• July  2014
    Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
       
      1 2 3 4 5 6
    7 8 9 10 11 12 13
    14 15 16 17 18 19 20
    21 22 23 24 25 26 27
    28 29 30 31  
  • Strategi Bersaing dan Tantangan Pengimplementasinya

    Rifani Budi Kristanto

    Perancangan strategi bersaing semakin dibutuhkan, hal ini terkai dengan keinginan perusahaan untuk memiliki pedoman dalam pengambilan keputusan, baik pada level korporat, level bisnis, ataupun level fungsional. Strategi sendiri menurut Gurowitz (gurowitz.com/articles/Strategy.pdf) memiliki definisi sebagai “Rencana yang berorientasi ke depan untuk berinteraksi dengan lingkungan yang kompetitif untuk mencapai tujuan perusahaan.”

    Seiring dengan maraknya tren perusahaan dalam mem-formal-kan strateginya, sumber daya yang digunakan untuk menyusun sebuah strategi bersaing menjadi sebuah alokasi wajib bagi perusahaan. Banyak yang merancang sendiri strategi bersaingnya, namun tidak sedikit yang merasa lebih baik menggunakan tenaga konsultan.

    Namun seringkali sumber daya yang telah digunakan untuk merancang strategi bersaing berakhir sia-sia. Setelah proses penyusunan strategi bersaing yang memakan waktu, tenaga dan terkadang juga biaya untuk membeli data atau membayar konsultan, para esekutif tenggelam dalam rutinitas sehari-hari. Didera oleh kesibukan para eksekutif tidak (sempat) atau juga mungkin tidak merasa perlu mengindahkan arahan strategi yang telah disusun. Strategi bersaing yang hebat dan seringkali juga disusun dengan “indah” (format, cetakan dan bahasanya) itu hanya tersimpan dalam laci meja, lemari atau bahkan dalam my document di computer para eksekutif. Dengan kata lain strategi bersaing itu tidak diimplementasikan.

    Beberapa studi menyatakan bahwa sedikit korelasinya antara formulasi strategi dengan eksekusi strategi. Misalnya sebuah studi yang dilakukan Sterling (smocksterling.com/comm/pdf/SS-C-013.pdf) menemukan bahwa hampir 70% dari perancangan strategi tidak pernah berhasil diimplementasikan. Majalah bisnis terkemuka Fortune bahkan menyatakan bahwa kurang dari 10% dari formulasi strategi yang efektif dieksekusi secara efektif.

    Sebuah artikel yang dimuat di situs sekolah bisnis Wharton (http://knowledge.wharton.upenn.edu/) menyebutkan bahwa ada tiga alasan yang membuat strategi bersaing yang prima menjadi layu: (1) eksekusi, (2) eksekusi, dan (3) eksekusi. Selain itu, studi lain menunjukkan bahwa paling tidak ada tujuh penyebab strategi tidak terimplementasi. Pertama adalah perubahan pasar yang tidak diantisipasi. Strategi seringkali gagal akibat dari perubahan yang terjadi di pasar bahkan sebelum strategi diimplementasikan, hal ini kemungkinan besar terjadi pada industri yang berbasis tekhnologi, perubahan tekhnologi yang terus menerus membuat daur hidup produk menjadi pendek, sehingga kondisi pasar pada waktu perancangan strategi dan implementasi dapat berubah dengan drastis. Melakukan riset secara berkala merupakan salah satu cara untuk menanggulangi dampak dari perubahan pasar, namun cara yang paling efektif adalah dengan perancangan strategi yang fleksibel, sehingga strategi dapat berubah dari waktu ke waktu berdasarkan dengan situasi lingkungan.

    Kedua adalah kompetitor merespon strategi dengan cepat. Di tengah kondisi persaingan yang kompetitif, respon dari pesaing seringkali sudah terjadi bahkan ketika perusahaan baru melakukan implementasi terhadap strategi yang dirancang, sehingga seringkali implementasi strategi menjadi tidak efektif. Melakukan perancangan strategi dengan menyadari posisi perusahaan di tengah persaingan merupakan salah satu cara meminimalisir kondisi ini, sehingga perusahaan memiliki pedoman yang jelas dalam merumuskan strategi bersaingnya.

    Ketiga, perusahaan memiliki sumber daya yang terbatas untuk implementasi. Seringkali strategi yang dirancang tidak mempertimbangkan kebutuhan sumber daya dalam pengimplementasinya, sehingga banyak strategi ‘kehabisan bensin’ sebelum implementasi strateginya tercapai secara efektif. Melakukan evaluasi finansial secara simultan dengan perancangan strategi tentunya akan membantu permasalahan kekurangan sumber daya dengan baik.

    Keempat, tidak diterimanya atau tidak dimengertinya strategi secara luas. Seringkali strategi tidak dimengerti atau diterima oleh semua lapisan organisasi terutama untuk level dibawah manajer, bahkan strategi bisnis seringkali dipandang sebagai ‘ide pemilik’ sehingga seringkali pemahaman tentang strategi bisnis tersebut hanya terbatas pada kalangan senior manajer ataupun direksi. Kurangnya penerimaan dan pemahaman tentunya dapat menghambat implementasi dari strategi, karena setiap orang tidak memiliki gambaran yang jelas tentang hal-hal yang diinginkan top management sehingga kegiatan hanya berfokus pada pekerjaan sehari-hari.

    Cara paling efektif untuk mengatasi masalah kurangnya penerimaan dan pengertian tentang strategi adalah dengan melibatkan sebanyak mungkin elemen dari organisasi dalam perancangan strategi, dengan melibatkan banyak elemen dari organisasi maka hal tersebut akan membuka peluang adanya diskusi atau bahkan tawar menawar dalam perancangan strategi, sehingga, lebih sulit untuk tidak mengimplementasikan sesuatu dimana kita terlibat dalam menyusunnya bukan?.

    Kelima, tidak ada orientasi waktu dan keunikan. Banyak strategi yang dibuat tidak berorientasi waktu, artinya strategi yang dirancang tidak memiliki tenggat waktu impelementasi yang jelas. Banyak pula strategi yang dirancang tidak memiliki banyak perbedaan dengan strategi yang dirancang oleh perusahaan-perusahaan lain. Untuk mengatasi masalah ini perusahaan harus mencari value baru yang belum dilakukan oleh kompetitor, hal ini dapat dilakukan melakukan analisa pasar, sehingga dapat diketahui peluang-peluang apa saja yang ada dan belum dieksploitasi oleh pesaing, dan menggunakan kekuatan perusahaan untuk mengeksploitasi peluang tersebut, hal ini dapat membedakan strategi perusahaan dengan perusahaan lain.

    Keenam, kurang fokus. Pada strategi bisnis terdapat beberapa macam inisiatif implementasi, dan perusahaan ingin melakukan banyak hal sekaligus, hal ini seringkali menyebabkan perusahaan kurang fokus dalam implementasi, hal ini berimbas kepada penggunaan sumber daya yang kurang terencana. Untuk mengatasi masalah tersebut, seiring dengan dirancangnya strategi bisnis, perlu pula dirancang sebuah action plan, yang akan berguna untuk menentukan prioritas dalam implementasi strategi, implementasi juga akan membantu menentukan siapa mengerjakan apa, sehingga tidak ada pengerjaan yang saling tumpang tindih satu sama lain.

    Terakhir, kualitas strategi yang buruk. Terkadang implementasi tidak berjalan dengan baik karena kualitas dari strategi yang dirancang memang buruk. Buruk disini dapat berarti strategi yang dirancang salah dalam menentukan posisi kompetitif perusahaan atau salah mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan perusahaan dibandingkan dengan pesaing.

    Merancang strategi tentunya merupakan sebuah hal yang penting, terutama untuk menentukan arah atau pedoman bagi pengambilan keputusan, namun hal yang lebih penting adalah memastikan implementasinya.Tanpa implementasi, eksekutif bak bermain game simulasi di komputer.