• September  2014
    Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
       
    1 2 3 4 5 6 7
    8 9 10 11 12 13 14
    15 16 17 18 19 20 21
    22 23 24 25 26 27 28
    29 30  
  • Menakar Efek Sistemik Isu Eksternal

    Menjelang pengumuman kinerja keuangan perusahaan-perusahaan publik, kini dunia usaha domestik kembali dihadapkan pada situasi yang kurang menguntungkan. Mulai dari dampak bencana gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Jepang, perang yang terjadi di Libya hingga finalisasi rencana penghapusan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) oleh pemerintah melalui Perpres tentang Kebijakan Energi Nasional. Tak jarang bahkan beberapa isu tersebut memberikan dampak yang cukup signifikan bagi kinerja keuangan perusahaan. Sebut saja hambatan investasi dari sejumlah perusahaan Jepang pada sektor infrastruktur, hingga kenaikan harga minyak dunia yang menyentuh di atas US$ 100 per barel. Alhasil pekerjaan rumah para pengambil keputusan di sejumlah industri pun kini mulai bertambah. Untuk itu analisa efek sistemik mutlak diperlukan agar manajemen dapat menyesuaikan strateginya demi kelangsungan hidup perusahaan.

    Memahami efek sistemik dari fenomena yang ditimbulkan oleh pihak-pihak di luar perusahaan sebenarnya dititikberatkan pada hubungancausal effectantar-variable dalam perekonomian. Meski terlihat sederhana, namun dalam praktiknya analisa efek sistemik ini memerlukan tingkat ketelitian tinggi. Karena tidak semua isu yang berkembang memberikan pengaruh langsung pada kinerja perusahaan. Pada konteks tersebut pengalaman dan intuisi bisnis dari para pengambil keputusan akan sangat menentukan.

    Salah satu pendekatan awal yang dapat dilakukan adalah dengan mengidentifikasi dampak isu eksternal pada potensi kenaikan inflasi domestik maupun global. Sebagai contoh, rencana pemerintah atas penghapusan subsidi bahan bakar minyak secara langsung akan menimbulkan tanggapan negatif dari pasar. Mulai dari reaksi penolakan hingga tekanan-tekanan pada psikologis pasar. Lebih lanjut, kondisi tersebut akan makin buruk jika pemerintah kurang tegas dalam menentukan tanggal pemberlakuannya. Fenomena ini akan menciptakan kekhawatiran serta potensi aksi spekulan pasar.

    Langkah kedua adalah mengidentifkasi aktivitas-aktivitas inti perusahaan yang terkena dampak isu eksternal tersebut. Proses identifikasi tersebut dilakukan dengan melihat probabilitas pengaruh faktor eksternal pada masing-masing aktivitas inti. Satu pertanyaan yang lazim digunakan adalahԁpakah kehadiran isu akan menghambat kinerja aktivitas inti?Լ/strong>. Jika ditemukan sinyal bahwa isu eksternal akan berdampak pada aktivitas inti baik dalam bentuk penundaan hingga penghentian aktivitas maka manajemen dapat segera mengukur kerugian yang mungkin terjadi baik dalam terminologi kuantitatif maupun kualitatif. Lebih lanjut pengukuran ini mutlak diperlukan agar pengambil keputusan dapat melihat signifikansi dan urgensi dari masing-masing dampak.

    Setelah semua dampak teridentifikasi, para pengambil keputusan dapat memetakan setiap dampak pada empat diagram kejadian yang disusun berdasarkan probabilitas terjadinya peristiwa pada sebuah sumbu (sebut saja sumbu ӹҩ dan kemungkinan kerugian yang akan diderita pada sumbu ӸҮ Langkah ini bertujuan agar manajemen dapat menentukan skala prioritas. Artinya, pengambil keputusan dapat menentukan dampak mana yang harus segera ditanggulangi. Sehingga jika kerugian dalam terminologi keuangan yang dijadikan indikator, maka dampak isu eksternal yang berpotensi menurunkan kinerja perusahaan-lah yang akan menjadi prioritas utama.

    Setelah skala prioritas tercipta, manajemen dapat menyusun beberapa alternatif model mitigasi (mitigasi adalah proses mengupayakan berbagai tindakan preventif untuk meminimalisasi dampak negatif bencana atau masalah yang akan terjadi). Menggunakan contoh rencana penghapusan BBM oleh pemerintah, salah satu model mitigasi yang dapat dilakukan saat ini adalah dengan mencari energi alternatif yang terbarukan berikut cara perolehannya. Artinya pengambil keputusan juga harus menyiapkan strategihedgingyang dapat dilakukan dalam pengelolaan persediaan bahan baku. Alhasil beberapa industri kini terlihat mulai mengantisipasi rencana tersebut dengan menambah persediaan BBM hingga level maksimal yang masih dapat ditolerir. Ini bukan bertujuan untuk melakukan spekulasi, namun lebih pada langkah menjaga stabilitas pasokan energi dalam proses produksi yang dilakukan perusahaan.

    Pada akhirnya, menakar efek sistemik dari isu eksternal juga membutuhkan dukungan dana yang cukup. Dalam konteks inilah efektivitas kebijakan modal kerja perusahaan diuji. Tidak hanya kesiapan dana dalam jumlah yang cukup, namun ketepatan waktu tersedianya dana juga menjadi penentu keberhasilan manajemen dalam mengatasi setiap isu eksternal yang berkembang. Sehingga dengan mekanisme ini, para pengambil keputusan dapat menjaga perusahaan untuk dapat tetap bertumbuh meski dalam kondisi lingkungan yang penuh dengan ketidakpastian. Sukses senantiasa menyertai perusahaan anda!


    * Penulis saat ini adalah Core Faculty di PPM School of Management.
    ** Tulisan ini pernah dimuat dalam Harian KONTAN.

    ***