Membangun Budaya Organisasi yang Millennial-Friendly, Sudahkah Dimulai?

FLORA FEBRIANINDYA

Bukan hal yang mengejutkan lagi jika tak sampai 2 tahun ke depan, milenial akan semakin dominan dalam populasi karyawan. Waktu yang dirasa cukup terbatas, terlebih untuk pembenahan budaya yang sudah mengakar bertahun-tahun. Milenial telah masuk di berbagai lini, dan cepat atau lambat akan menerima estafet kepemimpinan. Adakah ‘cara cepat’ untuk membuat konsep penyesuaian budaya organisasi yang lebih kekinian dan cocok bagi para generasi muda ini?

Mari kita jabarkan terlebih dahulu beberapa kriteria yang sebenarnya diinginkan milenial. Forbes menjelaskan jika kaum muda tak ingin adanya hubungan kaku satu arah. Istilahnya bukan lagi bos atau atasan, melainkan coach. Coach diharapkan mampu membantu milenial mengembangkan dirinya, baik sebagai bagian dari organisasi maupun individu.

Yang kedua adalah work-life balance. Kelonggaran jam masuk dan waktu pulang yang fleksibel rupanya menjadi sesuatu yang dicari milenial. Begitu juga kebijakan bekerja dari rumah atau bekerja tanpa ke kantor yang kini sudah mulai banyak diberlakukan. Ketersediaan alat penunjang kerja dengan teknologi terkini serta pemanfaatan internet, media dan gadget yang optimal juga menjadi harapan milenial.

Bukan hanya gaji, milenial mencari pengembangan diri dan pekerjaan yang memiliki value atau makna dalam kehidupannya. Menjadi perusahaan yang profesional sekaligus bersahabat, fokus pada pengembangan bakat dan minat, melibatkan karyawan dalam aktivitas kebersamaan, juga mendorong karyawan untuk memaksimalkan potensi dengan dukungan penuh.

Birokrasi bukan lagi sesuatu yang dianggap keharusan. Sekat antara karyawan dan pimpinan dirasa ketinggalan zaman. Berganti dengan kemudahan akses komunikasi, koordinasi yang lebih efektif dan ringkas, serta pemberian feedback langsung adalah yang diharapkan milenial. Generasi yang cakap teknologi ini juga dengan singkat mampu menemukan argumentasi serta referensi mengenai beragam aspek dalam pekerjaannya. Hal ini juga perlu dimaknai dengan kultur organisasi yang lebih cair.

Bagaimana implementasinya di perusahaan Anda? Marilah dimulai dengan kata kunci: ADAPTASI. Perlu adanya penyegaran budaya agar perusahaan bisa terus maju dengan strategi-strategi terkini. Rumusan ide dan konsep pembaruan yang sesuai, serta mampu diinternalisasikan dengan efektif hingga ke lini terbawah perusahaan. Bukan langkah instan dan sebentar, melainkan butuh cara berkesinambungan yang serius digarap.

Untuk membantu perusahaan dalam mempersiapkan dirinya, PPM Manajemen memiliki solusi ampuh membangun budaya organisasi yang optimal, sebagai tempat berkembangnya para milenial unggulan. Melalui program HCNC 2018: How Millennials are Reshaping Corporate Culture?, peserta akan dibimbing untuk mendesain program pengembangan yang sesuai dengan organisasi masing-masing. Harapannya, peserta akan pulang dengan membawa rancangan strategi Human Capital yang tepat sesuai dengan personal value milenial, serta pengetahuan yang lebih tajam mengenai model kepemimpinan masa depan.

HCNC 2018 akan diselenggarakan pada 5-6 September 2018 di Ayana Midplaza, Jalan Jenderal Sudirman Kav. 10-11 Jakarta Pusat. Konsep acara yang sangat inovatif, menggabungkan experiential learning yang seru dan penuh insight, hasil riset dari Pusat Kajian PPM Manajemen, serta sharing praktisi ternama di bidangnya.

Untuk informasi dan pendaftaran, hubungi kami melalui Tajudin/Melia di nomor telepon 021-31909224, email seminar@ppm-manajemen.ac.id atau pme.ppm@gmail.com, dan Whatsapp kami di nomor 089637344646. Kami tunggu kehadiran Anda! (FLO)