam positif  yang bisa menjadi motor penggerak organisasi untuk terus maju ke depan.

Ayo temukan mimpi besar perusahaan Anda.