Menghidupkan Budaya Organisasi yang Adaptif Versi Blue Bird

FLORA FEBRIANINDYA

Mendengar kata ‘kompetitor’ bisa jadi membuat sebagian pimpinan was-was. Terlebih kompetisi antara organisasi lama yang dulunya nomor satu, kemudian bertemu muka dengan gempuran perusahaan baru berbasis teknologi. Yang tadinya memimpin pasar, kini justru profitnya turun drastis. Loyal customer pun pindah haluan ke layanan yang dianggap lebih praktis juga ekonomis.

Banyak sekali contoh bisnis yang tak mampu membendung kompetitor baru. Teknologi benar-benar merubah cara pandang dan selera pelanggan. Lalu apa yang harus dilakukan oleh perusahaan yang usianya sudah cukup matang untuk tetap bisa bertahan? Kuncinya ada pada budaya yang adaptif, selaras dengan kondisi eksternal dan tren yang terus bergerak.

Mari tengok Blue Bird. Perusahaan taksi yang sudah puluhan tahun berdiri dan gagah memimpin pasar. Sekian lama menjadi andalan pelanggan, Blue Bird menghadapi turbulensi tahun-tahun belakangan karena hadirnya moda transportasi baru berbasis online. Perusahaan taksi lainnya juga mengakui bisnis taksi konvensional semakin lesu. Imbasnya, PHK massal pun tak terelakkan.

Apa yang dilakukan Blue Bird? Ternyata kuncinya cerdik membidik potensi dan menggerakkan kolaborasi. Jika perusahaan armada taksi lain kalah saing, Blue Bird justru ambil langkah menjalin kerjasama baik dengan sang kompetitor. Kerjasamanya dengan Go-Car pada aplikasi Go-Jek menjadi bukti. Pengguna layanan Go-Car pun bisa dijemput dengan taksi Blue Bird dengan tarif sama.

Terobosan lainnya adalah Blue Bird bekerjasama dengan Kementerian Pariwisata. Layanan Blue Bird yang tersebar di banyak kota besar Indonesia berpotensi membantu misi Kemenpar untuk mempromosikan pariwisata Indonesia. Armada Blue Bird diberikan stiker ‘Wonderful Indonesia’ dan peletakan majalah Mutiara Biru yang mengekspos keindahan Indonesia.

Para pengemudi, terlebih di Bandara juga diberdayakan untuk memiliki pengetahuan mengenai destinasi pariwisata setempat. Langkah ini mengangkat peran driver, tak hanya sekedar mengemudi namun menjadi ‘Service Ambassador’ karena menjadi orang pertama yang melayani turis setibanya di bandara. Kolaborasi yang jeli dan menguntungkan kedua pihak.

Apa yang dilakukan Blue Bird menjadi bukti nyata jika budaya organisasi perlu terus diperbarui. Memegang nilai-nilai organisasi, sambil terus menyelaraskannya dengan tren dan kondisi saat ini. Agar mampu efektif, budaya organisasi yang adaptif juga harus mampu disampaikan ke seluruh elemen karyawan. Diterjemahkan menjadi kinerja perilaku yang berdampak pada kinerja organisasi, dan mampu untuk dievaluasi berkala.

Mari menggali lebih jauh mengenai bagaimana membangun budaya organisasi yang adaptif! Menghadirkan para pakar dari perusahaan ternama Indonesia, memberikan banyak ilmu, gagasan dan inspirasi positif untuk kemajuan organisasi pada seminar ‘Praktik Mengelola SDM dalam Penerapan Budaya Organisasi Adaptif’ yang akan diselenggarakan pada 18-19 April 2018.

Untuk pendaftaran dan informasi, silahkan hubungi nomor telepon 02131909224 atau Whatsapp 089637344646. (FLO)

 

Sumber Foto: CIO.com

Odoo image and text block